Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
56 Tahun
#TumbuhBermakna
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
Project Hail Mary: Cerita Fiksi Ilmiah yang Berawal dari Buku
17 April 2026

Project Hail Mary: Cerita Fiksi Ilmiah yang Berawal dari Buku

#HappeningToday — Film Project Hail Mary tengah menjadi sorotan setelah resmi tayang dan meraih perhatian besar di kalangan penonton. Film ini merupakan adaptasi dari novel karya Andy Weir, penulis yang sebelumnya sukses dengan The Martian.

Sebagai film fiksi ilmiah, Project Hail Mary menghadirkan cerita yang tidak hanya penuh ketegangan, tetapi juga dibalut dengan emosi yang membuatnya terasa lebih dekat dengan penonton. Bahkan, film ini berhasil mencetak pembukaan box office besar di tahun 2026 dan menjadi salah satu rilisan paling menonjol tahun ini.


Cerita Project Hail Mary

Kisah ini mengikuti Ryland Grace, seorang guru sains yang terbangun sendirian di sebuah pesawat luar angkasa tanpa ingatan. Perlahan, ia mulai menyadari bahwa dirinya sedang menjalankan misi besar untuk menyelamatkan Bumi dari ancaman yang dapat menghancurkan kehidupan manusia.

Dalam perjalanan tersebut, ia tidak hanya menghadapi tantangan ilmiah yang kompleks, tetapi juga situasi yang tidak terduga. Cerita ini berkembang menjadi kombinasi antara survival, sains, dan hubungan yang tidak biasa, membuatnya terasa unik dibandingkan film fiksi ilmiah lainnya.


Berasal dari Novel Karya Andy Weir

Menariknya, sebelum hadir sebagai film, Project Hail Mary merupakan novel yang terbit pada tahun 2021. Versi bukunya dikenal dengan gaya penulisan yang detail, terutama dalam menjelaskan konsep sains yang menjadi inti cerita.

Dalam novel, pembaca bisa mengikuti proses berpikir tokoh utama secara lebih mendalam, sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ditampilkan dalam versi film. Inilah yang membuat pengalaman membaca dan menonton terasa berbeda, namun saling melengkapi.


Rekomendasi Buku dengan Genre Serupa

Kalau kamu tertarik dengan cerita seperti Project Hail Mary, ada beberapa buku dengan genre serupa yang bisa kamu coba:


1. Artemis — Andy Weir

Mengangkat kehidupan di koloni bulan dengan perpaduan sains, teknologi, dan konflik yang penuh ketegangan. Ceritanya menghadirkan sudut pandang berbeda tentang kehidupan manusia di luar Bumi dengan pendekatan yang tetap ringan namun menarik.


2. Dune — Frank Herbert

Salah satu novel sci-fi klasik yang menghadirkan dunia futuristik dengan konflik politik, kekuasaan, dan ekologi yang kompleks. Dunia yang dibangun dalam cerita ini terasa luas dan detail, menjadikannya salah satu karya paling berpengaruh dalam genre fiksi ilmiah.


3. To Sleep in a Sea of Stars — Christopher Paolini

Kisah petualangan luar angkasa dengan sentuhan misteri dan eksplorasi makhluk asing. Novel ini menghadirkan perjalanan yang penuh tantangan sekaligus memperluas imajinasi tentang apa yang terjadi di kehidupan di luar Bumi.


Kehadiran Project Hail Mary di layar lebar menunjukkan bagaimana sebuah cerita dari buku dapat berkembang menjadi pengalaman yang lebih luas. Adaptasi ini tidak hanya menghadirkan visual yang menarik, tetapi juga membuka kembali minat terhadap karya aslinya.

Bagi yang menyukai cerita fiksi ilmiah, menikmati kisah ini melalui buku maupun film bisa memberikan pengalaman yang berbeda. Jika filmnya menghadirkan ketegangan secara visual, versi bukunya justru menawarkan kedalaman cerita yang lebih detail, Grameds.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Apakah Passion Harus Selalu Jadi Dasar dalam Memilih Karier? Ini Faktanya
16 April 2026

Apakah Passion Harus Selalu Jadi Dasar dalam Memilih Karier? Ini Faktanya

#CareerSpotlight — Banyak orang percaya bahwa bekerja sesuai passion adalah kunci untuk mendapatkan karier yang bahagia. Tidak sedikit juga orang yang merasa harus menemukan passion terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan.

Namun, di tengah realita dunia kerja yang terus berubah, apakah passion benar-benar harus menjadi dasar dalam memilih karier?


Passion dan Ekspektasi di Awal Karier

Di awal perjalanan karier, terutama bagi fresh graduate, ada ekspektasi bahwa pekerjaan yang dijalani harus sesuai dengan minat dan passion. Harapannya, dengan bekerja di bidang yang disukai, seseorang bisa merasa lebih semangat dan puas dalam menjalani pekerjaannya.

