Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
55 Tahun
#TumbuhBersama masyarakat
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
Sastra Indonesia Menyapa Pembaca Jepang “Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati” Dibahas dalam Dialog Lintas Budaya
27 January 2026

Sastra Indonesia Menyapa Pembaca Jepang “Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati” Dibahas dalam Dialog Lintas Budaya

Jakarta, 24 Januari 2026 — Sastra Indonesia kembali menunjukkan gaungnya di kancah internasional. Novel Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, yang diterbitkan oleh PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), resmi diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Hal ini menandai semakin terbukanya ruang bagi karya sastra Indonesia untuk dibaca dan diapresiasi oleh pembaca lintas negara. Acara Talkshow Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati versi bahasa Jepang yang dimoderatori oleh Lia Kusumawardani ini sukses diadakan pada Sabtu (24/1) di Taksu Book Cafe, Cilandak. 

Acara ini menghadirkan Brian Khrisna bersama Nishino Keiko, penerjemah Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati versi bahasa Jepang. Diskusi yang dipandu oleh Lia Kusumawardani ini menjadi ruang dialog untuk membahas bagaimana karya sastra Indonesia dibaca, dipahami, dan diterima oleh pembaca Jepang, seiring meningkatnya minat penerbit Jepang terhadap sastra Asia, termasuk Indonesia.

Dalam perbincangan ini, Brian Khrisna mengulas proses kreatif di balik penulisan novel yang berangkat dari keseharian dan emosi yang dekat dengan pembaca Indonesia. “Setiap cerita membawa konteks budayanya sendiri. Ketika diterjemahkan, tantangannya bukan hanya soal bahasa, tetapi bagaimana emosi dan makna di dalamnya tetap bisa sampai kepada pembaca lintas budaya,” ungkap Brian.

Diskusi juga menyoroti dinamika lintas budaya dalam penerjemahan sastra. Tidak hanya sebagai proses alih bahasa, penerjemahan dipahami sebagai kerja interpretasi yang menuntut pemahaman mendalam atas latar sosial, kebiasaan, serta cara pandang masyarakat Indonesia agar dapat diterima secara utuh oleh pembaca Jepang.

Menurut Nishino Keiko, meningkatnya perhatian terhadap sastra Asia di Jepang membuka peluang bagi cerita-cerita dari Indonesia untuk hadir dan hidup di pasar global. Kehadiran fiksi populer Indonesia dalam bahasa Jepang menjadi penanda bahwa cerita lokal memiliki daya jangkau universal ketika disampaikan dengan kejujuran dan kedalaman emosi.

Book talk ini diharapkan menjadi ruang refleksi dan edukasi bagi publik, sekaligus menegaskan bahwa sastra Indonesia memiliki tempat di luar batas geografis dan bahasa.  Selain itu, peluncuran buku ini menjadi bagian dari komitmen Gramedia dalam mendukung ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong karya-karya penulis Indonesia untuk terus menjangkau pembaca lintas negara.

Gramedia dengan Cordoba dan Dompet Dhuafa Gelar “Happy Family Coloring”: Merayakan Kebersamaan Keluarga Melalui Sedekah Qur’an
23 January 2026

Gramedia dengan Cordoba dan Dompet Dhuafa Gelar “Happy Family Coloring”: Merayakan Kebersamaan Keluarga Melalui Sedekah Qur’an

Jakarta, 20 Januari 2026 — Memasuki awal tahun 2026, Gramedia kembali mempertegas komitmennya dalam kepedulian sosial dengan meluncurkan program “Happy Family Coloring” (HFC). Berkolaborasi dengan Cordoba dan Dompet Dhuafa, inisiatif inklusif ini mengajak seluruh keluarga di Indonesia untuk mengubah momen kreativitas menjadi kontribusi nyata bagi sesama yang membutuhkan.

Program ini merupakan lomba mewarnai online yang ditujukan bagi siswa SD hingga SMP bersama keluarga dari seluruh Indonesia, sekaligus bersedekah dalam bentuk  Mushaf Al-Qur'an untuk didistribusikan kepada masyarakat di wilayah beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Lampung, Riau serta Banten. 

Melanjutkan kesuksesan tahun sebelumnya yang berhasil mengumpulkan total nilai kepedulian sebesar Rp744.275.000, program HFC 2026 hadir dengan misi kemanusiaan yang lebih. Dengan donasi Rp50.000, peserta akan berkesempatan untuk mengikuti lomba mewarnai turut menyumbang Al Qur’an bagi masyarakat.

