Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
56 Tahun
#TumbuhBermakna
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
Monday Blues di Dunia Kerja, Cara Mengatasi Hari Senin yang Terasa Berat
27 April 2026

Monday Blues di Dunia Kerja, Cara Mengatasi Hari Senin yang Terasa Berat

#CareerSpotlight — Grameds, senin sering terasa berbeda. Setelah akhir pekan yang lebih santai, kembali ke rutinitas kerja bisa memunculkan rasa malas, cemas, atau bahkan kehilangan semangat. Kondisi ini sering disebut sebagai Monday blues. Istilah ini cukup sering digunakan untuk menggambarkan perasaan “berat” saat memulai minggu kerja.

Fenomena ini cukup umum terjadi, terutama di dunia kerja. Lalu, apa itu Monday blues dan bagaimana cara menghadapinya?


Apa Itu Monday Blues?

Monday blues adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan kurang bersemangat, cemas, atau bahkan enggan memulai aktivitas kerja di hari Senin.

Kondisi ini cukup sering dirasakan karena adanya perubahan ritme dari akhir pekan yang lebih santai ke rutinitas kerja yang kembali padat dan terstruktur. Setelah terbiasa dengan waktu yang lebih fleksibel, tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk kembali menyesuaikan diri. Ditambah dengan berbagai tanggung jawab yang sudah menunggu di awal minggu, tidak heran jika hari Senin terasa lebih berat dibanding hari lainnya.


Kenapa Monday Blues Bisa Terjadi?

Perasaan ini tidak muncul begitu saja. Ada beberapa hal yang membuat hari Senin terasa lebih berat:

1. Perubahan ritme dari santai ke produktif
Tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk kembali beradaptasi setelah dua hari beristirahat.

2. Tumpukan pekerjaan di awal minggu
Pekerjaan yang menunggu sejak akhir pekan sering kali membuat hari Senin terasa penuh bahkan sebelum dimulai.

3. Tekanan dan ekspektasi kerja
Target, deadline, dan tanggung jawab yang harus segera dijalankan bisa memicu rasa cemas.

4. Istirahat yang belum optimal
Akhir pekan yang tidak benar-benar dimanfaatkan untuk beristirahat bisa membuat tubuh masih terasa lelah.


Bagaimana Cara Menghadapinya?

Agar hari Senin tidak terasa terlalu berat, kamu bisa mencoba tips sederhana:

  • Mulai hari dengan ritme yang lebih santai tanpa tekanan untuk langsung produktif
  • Kerjakan tugas yang ringan terlebih dahulu untuk membangun momentum
  • Siapkan gambaran pekerjaan sejak hari Jumat agar tidak terasa menumpuk
  • Ciptakan hal kecil yang bisa dinantikan di hari Senin
  • Jaga pola istirahat di akhir pekan agar tubuh tetap siap menjalani minggu baru

Grameds, Hari Senin mungkin tidak selalu terasa menyenangkan, dan itu hal yang wajar. Perasaan berat di awal minggu bukan berarti kamu tidak mampu menjalaninya, tapi hanya tanda bahwa tubuh dan pikiran sedang beradaptasi kembali dengan ritme kerja.

Dengan memahami penyebabnya dan mengatur cara memulai hari, Senin tidak harus selalu terasa melelahkan.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

KPG Akan Terbitkan Novel “Tongueless” Karya Pemenang Chommanard International Women’s Literary Award 2025
27 April 2026

KPG Akan Terbitkan Novel “Tongueless” Karya Pemenang Chommanard International Women’s Literary Award 2025

Jakarta, 20 April 2026 — Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) akan menerbitkan versi bahasa Indonesia dari novel Tongueless karya Lau Yee-Wa, yang berhasil meraih penghargaan utama dalam Chommanard International Women’s Literary Award 2025. Rencana penerbitan ini menjadi bagian dari komitmen Gramedia dalam menghadirkan karya sastra perempuan dunia yang berkualitas bagi pembaca Indonesia.

