Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
56 Tahun
#TumbuhBermakna
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
Semesta Buku 2026 Hadir di Surabaya, Hadirkan Berbagai Aktivitas Kreatif dan Diskon hingga 90%
25 May 2026

Semesta Buku 2026 Hadir di Surabaya, Hadirkan Berbagai Aktivitas Kreatif dan Diskon hingga 90%

Surabaya, 20 Mei 2026,  – Gramedia kembali menghadirkan Semesta Buku 2026 di Surabaya sebagai ruang literasi yang mempertemukan buku, komunitas, dan berbagai aktivitas kreatif dalam satu rangkaian acara. Melalui penyelenggaraannya pada 14 - 24 Mei di Convention Hall Tunjungan Plaza 3, Gramedia ingin menghadirkan pengalaman literasi yang lebih dekat dan interaktif bagi masyarakat dari berbagai kalangan.

Selama acara berlangsung, pengunjung dapat menemukan ribuan judul buku dari berbagai genre dengan penawaran menarik, mulai dari diskon hingga 90% hingga flash sale spesial dengan promo terbatas. Kehadiran beragam pilihan buku ini diharapkan dapat memberikan akses bacaan yang lebih luas sekaligus mendorong minat baca masyarakat.

Tidak hanya menghadirkan bazar buku, Semesta Buku Surabaya juga diramaikan oleh berbagai kegiatan seperti talkshow, workshop penulisan, bedah buku, editor’s clinic berupa sesi coaching langsung bersama editor novel, kumpul komunitas, hingga lomba mewarnai. Rangkaian acara tersebut dirancang untuk memberikan ruang belajar, berdiskusi, dan berjejaring bagi para pengunjung yang memiliki ketertarikan pada dunia literasi dan kreatif.

Beberapa sesi akan menghadirkan penulis jebolan Gramedia Writing Project (GWP), yaitu Altami ND dan Ratna Tiana, yang akan berbagi pengalaman serta proses kreatif mereka dalam menulis dan berkarya. Kehadiran mereka diharapkan dapat memberikan motivasi bagi generasi muda untuk mulai berani menulis dan mengembangkan karya mereka sendiri.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Semesta Buku Surabaya juga berkolaborasi dengan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur melalui pameran produk kebahasaan dan kesastraan. Selain itu, akan diselenggarakan kegiatan Krida Duta Bahasa bagi Generasi Muda: Lokakarya Penulisan Esai yang berlangsung dalam tiga gelombang pada 18–20 Mei 2026 di area Semesta Buku. Kegiatan ini terbuka bagi siswa SMA, mahasiswa, komunitas literasi, organisasi kampus atau sekolah, anggota karang taruna, hingga masyarakat umum berusia 16–30 tahun.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya untuk menghadirkan ruang literasi yang tidak hanya berfokus pada membaca, tetapi juga mendorong kreativitas, keterampilan menulis, dan pertukaran ide di kalangan generasi muda.

“Melalui penyelenggaraan ini, kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya mempertemukan buku dan pembaca, tetapi juga menjadi tempat bertemunya ide, kreativitas, dan kolaborasi antar komunitas. Kami berharap setiap pengunjung dapat membawa pulang pengalaman yang bermakna serta semangat untuk terus membaca dan berkarya,” ujar Melvi selaku Content & Business Development Assistant Manager Gramedia.

Semesta Buku merupakan bagian dari gerakan Nusa Membaca, sebuah inisiatif Gramedia untuk memperluas akses terhadap bacaan berkualitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

Informasi lebih lanjut mengenai jadwal dan rangkaian kegiatan dapat diikuti melalui akun Instagram resmi @semestabuku_id dan kanal komunikasi resmi Gramedia.

Semesta Buku 2026 Hadir di Makassar dengan Ragam Aktivitas Literasi dan Diskon hingga 90%
25 May 2026

Semesta Buku 2026 Hadir di Makassar dengan Ragam Aktivitas Literasi dan Diskon hingga 90%

Makassar, 20 Mei 2026  – Gramedia kembali menghadirkan Semesta Buku 2026 di Makassar sebagai bagian dari rangkaian festival literasi nasional yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia. Acara yang berlangsung pada 13 Mei - 1 Juni 2026 di Gramedia Pettarani ini, menjadi ruang literasi yang menggabungkan buku, komunitas, serta berbagai aktivitas kreatif dan edukatif bagi masyarakat. 

Melalui Semesta Buku Bandung, pengunjung dapat menemukan ribuan judul buku dari berbagai genre dengan penawaran harga khusus selama acara berlangsung. Selain menghadirkan pilihan bacaan yang beragam, Semesta Buku juga menjadi ruang interaksi bagi pembaca, penulis, dan komunitas untuk saling berbagi inspirasi dan pengalaman. 