Lomba ini diselenggarakan secara daring dan terbuka bagi anak-anak jenjang SD hingga SMP. Karya mewarnai dapat diunggah ke media sosial sebagai bentuk keikutsertaan sekaligus untuk mengapresiasi proses kreatif yang dilakukan bersama keluarga. Peserta diberi kebebasan berkreasi dengan berbagai media, seperti crayon, pensil warna, maupun cat air.

Pendaftaran dibuka mulai 20 Januari hingga 31 Maret 2026. Selain berkontribusi dalam aksi sosial, tersedia total hadiah jutaan rupiah bagi para pemenang yang akan diumumkan pada 3 April 2026. 

Dari Swarnadwipa ke Nusantara: Kisah Kemilau Budaya Lima Negeri dalam Sebuah Buku
22 January 2026

Dari Swarnadwipa ke Nusantara: Kisah Kemilau Budaya Lima Negeri dalam Sebuah Buku

Jakarta, 22 Januari 2026 - Penerbit Gramedia Pustaka Utama bersama Putri Bumi Sriwijaya mempersembahkan peluncuran buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri, pada hari Kamis, 22  Januari 2026, bertempat di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta Pusat.  

Acara ini dikemas melalui pergelaran seni yang kontekstual dengan isi buku, sehingga menghadirkan gambaran visual yang dapat memperkaya wawasan. Oleh karena itu, dalam peluncuran buku ini disajikan pula cuplikan isi buku dan berbagai penampilan seni yang memperlihatkan beragam keindahan seni budaya khas Sumatra bagian selatan.  

"Buku ini telah melalui proses panjang yang sangat komprehensif, mulai dari pengumpulan data yang mendalam hingga dokumentasi seluruh tradisi pakaian adat secara mendetail. Kami berupaya menangkap setiap elemen keberagaman budaya di Pulau Sumatra agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang," ujar Andi Tarigan, Chief Editor Gramedia Pustaka Utama.  

Kehadiran buku ini juga mendapat apresiasi dari tokoh masyarakat dan pemerhati budaya, Tantowi Yahya. Beliau memuji kedalaman isi buku yang berhasil memotret kemilau wastra dan perhiasan dari lima provinsi di Sumatra bagian selatan. Namun, beliau juga menitipkan harapan untuk pengembangan literasi budaya Sumatra ke depannya. 

"Saya sangat mengapresiasi terbitnya buku ini sebagai panduan visual sejarah kejayaan kita. Ke depannya, saya berharap akan ada buku lanjutan yang mengupas tuntas mengenai kuliner Sumatra. Mengingat posisinya sebagai pulau yang dikelilingi perairan dan kekayaan alam yang melimpah, potensi kuliner kita adalah warisan budaya yang tak kalah penting untuk dibukukan," tutur Tantowi Yahya. 

Buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri sendiri merupakan wujud nyata dari kepedulian Putri Bumi Sriwijaya dalam memperkaya jejak seni budaya lewat bentuk literasi, sebagai persembahan untuk Indonesia.  

Buku Kena Banjir? Jangan Panik.... Kesalahan Ini Justru Bikin Rusak Total
22 January 2026

Buku Kena Banjir? Jangan Panik.... Kesalahan Ini Justru Bikin Rusak Total

#LiterasiAsik Banjir kembali terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Air naik, rumah terendam, dan saat situasi mulai terkendali, Grameds mungkin menemukan satu pemandangan yang bikin hati langsung turun: buku-buku basah di rak. Sampul menggelembung, halaman saling menempel, dan bau lembap mulai terasa.

Reaksi pertama biasanya panik. Ada yang langsung menjemur buku di bawah matahari, ada yang buru-buru membuka halaman, bahkan ada yang memilih membuangnya. Padahal, tanpa disadari, beberapa langkah ini justru membuat buku rusak total.

Kabar baiknya, buku yang terkena banjir belum tentu harus langsung direlakan asal ditangani dengan cara yang tepat.

Nah ini dia kesalahan yang sering dilakukan saat buku terkena banjir:

Menjemur buku di bawah sinar matahari langsung

Sumber: https://x.com/dorasurvive

Kelihatannya paling cepat, tapi sinar matahari justru bisa membuat kertas mengerut, warna memudar, dan jilid rusak.

Membuka halaman yang menempel secara paksa

Sumber: https://x.com/literarybase

Saat basah, halaman buku biasanya saling lengket. Memaksanya terbuka berisiko merobek kertas dan melunturkan tinta.

Menggosok lumpur atau kotoran

Sumber: https://pemilu.antaranews.com

Air banjir di Indonesia sering membawa lumpur dan kotoran. Menggosok halaman basah justru memperparah kerusakan.

