#HappeningToday — Hari Kartini sering diperingati dengan berbagai cara, mulai dari mengenakan kebaya hingga mengikuti berbagai kegiatan seremonial. Namun, di balik perayaan tersebut, ada satu hal yang bisa kita renungkan yaitu bagaimana kisah perempuan terus hidup dan berkembang hingga hari ini.
Kisah perempuan seringkali hadir dalam berbagai bentuk cerita baik dalam novel, film, maupun pengalaman sehari-hari. Bukan tanpa alasan, karena kehidupan perempuan sering kali bersinggungan dengan banyak hal, seperti tekanan sosial, ekspektasi lingkungan, tradisi yang mengikat, hingga persoalan tubuh dan identitas diri.
Hal-hal tersebut membuat cerita perempuan terasa kompleks dan berlapis. Ada pengalaman yang tidak selalu terlihat, ada suara yang tidak selalu terdengar, dan ada realita yang sering kali luput dari perhatian. Itulah mengapa banyak kisah perempuan terus diangkat, bukan hanya untuk diceritakan, tetapi juga untuk dipahami.
Melalui cerita-cerita perempuan, kita bisa melihat bahwa setiap individu memiliki latar belakang, pilihan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Dari situlah muncul berbagai perspektif yang membuat kisah perempuan selalu relevan untuk dibahas.
Rekomendasi Buku tentang Perempuan
Berikut beberapa buku yang mengangkat kisah perempuan dari perspektif yang berbeda:
1. Cantik Itu Luka – Eka Kurniawan

Buku ini berlatar masa kolonial, ketika perempuan terutama yang dianggap cantik sering menjadi sasaran kekerasan dan eksploitasi. Tokoh Dewi Ayu harus menjalani hidup yang penuh paksaan demi bertahan, sementara kecantikannya justru menjadi beban yang terasa seperti kutukan.
Kisah ini juga menyoroti bagaimana nasib tersebut berdampak pada generasi berikutnya, terutama anak-anak perempuannya yang mewarisi “kutukan” itu. Dengan alur yang panjang dan berlapis, cerita ini menghadirkan gambaran tentang trauma, warisan luka, dan bagaimana perempuan berusaha bertahan di tengah realita yang keras.
2. Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam – Dian Purnomo

Buku ini mengangkat kisah Magi Diela, seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya di Sumba, tetapi justru harus menghadapi realita pahit melalui praktik kawin tangkap. Ia diperlakukan tidak adil dan kehilangan kebebasan atas dirinya sendiri, hingga impian dan rencana hidupnya berubah secara drastis.
Dalam situasi tersebut, Magi harus berhadapan dengan keluarga, masyarakat, dan adat yang mengekangnya. Cerita ini memperlihatkan bagaimana tradisi dan kekuasaan bisa membatasi ruang perempuan, sekaligus menjadi bentuk suara bagi mereka yang selama ini sulit didengar
3. Entrok – Okky Madasari

Melalui kisah Marni dan Rahayu, novel ini menggambarkan kehidupan perempuan dalam sistem sosial dan politik yang mengekang, khususnya di masa Orde Baru. Dari keinginan sederhana hingga perjuangan bertahan hidup, Marni menunjukkan bagaimana perempuan harus bekerja keras untuk mendapatkan ruangnya sendiri.
Di sisi lain, Rahayu menghadirkan perspektif yang berbeda tentang keyakinan dan kebenaran. Cerita ini tidak hanya menjadi gambaran masa lalu, tetapi juga pengingat tentang pentingnya kesadaran, keberanian, dan perjuangan untuk mempertahankan hak atas diri sendiri.
4. Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

Kisah Srintil sebagai ronggeng menunjukkan bagaimana perempuan bisa menjadi simbol sekaligus objek dalam masyarakatnya. Di satu sisi ia dipuja karena perannya, tetapi di sisi lain hidupnya dikendalikan oleh tradisi dan keinginan orang lain. Kehidupan Srintil berubah drastis ketika peristiwa politik melanda, menghancurkan desa dan identitas yang selama ini ia jalani.
Pengalaman tersebut membuatnya perlahan menyadari nilai dirinya sebagai manusia. Cerita ini menggambarkan bagaimana perempuan berusaha menemukan jati diri di tengah tekanan lingkungan dan sejarah yang tidak berpihak
5. Korpus Uterus — Sasti Gotama

Buku ini berfokus pada tokoh Luh yang hidup dengan luka sejak lahir, sebagai anak dari kehamilan yang tidak diinginkan. Ia tumbuh tanpa kasih sayang yang cukup, hingga membentuk pandangannya tentang tubuh, rahim, dan kehidupan perempuan. Dalam perjalanannya, Luh bertemu dengan banyak perempuan yang mengalami pengalaman serupa, yang kemudian memengaruhi pilihan hidupnya.
Cerita ini menghadirkan refleksi tentang trauma, pilihan, dan bagaimana perempuan berusaha memahami serta mengambil kendali atas hidupnya, meski berada dalam situasi yang tidak mudah.
Membaca bukan hanya tentang menambah pengetahuan, tetapi juga tentang memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Melalui cerita perempuan dalam buku, kita diajak untuk melihat lebih dalam tentang apa yang sering kali tersembunyi.
Grameds, di momen Hari Kartini, mungkin ini saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan melihat kembali bahwa kisah perempuan tidak hanya hadir dalam sejarah, tetapi juga terus hidup di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari dan dalam setiap cerita yang kita baca.
Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.