Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
55 Tahun
#TumbuhBersama masyarakat
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
Quarter Life Crisis: Capek, Bingung, dan Merasa Tertinggal di Usia 20-an
17 January 2026

Quarter Life Crisis: Capek, Bingung, dan Merasa Tertinggal di Usia 20-an

Pernah nggak sih, kamu ngerasa capek padahal nggak ngapa-ngapain secara fisik? Atau tiba-tiba mikir, “Kok hidup aku kayaknya gini-gini aja, ya?” Kalau iya, bisa jadi kamu lagi ada di fase yang sering disebut quarter life crisis. Istilah ini makin sering terdengar belakangan. Dari media sosial sampai media nasional, banyak yang membahas kegelisahan usia 20-an fase ketika hidup terasa penuh tanda tanya.

Usia 20-an dan Banyak Pertanyaan

Di usia ini, kamu mungkin mulai mempertanyakan banyak hal. Soal karier, soal hubungan, soal masa depan, bahkan soal diri sendiri. Mau lanjut di jalur yang sekarang atau coba hal baru? Bertahan atau mulai dari nol lagi?

Beberapa artikel di Kompas dan Tribun pernah menyoroti bahwa generasi muda hari ini menghadapi tekanan yang berbeda. Dunia berubah cepat, persaingan makin ketat, dan standar hidup terasa makin tinggi. Wajar kalau akhirnya banyak yang merasa bingung dan ragu. Apalagi ketika ekspektasi datang dari berbagai arah? keluarga, lingkungan, sampai diri sendiri.

Saat Melihat Hidup Orang Lain Terasa Lebih “Maju”

Media sosial sering kali bikin perasaan quarter life crisis makin kuat. Scroll sebentar, kamu bisa langsung lihat pencapaian orang lain: pekerjaan baru, bisnis yang jalan, atau hidup yang kelihatan rapi dan terarah. Padahal, apa yang kita lihat di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang. Tapi tetap saja, rasa membandingkan itu muncul. Akhirnya, muncul pikiran: “Aku ketinggalan jauh, ya?” 


Capek Itu Bagian dari Proses

Grameds, penting buat diingat bahwa merasa capek, bingung, dan ragu bukan tanda kamu gagal. Banyak psikolog yang dikutip di media nasional menyebut fase ini sebagai proses alami menuju kedewasaan. Quarter life crisis sering kali muncul karena kamu mulai sadar akan pilihan hidup dan konsekuensinya. Dan kesadaran itu memang nggak selalu nyaman. Kadang, yang kamu butuhkan bukan solusi instan, tapi waktu untuk memahami apa yang sebenarnya kamu inginkan.

Buku Bisa Jadi Tempat Berhenti Sejenak

Di tengah kebingungan, sebagian orang memilih untuk melambat. Salah satu caranya lewat membaca buku. Bukan karena buku punya semua jawaban, tapi karena buku memberi ruang untuk berpikir tanpa distraksi. Lewat novel, kamu bisa merasa ditemani oleh cerita yang relevan dengan hidupmu. Lewat buku nonfiksi, kamu bisa memahami perasaanmu lewat sudut pandang yang lebih tenang dan terstruktur. Membaca itu seperti ngobrol panjang nggak buru-buru dan nggak menghakimi.

Merasa Tidak Sendiri Lewat Cerita

Banyak pembaca bilang, salah satu hal paling menenangkan dari membaca adalah sadar bahwa apa yang mereka rasakan juga dialami orang lain. Bingung soal hidup, takut salah langkah, atau merasa tertinggal  semua itu manusiawi. Nggak heran kalau buku-buku bertema kesehatan mental, pencarian makna, dan kisah hidup anak muda makin diminati. Buku hadir bukan untuk menggurui, tapi buat temen nyaman kamu loh

Pelan-Pelan Juga Nggak Salah

Hidup bukan lomba siapa paling cepat sampai. Setiap orang punya waktu dan jalannya sendiri. Kalau sekarang kamu lagi capek, mungkin memang waktunya berhenti sebentar. Ambil napas, kurangi membandingkan, dan beri ruang buat diri sendiri. Kalau buku bisa membantu kamu merasa lebih tenang dan dimengerti, itu sudah cukup berarti. Karena di tengah rasa capek, bingung, dan merasa tertinggal, yang paling penting adalah terus bergerak meski pelan.


