Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
55 Tahun
#TumbuhBersama masyarakat
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
Gramedia dengan Cordoba dan Dompet Dhuafa Gelar “Happy Family Coloring”: Merayakan Kebersamaan Keluarga Melalui Sedekah Qur’an
23 January 2026

Gramedia dengan Cordoba dan Dompet Dhuafa Gelar “Happy Family Coloring”: Merayakan Kebersamaan Keluarga Melalui Sedekah Qur’an

Jakarta, 20 Januari 2026 — Memasuki awal tahun 2026, Gramedia kembali mempertegas komitmennya dalam kepedulian sosial dengan meluncurkan program “Happy Family Coloring” (HFC). Berkolaborasi dengan Cordoba dan Dompet Dhuafa, inisiatif inklusif ini mengajak seluruh keluarga di Indonesia untuk mengubah momen kreativitas menjadi kontribusi nyata bagi sesama yang membutuhkan.

Program ini merupakan lomba mewarnai online yang ditujukan bagi siswa SD hingga SMP bersama keluarga dari seluruh Indonesia, sekaligus bersedekah dalam bentuk  Mushaf Al-Qur'an untuk didistribusikan kepada masyarakat di wilayah beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Lampung, Riau serta Banten. 

Melanjutkan kesuksesan tahun sebelumnya yang berhasil mengumpulkan total nilai kepedulian sebesar Rp744.275.000, program HFC 2026 hadir dengan misi kemanusiaan yang lebih. Dengan donasi Rp50.000, peserta akan berkesempatan untuk mengikuti lomba mewarnai turut menyumbang Al Qur’an bagi masyarakat.

Lomba ini diselenggarakan secara daring dan terbuka bagi anak-anak jenjang SD hingga SMP. Karya mewarnai dapat diunggah ke media sosial sebagai bentuk keikutsertaan sekaligus untuk mengapresiasi proses kreatif yang dilakukan bersama keluarga. Peserta diberi kebebasan berkreasi dengan berbagai media, seperti crayon, pensil warna, maupun cat air.

Pendaftaran dibuka mulai 20 Januari hingga 31 Maret 2026. Selain berkontribusi dalam aksi sosial, tersedia total hadiah jutaan rupiah bagi para pemenang yang akan diumumkan pada 3 April 2026. 

Dari Swarnadwipa ke Nusantara: Kisah Kemilau Budaya Lima Negeri dalam Sebuah Buku
22 January 2026

Dari Swarnadwipa ke Nusantara: Kisah Kemilau Budaya Lima Negeri dalam Sebuah Buku

Jakarta, 22 Januari 2026 - Penerbit Gramedia Pustaka Utama bersama Putri Bumi Sriwijaya mempersembahkan peluncuran buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri, pada hari Kamis, 22  Januari 2026, bertempat di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta Pusat.  

Acara ini dikemas melalui pergelaran seni yang kontekstual dengan isi buku, sehingga menghadirkan gambaran visual yang dapat memperkaya wawasan. Oleh karena itu, dalam peluncuran buku ini disajikan pula cuplikan isi buku dan berbagai penampilan seni yang memperlihatkan beragam keindahan seni budaya khas Sumatra bagian selatan.  

"Buku ini telah melalui proses panjang yang sangat komprehensif, mulai dari pengumpulan data yang mendalam hingga dokumentasi seluruh tradisi pakaian adat secara mendetail. Kami berupaya menangkap setiap elemen keberagaman budaya di Pulau Sumatra agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang," ujar Andi Tarigan, Chief Editor Gramedia Pustaka Utama.  

Kehadiran buku ini juga mendapat apresiasi dari tokoh masyarakat dan pemerhati budaya, Tantowi Yahya. Beliau memuji kedalaman isi buku yang berhasil memotret kemilau wastra dan perhiasan dari lima provinsi di Sumatra bagian selatan. Namun, beliau juga menitipkan harapan untuk pengembangan literasi budaya Sumatra ke depannya. 

"Saya sangat mengapresiasi terbitnya buku ini sebagai panduan visual sejarah kejayaan kita. Ke depannya, saya berharap akan ada buku lanjutan yang mengupas tuntas mengenai kuliner Sumatra. Mengingat posisinya sebagai pulau yang dikelilingi perairan dan kekayaan alam yang melimpah, potensi kuliner kita adalah warisan budaya yang tak kalah penting untuk dibukukan," tutur Tantowi Yahya. 

Buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri sendiri merupakan wujud nyata dari kepedulian Putri Bumi Sriwijaya dalam memperkaya jejak seni budaya lewat bentuk literasi, sebagai persembahan untuk Indonesia.  

Buku Kena Banjir? Jangan Panik.... Kesalahan Ini Justru Bikin Rusak Total
22 January 2026

Buku Kena Banjir? Jangan Panik.... Kesalahan Ini Justru Bikin Rusak Total

#LiterasiAsik Banjir kembali terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Air naik, rumah terendam, dan saat situasi mulai terkendali, Grameds mungkin menemukan satu pemandangan yang bikin hati langsung turun: buku-buku basah di rak. Sampul menggelembung, halaman saling menempel, dan bau lembap mulai terasa.