Penghargaan Chommanard 2025 menetapkan Tongueless sebagai karya terbaik atas kekuatan naratifnya yang mengangkat isu bahasa, identitas, dan kontrol institusional. Novel ini sebelumnya telah mendapat perhatian internasional dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, memperkuat posisinya sebagai karya yang relevan lintas budaya.

 

Lau Yee-Wa pada Chommanard International Women’s Literary Award 2025

Keberhasilan ini juga melanjutkan jejak prestasi penulis Indonesia di ajang yang sama. Pada tahun sebelumnya, Ratih Kumala memenangkan Chommanard International Women’s Literary Award 2024 melalui novel Gadis Kretek yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU). Capaian ini menunjukkan konsistensi kontribusi penulis Indonesia dalam kancah sastra internasional.

Selain itu, karya sastra Indonesia kembali mendapat pengakuan global melalui masuknya novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori ke dalam delapan besar (shortlist) Chommanard International Women’s Literary Award 2025. Pencapaian ini semakin menegaskan kekuatan narasi Indonesia dalam mengangkat isu kemanusiaan yang universal.

 

Leila S. Chudori  pada Chommanard International Women’s Literary Award 2025


Daftar delapan besar Chommanard 2025 juga mencakup berbagai karya dari penulis lintas negara, termasuk Taiwan Travelogue karya Yang Shuang-zi, yang turut masuk dalam shortlist International Booker Prize 2026. Hal ini menunjukkan bahwa ajang Chommanard menjadi salah satu indikator penting dalam memetakan karya sastra perempuan yang berpotensi di tingkat global.

Chommanard International Women’s Literary Award sendiri merupakan penghargaan sastra internasional yang bertujuan untuk mendukung dan mengangkat suara penulis perempuan dari berbagai negara. Diselenggarakan di Thailand, ajang ini menjadi platform penting dalam memperluas dialog lintas budaya melalui karya sastra.

Melalui penerbitan Tongueless dalam bahasa Indonesia, KPG berharap dapat menghadirkan perspektif baru bagi pembaca serta memperkaya ekosistem literasi nasional dengan karya-karya perempuan yang kuat, reflektif, dan relevan dengan isu global.

Luncurkan Buku “The Untold Story”, Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani Angkat Kisah Pengabdian dan Kepemimpinan Perempuan
27 April 2026

Luncurkan Buku “The Untold Story”, Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani Angkat Kisah Pengabdian dan Kepemimpinan Perempuan

Solo, 26 April 2026 — Astrid Widayani bersama penerbit Gramedia dan Solopos secara resmi meluncurkan buku perdananya berjudul “The Untold Story” dalam acara book launch yang digelar pada Minggu, 26 April 2026 di Solo Square Mall. Peluncuran ini menjadi momentum penting dalam memperkenalkan gagasan, perjalanan, serta refleksi kepemimpinan seorang perempuan di ruang publik kepada masyarakat luas. 

Mengusung tema “Merayakan Perjalanan Astrid Widayani : Bertumbuh, Berkarya, Berdampak”, kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni peluncuran buku, tetapi juga ruang dialog terbuka antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat. 

Buku “The Untold Story” mengangkat perjalanan personal Astrid Widayani yang berangkat dari dunia akademik hingga kiprahnya sebagai Wakil Wali Kota Surakarta. Berangkat dari kegelisahan sederhana tentang kecintaan terhadap kota, buku ini merefleksikan makna pengabdian yang tidak selalu tentang pencapaian besar, melainkan tentang konsistensi menjaga nilai, keberanian menghadapi ketidakpastian, serta kejujuran dalam menjadi diri sendiri. 

“Dulu saya seorang rektor, dengan ruang kelas yang dibatasi dinding. Hari ini, ruang kelas saya adalah seluruh kota,” ujar Astrid Widayani. Ia menambahkan bahwa proses kepemimpinan adalah ruang belajar yang terus berjalan. “Saya belajar dari masyarakat, dari dinamika kota, dari setiap persoalan yang hadir.” 