Sebagai bagian dari ekosistem literasi, Gramedia terus mendukung hadirnya ruang baca alternatif yang mendekatkan buku dengan keseharian. Yuk, tetap terhubung dengan dunia literasi dan kepenulisan bersama Gramedia Writers and Readers Forum melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Rekomendasi Library Cafe di Jakarta
13 January 2026

Rekomendasi Library Cafe di Jakarta

#HappeningToday — Di tengah ritme Jakarta yang serba cepat, kamu mungkin butuh ruang jeda untuk berhenti sejenak. Kini, kafe tak lagi hanya menjadi tempat minum kopi, tetapi juga ruang untuk melepas penat, menenangkan pikiran, dan menikmati waktu dengan tempo yang lebih pelan. Dari kebutuhan inilah konsep library cafe atau kafe dengan ruang baca mulai mendapat tempat di kalangan masyarakat urban.

Library cafe menawarkan suasana yang berbeda, di mana rak buku, kopi, dan ketenangan ruang saling melengkapi. Di tempat seperti ini, kamu bisa membaca dengan lebih santai di sela kesibukan harian. Sejalan dengan semangat literasi yang terus tumbuh, konsep library cafe pun semakin diminati sebagai pilihan ruang rehat yang bermakna.

Berikut rekomendasi library cafe di Jakarta yang bisa kamu kunjungi untuk menikmati kopi sekaligus membaca buku.

Kopi Aloo - Gramedia , Blok M

   Sumber: Google

Kopi Aloo Melawai hadir di dalam ruang Gramedia Jalma, Blok M, sebagai bagian dari pengalaman membaca dan bersantai yang ditawarkan tempat ini. Berkolaborasi dengan ruang literasi, Kopi Aloo melengkapi suasana dengan sajian kopi dan minuman non-kopi yang bisa kamu nikmati sambil memilih buku atau duduk santai di area baca.

Kehadiran Kopi Aloo menjadikan Gramedia Jalma sebagai ruang yang memadukan buku, kopi, dan aktivitas kreatif dalam satu tempat. Di sini, kamu bisa meluangkan waktu dengan ritme yang lebih pelan membaca, berbincang, atau sekadar menikmati kopI tanpa perlu berpindah dari satu ruang ke ruang lain.

NIKA – Gafoy, Kelapa Gading

NIKA Coffee x Prose & Petals. Foto: Hestianingsih/Wolipop

NIKA di kawasan Gafoy, Kelapa Gading, hadir sebagai book cafe hasil kolaborasi dengan Prose & Petals di bawah naungan Gramedia. Di sini, buku tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi bagian dari pengalaman berkunjung. Rak buku tertata menyatu dengan area kafe, menciptakan suasana yang tenang dan nyaman untuk kamu duduk sejenak sambil menikmati kopi.

Lewat Prose & Petals, NIKA menghadirkan kurasi buku internasional yang dipilih secara khusus. Kamu pun punya kesempatan untuk mengenal bacaan dari berbagai penjuru dunia. Perpaduan buku, kopi, dan ruang yang tertata rapi ini membuat NIKA cocok untuk melepas penat, membaca ringan, atau sekadar menikmati waktu dengan lebih santai.

Libri e Caffè – Osaka, PIK 2

Sumber: Instagram/@libriecaffe.id

Sesuai namanya, Libri e Caffè menggabungkan buku dan kopi sebagai bagian utama dari konsepnya. Berlokasi di kawasan Osaka, PIK 2, kafe ini menghadirkan suasana ruang baca modern dengan koleksi buku yang beragam. Tata ruang yang lapang dan suasana yang relatif tenang membuat kamu betah membaca lebih lama atau bekerja dengan suasana yang lebih personal.

Libri e Caffè mencerminkan peran kafe sebagai third place, ruang di luar rumah dan kantor yang memberi tempat bagi aktivitas kreatif dan intelektual. Cocok untuk kamu yang ingin menikmati kopi sambil membaca atau sekadar menghabiskan waktu dengan ritme yang lebih pelan.

Maddison Cafe & Library – Cengkareng

Sumber: Google

Maddison Cafe & Library menghadirkan pengalaman membaca dengan suasana yang hangat dan terasa dekat. Rak buku yang tersebar di area kafe memberi kamu kesempatan untuk memilih bacaan dan membacanya langsung di tempat. Dengan pencahayaan yang lembut dan suasana yang cukup tenang, Maddison cocok untuk membaca buku fiksi, esai, maupun nonfiksi ringan sambil menikmati waktu luang.

Kehadiran Maddison menunjukkan bahwa membaca tidak selalu harus dilakukan di ruang formal seperti perpustakaan. Literasi juga bisa tumbuh di ruang santai yang menyatu dengan keseharian, membuat aktivitas membaca terasa lebih ringan dan mudah diakses.