Reaksi pertama biasanya panik. Ada yang langsung menjemur buku di bawah matahari, ada yang buru-buru membuka halaman, bahkan ada yang memilih membuangnya. Padahal, tanpa disadari, beberapa langkah ini justru membuat buku rusak total.

Kabar baiknya, buku yang terkena banjir belum tentu harus langsung direlakan asal ditangani dengan cara yang tepat.

Nah ini dia kesalahan yang sering dilakukan saat buku terkena banjir:

Menjemur buku di bawah sinar matahari langsung

Sumber: https://x.com/dorasurvive

Kelihatannya paling cepat, tapi sinar matahari justru bisa membuat kertas mengerut, warna memudar, dan jilid rusak.

Membuka halaman yang menempel secara paksa

Sumber: https://x.com/literarybase

Saat basah, halaman buku biasanya saling lengket. Memaksanya terbuka berisiko merobek kertas dan melunturkan tinta.

Menggosok lumpur atau kotoran

Sumber: https://pemilu.antaranews.com

Air banjir di Indonesia sering membawa lumpur dan kotoran. Menggosok halaman basah justru memperparah kerusakan.

Mengeringkan dengan alat panas

Sumber: https://vt.tiktok.com/ZSaj5vQn2/

Hair dryer atau alat pemanas lain bisa merusak struktur kertas dan membuat buku berubah bentuk.

Cara Lebih Aman Menyelamatkan Buku Basah

Langkah pertama, pisahkan buku dari genangan air sesegera mungkin. Buku yang masih kering sebaiknya diamankan lebih dulu. Jika buku terkena lumpur, bersihkan perlahan dengan air bersih tanpa digosok. Setelah itu, keringkan buku dengan cara didirikan dan dibuka beberapa halaman saja, lalu biarkan udara mengalir. Kipas angin boleh kamu gunakan, selama tanpa panas langsung.

Untuk buku yang masih lembab, kamu bisa selipkan tisu atau kertas penyerap di sela halaman dan ganti secara berkala. Jika jumlah buku banyak dan belum sempat dikeringkan, menyimpannya di freezer bisa menjadi solusi sementara untuk mencegah jamur.

Kapan Buku Perlu Direlakan?

Tidak semua buku bisa diselamatkan. Jika sudah berjamur parah, bau apek tidak hilang, atau kertasnya hancur, merelakan buku mungkin jadi pilihan paling aman agar tidak merusak koleksi lain.

Banjir di Indonesia Datang Berulang, Cerita Jangan Ikut Tenggelam

Di tengah bencana banjir yang kerap terjadi di Indonesia, kehilangan buku mungkin terasa kecil dibanding kerugian lain. Namun bagi Grameds, buku adalah teman belajar, ruang jeda, dan sumber penguatan. Kalau hari ini rak buku harus ditata ulang, mungkin besok saatnya membuka halaman baru. Karena air bisa merendam kertas, tapi cerita, pengetahuan, dan minat baca di Indonesia tidak akan ikut tenggelam.


Sebagai bagian dari ekosistem literasi, Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta buku. Yuk, terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan bersama Gramedia Writers and Readers Forum melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

 

Tak Hanya Kejar Pertumbuhan Ekonomi, Fahd Pahdepie Ajak Publik Setel “Frekuensi” untuk Indonesia 2045
21 January 2026

Tak Hanya Kejar Pertumbuhan Ekonomi, Fahd Pahdepie Ajak Publik Setel “Frekuensi” untuk Indonesia 2045

Jakarta, 11 Januari 2025 — Menjelang perayaan satu dekade menuju Indonesia Emas, strategic storyteller Fahd Pahdepie mengajak masyarakat untuk melihat masa depan bangsa melampaui angka pertumbuhan ekonomi. Dalam acara diskusi dan bedah buku terbarunya, “2045 Hz: Frekuensi Masa Depan Indonesia” di Gramedia Jalma, Blok M, Minggu (11/1), Fahd menegaskan bahwa keberhasilan sebuah bangsa sangat bergantung pada penyetelan ulang "frekuensi" atau resonansi batin antarwarga negara, bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik semata.

Menurut Fahd, narasi menuju 2045 selama ini terlalu didominasi oleh hal-hal yang bersifat tangible atau nyata secara prosedural. Ia berargumen bahwa Indonesia perlu mulai membenahi aspek fundamental yang tidak kelihatan namun sangat menentukan.

“Tanpa penyetelan ulang pada frekuensi yang sama, segala pencapaian angka-angka statistik tidak akan mampu mengubah wajah Indonesia secara batiniah,” ungkap Fahd di hadapan peserta dari berbagai generasi. Ia menjelaskan bahwa frekuensi ini adalah getaran yang melampaui hitungan ekonomi; sesuatu yang hanya bisa dirasakan jika dilakukan secara konsisten oleh seluruh elemen bangsa.