Buku ini juga tidak disusun sebagai profil formal, melainkan potret utuh perjalanan personal—termasuk keputusan besar meninggalkan jabatan rektor, memasuki dunia politik, hingga proses adaptasi dalam menjalankan peran di pemerintahan. Astrid turut membagikan sisi yang jarang terlihat, termasuk pergulatan sebagai perempuan dalam menyeimbangkan peran keluarga dan tanggung jawab publik. “Di balik jabatan, saya tetap seorang ibu. Menjaga keseimbangan itu tidak mudah, tapi di situlah saya belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal keputusan, tapi juga empati,” jelasnya. 

Lebih jauh, buku ini menjadi bentuk kecintaan Astrid terhadap Kota Solo sekaligus refleksi upaya menghidupkan kembali semangat Solo: The Spirit of Java melalui inovasi dan capaian selama menjabat sebagai Wakil Wali Kota. “Solo adalah rumah yang saya cintai. Apa yang saya lakukan hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang untuk menghadirkan energi baru bagi kota ini,” tuturnya. 

Peluncuran buku ini juga turut dihadiri tokoh-tokoh perempuan Kota Solo serta perwakilan organisasi masyarakat. Sejumlah tokoh nasional hadir, di antaranya Iriana Joko Widodo dan Nawal Arafah Yasin.

Peluncuran buku ini juga menjadi bentuk kontribusi dalam mendorong peningkatan literasi masyarakat, sekaligus memperkuat citra Pemerintah Kota Surakarta sebagai institusi yang terbuka terhadap gagasan dan pengembangan intelektual. Melalui “The Untold Story”, Astrid berharap kisah perjalanannya dapat menjadi inspirasi, khususnya bagi perempuan dan generasi muda, untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman serta mengambil peran dalam ruang pengabdian yang lebih luas.

Gramedia Gelar Konferensi Pers “Rimba Kata 2026”, Hadirkan Festival Literasi Anak Interaktif Bersama Bank Syariah Nasional
24 April 2026

Gramedia Gelar Konferensi Pers “Rimba Kata 2026”, Hadirkan Festival Literasi Anak Interaktif Bersama Bank Syariah Nasional

Tangerang Selatan, 23 April 2026 — Menjawab tantangan literasi anak di tengah pesatnya perkembangan era digital, Gramedia resmi memperkenalkan Festival Literasi Anak Rimba Kata 2026 melalui konferensi pers yang diselenggarakan pada 23 April 2026 di Gramedia World Emerald Bintaro. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan pengalaman literasi yang lebih relevan, interaktif, dan menyenangkan bagi anak-anak Indonesia.

Tidak hanya sebagai ajang festival, Rimba Kata diposisikan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem literasi yang melibatkan berbagai pihak. Tahun ini, Gramedia menggandeng PT Bank Syariah Nasional (Bank BSN) sebagai mitra strategis untuk memperluas jangkauan literasi anak secara lebih inklusif.

Festival ini akan berlangsung pada 28 April hingga 3 Mei 2026 di Bintaro Xchange Mall 2, dengan menghadirkan beragam aktivitas interaktif yang menggabungkan unsur edukasi dan hiburan bagi anak dan keluarga.

Konferensi pers ini menghadirkan sejumlah narasumber lintas perspektif, yakni Vice GM Penerbit Gramedia Noni Mira, penulis Rizal Iwan, serta penyanyi muda Quinn Salman.

Kehadiran para narasumber memberikan pandangan yang komprehensif mengenai pentingnya literasi anak, dari sisi industri, kreator, hingga sektor finansial.

Di tengah meningkatnya paparan digital pada anak, tantangan dalam menumbuhkan minat baca dan menulis menjadi semakin kompleks. Melalui Rimba Kata, Gramedia menghadirkan pendekatan literasi yang lebih dekat dengan keseharian anak dan menyenangkan, agar anak dapat merasakan bahwa membaca dan menulis adalah bagian dari petualangan mereka.