Smiljan Cafe – Blok M 

Sumber: Instagram/@smiljan.space 
                                            

Smiljan Cafe di kawasan Blok M dikenal sebagai kafe yang konsisten menghadirkan suasana hangat dan bersahabat bagi pecinta buku. Beberapa sudutnya menyediakan koleksi bacaan yang bisa kamu nikmati, menjadikan pengalaman ngopi terasa lebih personal dan reflektif.

Dengan atmosfer yang tidak tergesa-gesa, Smiljan kerap menjadi tempat singgah bagi kamu yang ingin menenangkan diri, membaca beberapa halaman buku, atau sekadar menikmati waktu tanpa tuntutan produktivitas.

Library Cafe dan Budaya Membaca

Kehadiran library cafe di Jakarta menunjukkan perubahan cara kita menikmati aktivitas membaca. Buku kini tidak lagi terpisah dari kehidupan sosial, tetapi bisa kamu nikmati sambil ngopi, berbincang, atau melakukan aktivitas ringan lainnya. Sehingga kamu bisa menjadikan library cafe ini menjadi ruang yang mempertemukan literasi dengan gaya hidup urban yang lebih fleksibel.

Bagi Grameds yang ingin perlahan membangun kembali kebiasaan membaca, mengunjungi library cafe bisa menjadi langkah awal yang sederhana. Kamu tak perlu menuntaskan satu buku dalam sekali duduk beberapa halaman yang dibaca dengan suasana tenang sering kali sudah cukup untuk memberi ruang jeda dan refleksi.

Sebagai bagian dari ekosistem literasi, Gramedia terus mendukung hadirnya ruang baca alternatif yang mendekatkan buku dengan keseharian. Yuk, tetap terhubung dengan dunia literasi dan kepenulisan bersama Gramedia Writers and Readers Forum melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Sekuel Film 5 cm Hadir dengan Judul Baru. Adaptasi Novel?
08 January 2026

Sekuel Film 5 cm Hadir dengan Judul Baru. Adaptasi Novel?

#HappeningToday – Pengumuman sekuel film 5 cm (2012) oleh Soraya Intercine Films langsung memicu antusiasme sekaligus tanda tanya di kalangan penggemar. Film yang diadaptasi dari novel populer karya Donny Dirgantoro ini memang meninggalkan kesan mendalam sejak pertama kali dirilis lebih dari satu dekade lalu. Tak heran, kabar kelanjutannya pun cepat menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Salah satu hal yang paling disorot adalah perbedaan judul sekuel antara versi novel dan film. Jika sekuel novel 5 cm berjudul 5 cm: Aku, Kamu, Samudera, dan Bintang-Bintang, Soraya Intercine Films justru mengumumkan judul 5 cm: Revolusi Hati untuk film terbarunya. Perbedaan ini sempat menimbulkan berbagai spekulasi, mulai dari dugaan penyederhanaan judul hingga kemungkinan adaptasi bebas.

Namun, melalui unggahan poster perdana di TikTok, Soraya Intercine Films memberikan klarifikasi menarik. Dalam kolom komentar, pihak produksi menyampaikan bahwa film sekuel ini tidak diadaptasi dari novel lanjutan. Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa 5 cm: Revolusi Hati akan menjadi kisah baru yang berdiri sendiri di semesta 5 cm versi layar lebar.

Pernyataan dari TikTok Soraya Intercine Films. Sumber : TikTok

Kilas Balik 5 cm: Dari Buku ke Layar Lebar
Sebagai adaptasi dari novel terbitan Gramedia, 5 cm (2012) dikenal sebagai salah satu film Indonesia yang berhasil menerjemahkan kekuatan cerita sastra ke medium visual. Novel 5 cm karya Donny Dirgantoro mengisahkan persahabatan lima anak muda yaitu Genta, Arial, Zafran, Ian, dan Riani yang memutuskan untuk berpisah sementara demi mengejar mimpi masing-masing, sebelum akhirnya kembali bertemu dalam pendakian Gunung Semeru.

Film adaptasinya bukan hanya menyoroti dinamika persahabatan, tetapi juga menghadirkan lanskap alam Indonesia sebagai bagian penting dari narasi. Nilai-nilai tentang mimpi, idealisme, nasionalisme, dan keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman menjadi daya tarik utama yang membuat 5 cm dikenang hingga kini.

Kesuksesan film tersebut turut memperkuat posisi novel 5 cm sebagai salah satu karya sastra populer Indonesia yang lintas generasi. Hingga hari ini, buku 5 cm masih menjadi bacaan favorit bagi pembaca yang menyukai kisah persahabatan dan pencarian jati diri.