Dalam sesi diskusi yang hangat tersebut, Fahd menyoroti pentingnya kesepakatan kolektif. Baginya, tahun 2045 bukanlah sekadar angka tahun atau destinasi akhir, melainkan sebuah panggung besar di mana setiap anak bangsa harus memahami peran apa yang akan mereka mainkan.

"Saya percaya bahwa kita ngomongin Indonesia itu tergantung frekuensinya. Dan yang harus kita urusin adalah hal yang gak kelihatan supaya kita mulai bisa menantang dan mengurus hal-hal yang kelihatan," tegas Fahd. Melalui buku ini, ia berharap muncul harmoni yang mampu menggerakkan lebih banyak individu untuk berjalan dalam visi yang sama.

Ramainya Buku Aurelie Moeremans di Media Sosial, Tanda Minat Baca Masih Ada?
20 January 2026

Ramainya Buku Aurelie Moeremans di Media Sosial, Tanda Minat Baca Masih Ada?

#HappeningToday Grameds pasti sudah tidak asing dengan buku karya Aurelie Moeremans yang belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Kutipan-kutipan yang terasa dekat, cerita pembaca tentang perasaan setelah membaca, hingga rekomendasi yang dibagikan karena merasa “relate” memenuhi linimasa.

Perbincangan ini jadi menarik karena buku tersebut tidak hanya dibaca, tapi juga dirasakan. Banyak pembaca tidak berhenti di cerita, melainkan ikut membagikan perasaan yang muncul setelah menutup halaman terakhir. Mungkin karena kisah yang diangkat berasal dari pengalaman nyata, ceritanya terasa jujur dan mudah diterima oleh banyak orang.

Di sini, membaca kembali terasa dekat. Buku tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berat atau berjarak, melainkan sebagai ruang untuk berhenti sejenak dan memahami perasaan dengan lebih pelan. Media sosial memang sering menjadi awal pertemuan dengan sebuah buku, tapi pengalaman membacanya tetap memberi ruang bagi kamu untuk benar-benar tenggelam dalam cerita, tanpa perlu terburu-buru.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa minat baca sebenarnya masih ada. Banyak orang hanya menunggu cerita yang terasa dekat dengan kehidupannya. Ketika buku mampu menghadirkan kejujuran dan pengalaman yang manusiawi, membaca pun kembali menemukan tempatnya dalam keseharian.

Perpustakaan Nasional RI juga mencatat perkembangan signifikan dalam upaya literasi masyarakat melalui layanan digital dan dukungan program baca di 2025.


Ketika Kisah Nyata Menyentuh Pembaca

Buku yang lahir dari pengalaman personal sering kali memiliki daya tarik tersendiri. Tidak ada jarak antara penulis dan pembaca karena cerita yang disampaikan terasa manusiawi. Inilah yang membuat banyak Grameds tertarik membaca buku Aurelie Moeremans secara utuh, setelah sebelumnya hanya menemukan potongan kutipan di media sosial.

Rekomendasi Buku untuk Grameds yang Ingin Bacaan yang Relate

Kalau Grameds tertarik dengan buku berbasis kisah nyata atau cerita yang dekat dengan pengalaman hidup, beberapa buku berikut bisa jadi pilihan bacaan dan tersedia di Gramedia:

“Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” – Mark Manson

Buku nonfiksi populer yang mengajak pembaca melihat hidup dengan sudut pandang yang lebih realistis. Pas untuk Grameds yang sedang belajar berdamai dengan tekanan dan ekspektasi.

“Filosofi Teras” – Henry Manampiring

Menggabungkan filsafat Stoikisme dengan contoh kehidupan sehari-hari. Buku ini banyak dipilih pembaca yang ingin memahami diri dan emosi dengan cara yang ringan.

“Laut Bercerita” – Leila S. Chudori

Meski berbentuk fiksi, buku ini sarat emosi dan refleksi. Cocok untuk Grameds yang ingin merasakan cerita mendalam tentang kehilangan, ingatan, dan kemanusiaan.

“Manusia Setengah Salmon” – Raditya Dika

Untuk Grameds yang ingin bacaan lebih ringan tapi tetap relate. Kisah-kisah personal yang dibalut humor ini sering kali terasa dekat dengan keseharian.


Dari Tren ke Kebiasaan

Ramainya buku Aurelie Moeremans di media sosial bisa menjadi pengingat bahwa membaca bukan sekadar tren sesaat. Ketika cerita terasa jujur dan relevan, buku kembali menjadi ruang bagi kamu untuk memahami diri sendiri dengan lebih pelan.

Sebagai bagian dari ekosistem literasi, Gramedia terus mendukung hadirnya rua

ng baca alternatif yang mendekatkan buku dengan keseharian. Yuk, tetap terhubung dengan dunia literasi dan kepenulisan bersama Gramedia Writers and Readers Forum melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.