#HappeningToday Pernah nggak sih, kamu ngerasa capek padahal nggak ngapa-ngapain secara fisik? Atau tiba-tiba mikir, “Kok hidup aku kayaknya gini-gini aja, ya?” Kalau iya, bisa jadi kamu lagi ada di fase yang sering disebut quarter life crisis. Istilah ini makin sering terdengar belakangan. Dari media sosial sampai media nasional, banyak yang membahas kegelisahan usia 20-an fase ketika hidup terasa penuh tanda tanya.
Usia 20-an dan Banyak Pertanyaan
Di usia ini, kamu mungkin mulai mempertanyakan banyak hal. Soal karier, soal hubungan, soal masa depan, bahkan soal diri sendiri. Mau lanjut di jalur yang sekarang atau coba hal baru? Bertahan atau mulai dari nol lagi?
Beberapa artikel di Kompas dan Tribun pernah menyoroti bahwa generasi muda hari ini menghadapi tekanan yang berbeda. Dunia berubah cepat, persaingan makin ketat, dan standar hidup terasa makin tinggi. Wajar kalau akhirnya banyak yang merasa bingung dan ragu. Apalagi ketika ekspektasi datang dari berbagai arah? keluarga, lingkungan, sampai diri sendiri.
Saat Melihat Hidup Orang Lain Terasa Lebih “Maju”
Media sosial sering kali bikin perasaan quarter life crisis makin kuat. Scroll sebentar, kamu bisa langsung lihat pencapaian orang lain: pekerjaan baru, bisnis yang jalan, atau hidup yang kelihatan rapi dan terarah. Padahal, apa yang kita lihat di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang. Tapi tetap saja, rasa membandingkan itu muncul. Akhirnya, muncul pikiran: “Aku ketinggalan jauh, ya?”
Capek Itu Bagian dari Proses
Grameds, penting buat diingat bahwa merasa capek, bingung, dan ragu bukan tanda kamu gagal. Banyak psikolog yang dikutip di media nasional menyebut fase ini sebagai proses alami menuju kedewasaan. Quarter life crisis sering kali muncul karena kamu mulai sadar akan pilihan hidup dan konsekuensinya. Dan kesadaran itu memang nggak selalu nyaman. Kadang, yang kamu butuhkan bukan solusi instan, tapi waktu untuk memahami apa yang sebenarnya kamu inginkan.
Buku Bisa Jadi Tempat Berhenti Sejenak
Di tengah kebingungan, sebagian orang memilih untuk melambat. Salah satu caranya lewat membaca buku. Bukan karena buku punya semua jawaban, tapi karena buku memberi ruang untuk berpikir tanpa distraksi. Lewat novel, kamu bisa merasa ditemani oleh cerita yang relevan dengan hidupmu. Lewat buku nonfiksi, kamu bisa memahami perasaanmu lewat sudut pandang yang lebih tenang dan terstruktur. Membaca itu seperti ngobrol panjang nggak buru-buru dan nggak menghakimi.
Merasa Tidak Sendiri Lewat Cerita
Banyak pembaca bilang, salah satu hal paling menenangkan dari membaca adalah sadar bahwa apa yang mereka rasakan juga dialami orang lain. Bingung soal hidup, takut salah langkah, atau merasa tertinggal semua itu manusiawi. Nggak heran kalau buku-buku bertema kesehatan mental, pencarian makna, dan kisah hidup anak muda makin diminati. Buku hadir bukan untuk menggurui, tapi buat temen nyaman kamu loh
Pelan-Pelan Juga Nggak Salah
Hidup bukan lomba siapa paling cepat sampai. Setiap orang punya waktu dan jalannya sendiri. Kalau sekarang kamu lagi capek, mungkin memang waktunya berhenti sebentar. Ambil napas, kurangi membandingkan, dan beri ruang buat diri sendiri. Kalau buku bisa membantu kamu merasa lebih tenang dan dimengerti, itu sudah cukup berarti. Karena di tengah rasa capek, bingung, dan merasa tertinggal, yang paling penting adalah terus bergerak meski pelan.
Sebagai bagian dari ekosistem literasi, Gramedia terus mendukung hadirnya ruang baca alternatif yang mendekatkan buku dengan keseharian. Yuk, tetap terhubung dengan dunia literasi dan kepenulisan bersama Gramedia Writers and Readers Forum melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.