Sayangnya, tidak semua orang bisa langsung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passionnya. Banyak yang harus memulai pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion, baik karena keterbatasan peluang maupun kebutuhan untuk mendapatkan pengalaman terlebih dahulu.


Realita di Dunia Kerja

Dalam praktiknya, dunia kerja tidak selalu sejalan dengan apa yang direncanakan. Tak jarang seseorang justru baru menemukan passion mereka setelah menjalani pekerjaan tertentu.

Ada pula yang tetap bertahan di pekerjaan yang tidak sepenuhnya sesuai passion, tetapi memberikan stabilitas, pengalaman, atau peluang untuk berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa karier tidak harus dimulai dari passion, melainkan bisa berkembang seiring berjalannya waktu.


Apakah Passion Tidak Penting?

Passion tetap memiliki peran, tetapi bukan satu-satunya faktor yang harus dipertimbangkan. Selain passion, ada hal lain yang tak kalah penting, yaitu:

Mengandalkan passion saja tanpa mempertimbangkan faktor lain justru bisa membuat pilihan karier menjadi kurang realistis. Alih-alih menjadikan passion sebagai satu-satunya acuan, banyak orang mulai melihat karier sebagai proses yang dinamis. Tidak harus langsung sesuai, tetapi bisa dibangun secara bertahap.

Passion bisa berkembang seiring waktu, terutama ketika seseorang mulai merasa nyaman, berkembang, dan menemukan makna dalam pekerjaannya.

Bekerja sesuai passion memang menjadi keinginan banyak orang, tetapi bukan berarti hal tersebut harus menjadi satu-satunya dasar dalam memilih karier. Realita menunjukkan bahwa perjalanan karier setiap orang berbeda, dan tidak selalu berjalan lurus sesuai rencana.

Grameds, yang terpenting adalah bagaimana kita dapat terus berkembang dan menemukan keseimbangan antara minat, kebutuhan, dan peluang yang ada.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Sakamoto Days Versi Live Action Rilis 2026, Adaptasi Manga Populer yang Dinantikan
14 April 2026

Sakamoto Days Versi Live Action Rilis 2026, Adaptasi Manga Populer yang Dinantikan

#HappeningToday — Menjelang penayangannya pada 29 April 2026 di Jepang, adaptasi live action dari Sakamoto Days mulai menarik perhatian. Sebagai salah satu manga dengan konsep cerita yang unik, kehadiran versi live action ini menjadi hal yang cukup dinantikan.

Sakamoto Days dikenal sebagai salah satu manga dengan konsep cerita yang unik. Kisahnya mengenai sosok mantan pembunuh bayaran legendaris yang memilih hidup sederhana setelah jatuh cinta dan berkeluarga. Meski terlihat menjalani kehidupan biasa, masa lalunya terus datang kembali dan menghadirkan berbagai konflik yang penuh aksi.


Sinopsis Sakamoto Days

Sakamoto Days menceritakan seorang pembunuh bayaran yang paling ditakuti bernama Taro Sakamoto. Namun, hidupnya berubah setelah ia jatuh cinta, menikah, dan memilih meninggalkan dunia lamanya. Kini, ia menjalani kehidupan sebagai pemilik toko kelontong bersama keluarganya.

Meski tampak sederhana, masa lalu Sakamoto tidak benar-benar hilang. Berbagai ancaman dari dunia lamanya terus berdatangan, memaksanya kembali menggunakan kemampuan yang ia miliki. Di tengah kehidupan barunya, Sakamoto harus menyeimbangkan peran sebagai kepala keluarga sekaligus menghadapi konflik yang tidak pernah benar-benar selesai.


Adaptasi dari Manga ke Versi Live Action

Sebagai adaptasi dari manga, Sakamoto Days membawa tantangan tersendiri saat dihadirkan ke dalam versi live action. Gaya visual yang khas, terutama dalam adegan aksi yang cepat dan ekspresi karakter yang kuat, menjadi elemen penting yang akan ditampilkan dalam bentuk yang lebih realistis.

Proses adaptasi ini tidak hanya soal memindahkan cerita, tetapi juga bagaimana mempertahankan identitas dari karya aslinya agar tetap terasa bagi penonton.


Tantangan dalam Adaptasi

Mengadaptasi manga ke live action bukan hal yang sederhana. Beberapa elemen dalam bentuk ilustrasi seringkali membutuhkan penyesuaian saat dihadirkan ke layar. Mulai dari adegan aksi, timing komedi, hingga karakterisasi yang kuat, semuanya perlu diolah agar tidak menghilangkan daya tarik utamanya.