Berbagai aktivitas turut meramaikan penyelenggaraan tahun ini, mulai dari diskusi buku dan karya, silent reading, pelatihan penulisan, bedah buku, hingga kumpul komunitas. Seluruh rangkaian kegiatan disusun untuk menghadirkan pengalaman literasi yang lebih dekat, interaktif, dan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga komunitas kreatif. 

Beberapa sesi juga akan dimeriahkan oleh sejumlah tokoh dan penulis dari berbagai bidang, di antaranya Natasha Rizky, Dr. H. A. S. Chaidir Syam, S.IP., M.H. selaku Bupati Maros, Ahmad Arif, Stebby Julionatan, dan Mawan Belgia. Kehadiran mereka diharapkan dapat memberikan inspirasi sekaligus memperluas diskusi mengenai literasi, kreativitas, dan dunia kepenulisan.

Tahun ini, Semesta Buku juga berkolaborasi bersama Makassar International Writers Festival (MIWF) dan didukung oleh MTN untuk menghadirkan rangkaian acara literasi yang lebih hangat, inspiratif, dan dekat dengan para pecinta buku. Salah satu kegiatan yang menjadi sorotan adalah sesi jalan pagi, membaca, dan mengobrol tentang buku serta dunia penulisan yang berkolaborasi dengan editor penerbit Bhuana Sastra dan komunitas Jalan Bareng.


“Melalui penyelenggaraan ini, kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya mempertemukan buku dan pembaca, tetapi juga menjadi tempat bertemunya ide, kreativitas, dan kolaborasi antar komunitas. Kami berharap setiap pengunjung dapat membawa pulang pengalaman yang bermakna serta semangat untuk terus membaca dan berkarya,” ujar Melvi selaku Content & Business Development Assistant Manager Gramedia.

Dengan jangkauan yang terus berkembang setiap tahunnya, Semesta Buku diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan penerbit, penulis, pembaca, dan komunitas dalam upaya bersama memperkuat budaya literasi di Indonesia.

Informasi lebih lanjut mengenai jadwal dan rangkaian kegiatan dapat diikuti melalui akun Instagram resmi @semestabuku_id dan kanal komunikasi resmi Gramedia.

Gramedia dan Grind Theory Dorong Ruang Diskusi dan Pengembangan Diri bagi Generasi Muda
25 May 2026

Gramedia dan Grind Theory Dorong Ruang Diskusi dan Pengembangan Diri bagi Generasi Muda

Jakarta, 23 Mei 2026 – Gramedia melalui Penerbit Elex Media Komputindo berkolaborasi dengan Grind Theory menghadirkan forum diskusi yang mempertemukan para praktisi industri, entrepreneur, dan content creator untuk membahas pengembangan diri, adaptasi bisnis, hingga peluang membangun impact di era digital pada Sabtu lalu (21/05/26). Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara lintas industri seperti Deddy Corbuzier, Theo Derick, Yosef Adityo Nugroho, Alicia Eva, Marco Putra, Willy Tan, hingga Billy Tanhadi. 

Sebagai media edukasi dan talent management, Grind Theory menghadirkan ruang berbagi pengalaman nyata dari para praktisi yang telah melalui berbagai tantangan dalam perjalanan karier dan bisnisnya. Melalui rangkaian sesi talkshow yang berlangsung sepanjang acara, para pembicara membahas berbagai topik mulai dari personal branding, komunikasi, bisnis digital, kreativitas, hingga cara bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Salah satu sesi dalam acara ini bertajuk “Turning Effort into Results” menghadirkan Theo Derick bersama Yosef Adityo Nugroho selaku Corporate Secretary Director Gramedia. Dalam sesi tersebut membahas bagaimana Gramedia terus menghadirkan ruang belajar dan pengalaman yang dekat dengan masyarakat. Inisiatif seperti Gramedia Berbagi Kado yang dijalankan di berbagai wilayah Indonesia, kolaborasi bersama sekolah, kampus, dan komunitas melalui Social Hub, hingga dukungan terhadap penulis dan ruang kreatif seperti Jalma, Prose & Petals, dan Makarya menjadi bagian dari upaya Gramedia dalam memperluas akses terhadap pengetahuan dan inspirasi. 

“Gramedia belajar bahwa yang perlu dijaga bukan hanya bisnisnya, tetapi kemampuan untuk terus beradaptasi. Kami terus mendengarkan perubahan perilaku konsumen, membangun ekosistem yang saling terhubung, dan menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna bagi masyarakat,” ujar Yosef Adityo Nugroho.