Persahabatan Genta dan kawan-kawan pada Film 5cm. Sumber : Instagram @saykoji 

Sekuel Film, Cerita Baru

Berbeda dengan sekuel novelnya yang membawa para tokoh menghadapi fase quarter-life crisis sembari menjelajahi keindahan alam Indonesia dari Jawa hingga Nusa Tenggara Barat, 5 cm: Revolusi Hati diperkirakan akan mengambil arah cerita yang berbeda. Karena tidak mengadaptasi novel lanjutan, film ini membuka ruang eksplorasi baru bagi para karakter maupun tema yang diangkat.

Meski detail cerita belum diungkap secara resmi, keputusan untuk menghadirkan kisah orisinal justru memunculkan rasa penasaran tersendiri. Apakah film ini akan tetap berfokus pada perjalanan batin para tokoh? Ataukah menghadirkan konflik dan sudut pandang baru yang relevan dengan kondisi generasi masa kini?

Yang jelas, 5 cm: Revolusi Hati akan berdiri sebagai lanjutan semesta film, bukan kelanjutan cerita novel. Hal ini menjadikannya menarik, baik bagi penonton lama yang tumbuh bersama 5 cm, maupun bagi generasi baru yang baru mengenal kisah persahabatan legendaris ini.

Bagi Grameds yang ingin kembali menyelami cerita awal perjalanan Genta dan kawan-kawan, membaca ulang novel 5 cm bisa menjadi cara menyenangkan untuk bernostalgia, sekaligus membandingkan bagaimana satu kisah berkembang di dua medium yang berbeda yaitu buku dan film.


Sebagai bagian dari ekosistem literasi, Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta buku. Yuk, terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan bersama Gramedia Writers and Readers Forum melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Di Tengah AI dan Gadget, Ini Tips Baca Buku di 2026
08 January 2026

Di Tengah AI dan Gadget, Ini Tips Baca Buku di 2026

#LiterasiAsik — Memasuki tahun 2026, AI dan gadget berkembang dengan kecepatan yang luar biasa, mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan. Saat ini, layar memainkan peran penting dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, belajar, hingga mencari hiburan. Ditengah derasnya arus informasi digital, membaca buku tetap menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan konsentrasi,memperluas wawasan, dan memberi ruang jeda dari distraksi teknologi .

Agar kegiatan membaca tetap relevan dan menyenangkan di tahun 2026, berikut beberapa tips yang bisa, Grameds terapkan.

Alokasikan Waktu Khusus untuk Membaca

Salah satu masalah terbesar dalam membaca adalah terganggu oleh perangkat elektronik. Oleh karena itu, usahakan untuk mengalokasikan waktu khusus untuk membaca, misalnya 20 hingga 30 menit sebelum tidur atau di pagi hari. Membaca menjadi ritual harian dan membantu mengembangkan konsentrasi.

Saat membaca, simpan perangkat elektronik

Sebaiknya letakkan ponsel kamu di samping atau atur ke mode senyap saat membaca buku. Kamu dapat berkonsentrasi lebih baik dan memahami teks dengan lebih baik saat membaca tanpa terganggu oleh notifikasi.

Prioritaskan Buku Fisik

Buku fisik mungkin menjadi pilihan yang nyaman di tengah meningkatnya waktu layar. Berbeda dengan menggunakan gadget, membaca buku cetak memungkinkan pembaca untuk berkonsentrasi lebih baik dan menghindari gangguan dari aplikasi atau informasi lain.

Tentukan Tujuan Membaca Anda

Tentukan tujuan kamu sebelum mulai membaca, apakah itu untuk memperluas pengetahuan, mencari hiburan, atau sekadar mengisi waktu luang. Membaca terasa lebih fokus dan bermakna ketika ada tujuan yang jelas.

Bergabunglah dengan Komunitas Literasi

Kamu dapat menjadi lebih antusias dalam membaca dengan bergabung dalam komunitas literasi atau membaca. Membaca menjadi kurang membosankan dan lebih menyenangkan ketika dibahas bersama teman atau komunitas.

Gunakan Teknologi dengan Bijak

Teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) juga dapat membantu dalam literasi. Misalnya, mereka dapat digunakan untuk melacak kemajuan membaca, merekomendasikan buku, atau membaca e-book saat bepergian. Menggunakan teknologi sebagai alat rather than sebagai pengalih perhatian sangat penting.
 


Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, budaya literasi tetap memiliki peran penting dalam memperluas sudut pandang dan mengasah daya pikir. Membaca buku dapat menjadi cara yang mudah namun efektif untuk mempelajari perspektif baru, mengasah konsentrasi, dan memperluas wawasan. Grameds dapat memulai dengan buku-buku yang menarik minat mereka dan memasukkan kebiasaan membaca ke dalam rutinitas harian jika ingin membentuk kebiasaan membaca.

Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Baru Lulus? Ini Skill Wajib agar Fresh Graduate Lebih Siap Kerja
06 January 2026

Baru Lulus? Ini Skill Wajib agar Fresh Graduate Lebih Siap Kerja

#CareerSpotlight — Tahun Baru, Kerjaan Baru Dong, Grameds!

Memulai karir setelah lulus kuliah membutuhkan persiapan yang matang, terutama bagi fresh graduate yang baru pertama kali memasuki dunia kerja. Di fase ini, tantangannya bukan hanya bersaing dengan sesama pencari kerja, tetapi juga bagaimana menunjukkan nilai dan potensi diri di hadapan rekruter.

Saat ini, perusahaan tidak lagi menilai kandidat hanya dari latar belakang pendidikan atau nilai akademis semata. Kemampuan kerja yang dapat diterapkan secara langsung di lingkungan profesional justru menjadi pertimbangan penting dalam proses rekrutmen.

Oleh karena itu, membekali diri dengan skill yang relevan sejak awal bisa membantu fresh graduate lebih siap menghadapi dunia kerja dan membuka peluang karier yang lebih luas. Jadi, jangan disepelekan ya, Grameds!

Berikut beberapa skill penting yang perlu Grameds miliki sebagai fresh graduate dalam memulai karier profesional:

Komunikasi

Kemampuan komunikasi menjadi salah satu skill paling dasar namun krusial di dunia kerja. Fresh graduate diharapkan mampu menyampaikan ide, pendapat, dan informasi dengan jelas, baik secara lisan maupun tulisan.

Komunikasi yang baik juga mencakup kemampuan mendengarkan, memahami instruksi, serta menyampaikan pesan secara profesional kepada atasan, rekan kerja, maupun klien. Skill ini akan sangat membantu dalam proses kerja tim dan penyelesaian tugas sehari-hari.

Adaptasi

Dunia kerja sangat dinamis dan penuh perubahan. Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi nilai tambah bagi fresh graduate. Kamu dituntut untuk cepat belajar, terbuka terhadap hal baru, serta mampu menyesuaikan diri dengan budaya kerja, sistem, dan ritme pekerjaan.

Fresh graduate yang adaptif cenderung lebih mudah berkembang dan dipercaya untuk menangani tanggung jawab baru.

Teamwork

Hampir semua pekerjaan menuntut kolaborasi. Kemampuan bekerja dalam tim menunjukkan bahwa kamu mampu menghargai perbedaan pendapat, berbagi tugas, serta berkontribusi demi mencapai tujuan bersama.

Perusahaan mencari kandidat yang tidak hanya unggul secara individu, tetapi juga mampu membangun kerja sama yang sehat dan produktif dalam tim.

Problem Solving

Masalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia kerja. Skill problem solving membantu fresh graduate untuk berpikir kritis, menganalisis situasi, dan mencari solusi yang tepat tanpa selalu bergantung pada atasan.

Kemampuan ini mencerminkan kedewasaan dalam bekerja serta kesiapan menghadapi tantangan di lingkungan profesional.

Time Management

Mengatur waktu dengan baik adalah kunci untuk bekerja secara efektif dan profesional. Fresh graduate perlu mampu menentukan prioritas, menyelesaikan tugas tepat waktu, serta mengelola beban kerja tanpa mengorbankan kualitas.

Time management yang baik juga mencerminkan sikap disiplin dan tanggung jawab, dua hal yang sangat dihargai oleh perusahaan.


Memiliki keterampilan yang tepat dapat membantu fresh graduate lebih siap menghadapi dinamika dunia kerja, mulai dari proses melamar hingga interview kerja. Yuk, mulai dengan mengenali potensi diri dan terus mengasah kemampuan yang relevan agar setiap langkah awal karier dapat dijalani dengan lebih terarah dan percaya diri.

Sebagai tambahan, Grameds juga bisa bergabung dengan komunitas GWRF (Gramedia Writer and Reader Forum) untuk berdiskusi seputar berbagai jenis literasi, mulai dari literasi membaca, literasi digital, hingga literasi sains. Jangan lupa ikuti Instagram @gwrf.id untuk mendapatkan informasi dan kegiatan terbaru seputar dunia literasi.