Hal inilah yang membuat adaptasi live action dari manga sering mendapatkan perhatian lebih, terutama dari pembaca yang sudah mengenal ceritanya terlebih dahulu.


Membaca Manganya Sebelum Nonton Live Action

Meski versi live action akan menghadirkan pengalaman baru, manga tetap menjadi fondasi utama dari cerita ini. Melalui manga, pembaca dapat menikmati detail yang lebih lengkap, mulai dari pengembangan karakter hingga alur cerita yang lebih luas. 

Bagi Grameds memahami cerita secara lebih mendalam, membaca versi manga tetap menjadi pilihan yang relevan. Untuk kamu yang ingin mulai mengenal cerita Sakamoto Days sebelum versi live action tayang, Sakamoto Days Vol. 1 bisa menjadi pilihan yang tepat.


Sakamoto Days Vol. 1


Volume ini memperkenalkan karakter utama sekaligus menjadi awal dari perjalanan cerita yang penuh aksi dan dinamika.

Kehadiran Sakamoto Days dalam versi live action menunjukkan bagaimana sebuah cerita dapat berkembang ke berbagai medium. Adaptasi ini tidak hanya memperluas jangkauan cerita, tetapi juga memberikan cara baru bagi audiens untuk menikmatinya.

Jadi, Grameds, kamu tim baca manganya dulu atau langsung nonton versi live actionnya nih?


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Productive Guilt: Kenapa Kita Merasa Bersalah Saat Tidak Produktif?
10 April 2026

Productive Guilt: Kenapa Kita Merasa Bersalah Saat Tidak Produktif?

#LiterasiAsik — Pernah merasa gelisah saat sedang tidak melakukan apa-apa? Padahal tubuh sebenarnya butuh istirahat, tapi pikiran justru dipenuhi rasa bersalah karena merasa tidak melakukan apa-apa.

Jika pernah, kamu mungkin sedang mengalami productive guilt, yaitu kondisi ketika seseorang merasa bersalah karena tidak melakukan hal yang dianggap produktif. 

Fenomena ini semakin sering terjadi, terutama di era yang menuntut kita untuk selalu aktif dan “produktif”. 


Apa Itu Productive Guilt?

Productive guilt adalah perasaan bersalah yang muncul ketika kita tidak memenuhi ekspektasi produktivitas, baik dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar.

Di era sekarang, produktivitas sering kali dikaitkan dengan nilai diri. Semakin sibuk dan berhasil seseorang dianggap semakin baik. Akibatnya:

  • Semakin sibuk = dianggap semakin berhasil dan sukses
  • Tidak melakukan apa-apa = merasa gagal

Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar loh Grameds!


Kenapa Kita Merasa Bersalah Saat Tidak Produktif?

Ada beberapa faktor yang membuat productive guilt semakin sering dirasakan:

1. Tekanan dari media sosial
Melihat orang lain terus aktif, bekerja, atau mencapai sesuatu bisa membuat kita merasa tertinggal.

2. Budaya hustle
Ada anggapan bahwa kita harus selalu produktif setiap saat. Istirahat sering kali dianggap sebagai kemalasan.

3. Ekspektasi diri yang tinggi
Terkadang, standar yang kita buat sendiri justru terlalu tinggi dan sulit dicapai secara realistis.


Dampak Productive Guilt

Meski terlihat sepele, perasaan ini bisa berdampak cukup besar jika terus dibiarkan dan akan berdampak pada:

  • Kelelahan mental
  • Sulit menikmati waktu istirahat
  • Kehilangan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi.

Alih-alih menjadi lebih produktif, kondisi ini justru bisa membuat energi cepat habis.


Istirahat Juga Bagian dari Produktivitas

Penting untuk dipahami bahwa istirahat bukanlah hal yang berlawanan dengan produktivitas. Justru, waktu jeda membantu tubuh dan pikiran untuk kembali segar.

Dengan istirahat yang cukup, kita bisa kembali bekerja dengan lebih fokus dan efektif.


Cara Mengurangi Productive Guilt

Beberapa hal sederhana yang bisa kamu coba:

1. Kenali batas diri
Tidak semua waktu harus diisi dengan aktivitas. Tubuh juga butuh jeda.

2. Ubah cara pandang tentang produktivitas
Produktif bukan berarti terus-menerus bekerja, tetapi bagaimana kita mengelola energi dengan baik.

3. Berikan ruang untuk istirahat tanpa rasa bersalah
Luangkan waktu untuk diri sendiri dan anggap itu sebagai kebutuhan, bukan kemalasan.

Merasa bersalah saat tidak produktif adalah hal yang cukup umum di era sekarang. Namun, penting untuk diingat bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan dari seberapa sibuk kita.