Dalam kesempatan tersebut, Theo Derick turut membagikan kedekatannya dengan dunia buku serta pengalamannya sebagai salah satu penulis Elex Media Komputindo. Melalui bukunya, Theo menceritakan perjalanan bertahan dan berkembang dari kondisi yang tidak ideal, mulai dari membangun networking, personal branding, hingga fondasi hidup dan keuangan dengan pendekatan yang dekat dengan realitas generasi muda.

“Buat saya, buku bukan cuma tempat berbagi cerita, tapi juga ruang untuk menyampaikan pengalaman hidup yang mungkin bisa membantu orang lain merasa bahwa mereka tidak berjalan sendirian dalam prosesnya,” ujar Theo Derick.

Mengacu pada data CEOWORLD Magazine, tingkat minat baca Indonesia berada di peringkat ke-31 dunia dengan estimasi waktu membaca sekitar 129 jam per tahun. Tren tersebut turut mendorong pertumbuhan pasar buku nasional serta berkembangnya konsep books as lifestyle melalui bookstore café, community hub, dan ruang baca interaktif.

Melihat perkembangan tren literasi dan kebutuhan ruang belajar yang semakin interaktif, Gramedia terus menghadirkan berbagai inovasi dan pengembangan ekosistem yang relevan dengan generasi saat ini. Salah satunya melalui Gramedia Partnership, model kemitraan yang dihadirkan untuk memperluas akses literasi dan menghadirkan toko Gramedia di lebih banyak kota di Indonesia, khususnya wilayah tier dua dan tier tiga.

Menggabungkan pengalaman personal, perkembangan industri kreatif, hingga pentingnya literasi di era digital, kolaborasi Gramedia dan Grind Theory ini menghadirkan ruang diskusi yang dekat dengan realitas generasi muda saat ini. Melalui acara ini, Gramedia berkomitmen untuk menghadirkan ruang generasi muda untuk melihat bahwa proses bertumbuh, keberanian beradaptasi, serta kemampuan membangun impact dapat dimulai dari pengalaman dan langkah kecil yang terus dijalani secara konsisten.

“Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” Capai Cetakan ke-100, Brian Khrisna Rayakan Perjalanan 250 Ribu Pembaca di Gramedia Jalma
25 May 2026

“Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” Capai Cetakan ke-100, Brian Khrisna Rayakan Perjalanan 250 Ribu Pembaca di Gramedia Jalma

Jakarta, 23 Mei 2026 — Penerbit Grasindo bersama penulis Brian Khrisna dan Gramedia sukses menggelar syukuran cetakan ke-100 novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati pada Sabtu, 23 Mei 2026 di Gramedia Jalma. Novel yang diterbitkan oleh Penerbit Grasindo ini sejak terbit perdana pada Februari 2025 telah mencatat lebih dari 250 ribu eksemplar terjual dan menjadi salah satu buku terlaris nasional selama lebih dari satu tahun. 

Perayaan cetakan ke-100 ini sekaligus menandai perjalanan panjang Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati sebagai salah satu fenomena literasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Novel ini tidak hanya berhasil menarik minat pembaca aktif, tetapi juga membuka jalan bagi banyak orang yang sebelumnya tidak terbiasa membaca buku untuk kembali menemukan kedekatan dengan literasi melalui cerita yang hangat, ringan, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Merchandise eksklusif Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati yang hadir spesial di perayaan cetakan ke-100

Melalui karakter Ale, Brian Khrisna menghadirkan potret perjuangan seseorang dalam menghadapi depresi secara jujur dan manusiawi. Novel ini memperlihatkan bahwa percakapan sederhana, perhatian kecil, atau bahkan seporsi mie ayam dapat menjadi simbol harapan dan alasan untuk terus melangkah. Pendekatan cerita yang emosional namun tetap dibalut humor khas membuat novel ini terasa dekat dengan pembaca tanpa terkesan menggurui.

“Awalnya saya hanya ingin menulis cerita yang bisa menemani orang-orang yang sedang merasa sendirian. Saya tidak pernah menyangka perjalanan novel ini sampai di titik cetakan ke-100, diterjemahkan ke bahasa lain, bahkan diadaptasi menjadi film. Buat saya, pencapaian terbesar bukan hanya angka penjualan, tetapi ketika pembaca merasa dipahami lewat cerita ini,” ujar Brian Khrisna.

Kesuksesan novel ini turut membuka berbagai pencapaian baru, mulai dari tur empat kota pada awal perilisan, penerbitan edisi bahasa Jepang dan Malaysia, hingga proses adaptasi film yang dijadwalkan tayang pada 2026. Sejak Maret 2025, novel ini juga konsisten menempati posisi buku terlaris di Indonesia dan menjadi salah satu karya lokal dengan pertumbuhan pembaca tercepat dalam satu tahun terakhir. Novel karya Brian Khrisna ini terus memperluas jangkauan pembacanya, baik di dalam maupun luar negeri.