Mengeringkan dengan alat panas

Sumber: https://vt.tiktok.com/ZSaj5vQn2/

Hair dryer atau alat pemanas lain bisa merusak struktur kertas dan membuat buku berubah bentuk.

Cara Lebih Aman Menyelamatkan Buku Basah

Langkah pertama, pisahkan buku dari genangan air sesegera mungkin. Buku yang masih kering sebaiknya diamankan lebih dulu. Jika buku terkena lumpur, bersihkan perlahan dengan air bersih tanpa digosok. Setelah itu, keringkan buku dengan cara didirikan dan dibuka beberapa halaman saja, lalu biarkan udara mengalir. Kipas angin boleh kamu gunakan, selama tanpa panas langsung.

Untuk buku yang masih lembab, kamu bisa selipkan tisu atau kertas penyerap di sela halaman dan ganti secara berkala. Jika jumlah buku banyak dan belum sempat dikeringkan, menyimpannya di freezer bisa menjadi solusi sementara untuk mencegah jamur.

Kapan Buku Perlu Direlakan?

Tidak semua buku bisa diselamatkan. Jika sudah berjamur parah, bau apek tidak hilang, atau kertasnya hancur, merelakan buku mungkin jadi pilihan paling aman agar tidak merusak koleksi lain.

Banjir di Indonesia Datang Berulang, Cerita Jangan Ikut Tenggelam

Di tengah bencana banjir yang kerap terjadi di Indonesia, kehilangan buku mungkin terasa kecil dibanding kerugian lain. Namun bagi Grameds, buku adalah teman belajar, ruang jeda, dan sumber penguatan. Kalau hari ini rak buku harus ditata ulang, mungkin besok saatnya membuka halaman baru. Karena air bisa merendam kertas, tapi cerita, pengetahuan, dan minat baca di Indonesia tidak akan ikut tenggelam.


Sebagai bagian dari ekosistem literasi, Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta buku. Yuk, terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan bersama Gramedia Writers and Readers Forum melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

 

Tak Hanya Kejar Pertumbuhan Ekonomi, Fahd Pahdepie Ajak Publik Setel “Frekuensi” untuk Indonesia 2045
21 January 2026

Tak Hanya Kejar Pertumbuhan Ekonomi, Fahd Pahdepie Ajak Publik Setel “Frekuensi” untuk Indonesia 2045

Jakarta, 11 Januari 2025 — Menjelang perayaan satu dekade menuju Indonesia Emas, strategic storyteller Fahd Pahdepie mengajak masyarakat untuk melihat masa depan bangsa melampaui angka pertumbuhan ekonomi. Dalam acara diskusi dan bedah buku terbarunya, “2045 Hz: Frekuensi Masa Depan Indonesia” di Gramedia Jalma, Blok M, Minggu (11/1), Fahd menegaskan bahwa keberhasilan sebuah bangsa sangat bergantung pada penyetelan ulang "frekuensi" atau resonansi batin antarwarga negara, bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik semata.

Menurut Fahd, narasi menuju 2045 selama ini terlalu didominasi oleh hal-hal yang bersifat tangible atau nyata secara prosedural. Ia berargumen bahwa Indonesia perlu mulai membenahi aspek fundamental yang tidak kelihatan namun sangat menentukan.

“Tanpa penyetelan ulang pada frekuensi yang sama, segala pencapaian angka-angka statistik tidak akan mampu mengubah wajah Indonesia secara batiniah,” ungkap Fahd di hadapan peserta dari berbagai generasi. Ia menjelaskan bahwa frekuensi ini adalah getaran yang melampaui hitungan ekonomi; sesuatu yang hanya bisa dirasakan jika dilakukan secara konsisten oleh seluruh elemen bangsa.

Dalam sesi diskusi yang hangat tersebut, Fahd menyoroti pentingnya kesepakatan kolektif. Baginya, tahun 2045 bukanlah sekadar angka tahun atau destinasi akhir, melainkan sebuah panggung besar di mana setiap anak bangsa harus memahami peran apa yang akan mereka mainkan.

"Saya percaya bahwa kita ngomongin Indonesia itu tergantung frekuensinya. Dan yang harus kita urusin adalah hal yang gak kelihatan supaya kita mulai bisa menantang dan mengurus hal-hal yang kelihatan," tegas Fahd. Melalui buku ini, ia berharap muncul harmoni yang mampu menggerakkan lebih banyak individu untuk berjalan dalam visi yang sama.