Dengan memahami dan mengelola productive guilt, kamu bisa menemukan keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan diri, Grameds.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

25 Tahun Berlalu, Kenapa Harry Potter Masih Jadi Comfort Movie?
09 April 2026

25 Tahun Berlalu, Kenapa Harry Potter Masih Jadi Comfort Movie?

#LiterasiAsik — Grameds, tidak semua film mampu bertahan di hati penontonnya dalam waktu yang lama.

Namun, ada beberapa cerita yang justru semakin terasa hangat seiring berjalannya waktu. Salah satunya adalah kisah Harry Potter yang
diadaptasi dari seri buku karya J.K. Rowling. Meski sudah lebih dari dua dekade sejak film pertamanya dirilis, banyak orang masih kembali menonton serial ini bukan sekadar untuk hiburan, tetapi sebagai comfort movie.

Lalu, apa yang membuat Harry Potter tetap melekat di hati banyak orang?


Cerita yang Tumbuh Bersama Penonton

Salah satu alasan utama adalah bagaimana cerita Harry Potter berkembang seiring waktu. Dari kisah seorang anak yang datang ke dunia sihir, hingga perjalanan menghadapi konflik yang semakin kompleks, penonton diajak tumbuh bersama para karakternya.

Bagi banyak orang, Harry Potter bukan hanya film, tetapi bagian dari perjalanan hidup. Ada kenangan masa kecil, masa remaja, hingga fase dewasa yang terhubung dengan cerita ini.


Dunia Sihir yang Terasa Nyata

Daya tarik lain dari Harry Potter sebagai comfort movie adalah dunia sihirnya yang begitu hidup. Hogwarts bukan hanya sekolah fiksi, tetapi menjadi tempat yang terasa familiar bagi penonton.

Saat menonton ulang, banyak orang merasa seperti kembali ke tempat yang sudah dikenal sebuah dunia yang aman dan nyaman untuk “dikunjungi” kembali.


Rasa Nostalgia yang Kuat

Nostalgia menjadi faktor besar mengapa Harry Potter tetap populer. Mengingat kembali momen saat pertama kali menonton, atau membaca ceritanya, bisa menghadirkan perasaan hangat yang sulit digantikan.

Film ini menjadi semacam “ruang aman” yang bisa dikunjungi kembali kapan saja, terutama saat merasa lelah atau butuh hiburan yang menenangkan.


Lebih dari Sekadar Hiburan

Harry Potter bukan hanya soal sihir dan petualangan. Di dalamnya, terdapat banyak nilai tentang keberanian, persahabatan, dan pentingnya memilih hal yang benar, meski tidak mudah.

Hal-hal inilah yang membuat ceritanya tetap relevan, bahkan setelah bertahun-tahun.


Lebih Dalam di Versi Buku

Meski film Harry Potter sudah berhasil menghadirkan cerita yang begitu ikonik, sebenarnya masih banyak detail menarik yang tidak sepenuhnya tergambar di layar.

Dalam versi buku, dunia sihir terasa jauh lebih luas dan mendalam. Mulai dari latar belakang karakter, detail kehidupan di Hogwarts, hingga cerita-cerita kecil yang tidak sempat dimasukkan ke dalam film, semuanya membuat pengalaman menikmati Harry Potter menjadi lebih lengkap.

Bagi banyak pembaca, buku Harry Potter justru menghadirkan kedekatan yang lebih kuat karena imajinasi bisa berkembang tanpa batas. Inilah yang membuat cerita ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengalaman membaca yang membekas.


Rekomendasi Urutan Buku Harry Potter untuk dibaca

Kalau kamu ingin merasakan pengalaman yang lebih utuh, berikut beberapa buku yang bisa kamu mulai:


1. Harry Potter and the Philosopher's Stone — J.K. Rowling

Buku pertama yang memperkenalkan dunia sihir dan perjalanan awal Harry. Cocok untuk kamu yang ingin mulai dari awal dan memahami detail yang tidak ada di film.


2. Harry Potter and the Chamber of Secrets — J.K. Rowling

Buku kedua yang mengisahkan kepulangan Harry pada liburan musim panas dan pertemuannya dengan makhluk aneh. Buku ini menyimpan banyak detail menarik yang tidak sepenuhnya ditampilkan di film


3. Harry Potter and the Prisoner of Azkaban — J.K. Rowling

Buku ketiga dan yang paling disukai karena cerita yang lebih kompleks dan penuh kejutan. Banyak detail penting yang hanya bisa ditemukan di versi buku.


25 tahun mungkin waktu yang panjang, tetapi bagi sebuah cerita yang bermakna, waktu justru membuatnya semakin berharga.

Harry Potter tetap menjadi comfort movie karena bukan hanya menghibur, tetapi juga menghadirkan rasa familiar, hangat, dan penuh makna bagi penontonnya, Grameds.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.