Perayaan cetakan ke-100 di Gramedia Jalma ini turut menghadirkan para cast film adaptasi Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, yaitu Benidictus Siregar yang memerankan Ale, Fira Maringka, Kevin Millenio, dan Nita Gunawan. Kehadiran para cast melengkapi sesi diskusi bersama Brian Khrisna, tanya jawab dengan pembaca, hingga book signing eksklusif yang berlangsung hangat bersama para penggemar novel tersebut.

Momen hangat bersama para cast film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati dalam perayaan cetakan ke-100

Melalui perayaan ini, Penerbit Grasindo, Gramedia, dan Brian Khrisna berharap Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati dapat terus menjadi ruang percakapan tentang pentingnya kesehatan mental, kepedulian terhadap sesama, serta bagaimana hal-hal kecil mampu menghadirkan harapan. Lebih dari sekadar karya fiksi, novel ini menjadi pengingat bahwa selalu ada alasan untuk bertahan, bahkan dari sesuatu yang tampak sederhana seperti: “jangan mati dulu, mie ayam masih enak.”

Apa itu Hustle Culture? Kenali Ciri-Ciri dan Dampaknya dalam Bekerja
22 May 2026

Apa itu Hustle Culture? Kenali Ciri-Ciri dan Dampaknya dalam Bekerja

#CareerSpotlight — Grameds, belakangan istilah hustle culture semakin sering muncul di media sosial dan dunia kerja, terutama di kalangan anak muda. Fenomena ini identik dengan gaya hidup yang menuntut seseorang untuk terus bekerja keras demi mencapai kesuksesan.

Tidak sedikit orang yang merasa harus selalu aktif, memiliki banyak target, bahkan tetap bekerja meskipun tubuh dan pikiran sudah lelah. Akibatnya, muncul pertanyaan “Apakah hustle culture benar-benar membuat seseorang lebih produktif, atau justru melelahkan?”


Apa Itu Hustle Culture?

Hustle culture adalah pola pikir yang menganggap kesuksesan harus dicapai melalui kerja keras tanpa henti. Dalam budaya ini, kerja keras sering dijadikan ukuran utama keberhasilan seseorang.

Orang yang terjebak dalam hustle culture biasanya merasa harus terus bekerja lebih banyak, dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar dianggap berhasil atau tidak tertinggal dari orang lain.

Di media sosial, fenomena ini sering terlihat melalui konten tentang bekerja nonstop, tidur sedikit, memiliki banyak pekerjaan sekaligus, hingga kebiasaan terus mengejar target tanpa jeda.


Kenapa Hustle Culture Banyak Terjadi?

Ada beberapa alasan kenapa hustle culture semakin sering dialami, terutama oleh generasi muda.

Salah satunya adalah tekanan sosial dan media digital. Melihat pencapaian orang lain di media sosial sering membuat seseorang merasa harus bekerja lebih keras agar tidak tertinggal.

Selain itu, persaingan dunia kerja yang semakin ketat juga membuat banyak orang merasa harus terus meningkatkan produktivitas demi mencapai karir yang diinginkan.

Tidak sedikit juga yang menganggap sibuk sebagai tanda kesuksesan. Akibatnya, waktu istirahat sering dianggap kurang penting dibanding pekerjaan dan pencapaian.


Dampak Hustle Culture

Meskipun kerja keras bukan hal yang salah, hustle culture yang dilakukan terus-menerus juga bisa memberikan dampak negatif, seperti:

  • Mudah merasa lelah secara fisik dan mental
  • Burnout akibat tekanan kerja berlebihan
  • Sulit membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi
  • Muncul rasa bersalah saat beristirahat (productive guilt)
  • Menurunnya kualitas tidur dan kesehatan

Jika tidak disadari, kebiasaan terus memaksakan diri juga dapat membuat seseorang kehilangan waktu untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaan.


Cara Bekerja yang Lebih Seimbang

Produktif bukan berarti harus bekerja tanpa henti. Pada akhirnya, setiap orang memiliki kapasitas dan ritme kerja yang berbeda-beda.

Karena itu, penting untuk mulai memahami batas diri dan membangun pola kerja yang lebih sehat. Menjaga waktu istirahat, memiliki kehidupan di luar pekerjaan, serta tidak memaksakan diri untuk selalu produktif bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga keseimbangan.

Bekerja keras tetap penting, tetapi kesehatan fisik dan mental juga perlu diperhatikan agar produktivitas tetap dapat dijalani dalam jangka panjang.

Grameds, hustle culture menunjukkan bagaimana dunia kerja dan produktivitas seringkali dipandang sebagai ukuran keberhasilan. Namun di tengah tekanan untuk terus sibuk, menjaga keseimbangan diri tetap menjadi hal yang tidak kalah penting.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.