“Hari ini tantangan literasi bukan hanya soal akses buku, tetapi bagaimana membuat anak merasa bahwa membaca dan menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Rimba Kata kami hadirkan sebagai ruang di mana anak bisa belajar tanpa merasa sedang belajar,” ujar Noni Mira, Vice GM Penerbit Gramedia.

Kolaborasi dengan sektor finansial juga menjadi langkah strategis dalam memperluas dampak literasi. 

Kurnia Muhamadi, Kepala Divisi Network & Digital Sales Bank Syariah Nasional (Bank BSN) menyampaikan bahwa keikutsertaan Bank BSN dalam program ini merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam membangun generasi masa depan.

“Kami memandang literasi sebagai bagian dari investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam mengambil keputusan. Prinsip berkah dan amanah menjadi landasan Bank BSN dalam setiap inisiatif, termasuk dalam mendukung literasi anak melalui program seperti Rimba Kata," ujar Kurnia Muhamadi, Kepala Divisi Network & Digital Sales Bank Syariah Nasional (Bank BSN).

Mengusung tema #SaatnyaBertualang, Rimba Kata menghadirkan lima zona pengalaman literasi, yaitu area membaca, area berpikir, area penulis, area berimajinasi, dan area berbicara. Setiap zona dirancang untuk mendorong anak menjadi pembaca aktif sekaligus kreator yang mampu mengekspresikan ide dan imajinasinya.

Pada puncak acara tanggal 1–3 Mei 2026, festival ini akan menghadirkan berbagai figur inspiratif seperti Widi Mulia, serta Quinn Salman, dan sesi mendongeng bersama pendongeng profesional seperti Awam Prakoso dan Palupi Mutiasih.

Melalui Rimba Kata, Gramedia ingin menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan dasar, melainkan fondasi penting dalam membentuk generasi yang kreatif, kritis, dan adaptif di masa depan.

Mengenal Istilah Tsundoku: Kebiasaan Membeli Buku Tanpa Sempat Membacanya
24 April 2026

Mengenal Istilah Tsundoku: Kebiasaan Membeli Buku Tanpa Sempat Membacanya

#LiterasiAsik — Pernah membeli buku karena menarik, tapi akhirnya hanya disimpan di rak tanpa sempat dibaca? Atau justru terus menambah koleksi buku meski beberapa di antaranya belum tersentuh? Nah, Grameds, bisa jadi kamu sedang mengalami tsundoku.

Fenomena ini cukup umum terjadi, utamanya di kalangan pecinta buku. Lalu, apa itu tsundoku dan bagaimana cara menyikapinya?


Apa itu Tsundoku?

Tsundoku adalah istilah dari Jepang yang merujuk pada kebiasaan membeli buku, tetapi tidak langsung membacanya, hingga akhirnya buku-buku tersebut terus menumpuk.

Istilah ini berasal dari gabungan kata tsunde-oku (menumpuk sesuatu untuk nanti) dan dokusho (membaca buku). Meski terdengar sederhana , tsundoku menjadi fenomena yang cukup umum, terutama di kalangan pecinta buku.


Kenapa Tsundoku Bisa Terjadi?

Ada beberapa alasan mengapa seseorang bisa mengalami tsundoku, dan seringkali terjadi tanpa disadari, diantaranya:

1. Rasa antusias saat menemukan buku yang menarik
Terkadang seseorang bisa merasa buku tersebut harus dimiliki, meskipun belum tentu langsung dibaca. Jadi, rasa ingin memiliki buku sering kali lebih besar daripada kesiapan untuk membacanya. 

2. Keinginan untuk terus belajar atau menambah wawasan
Membeli buku seringkali terasa seperti langkah awal untuk menjadi lebih produktif, meski akhirnya belum sempat direalisasikan.

3. Keterbatasan waktu 
Di tengah aktivitas yang padat, waktu membaca menjadi hal yang tertunda, sementara daftar buku yang ingin dibaca terus bertambah.

4. FOMO
Membeli buku karena sedang tren sebenarnya merupakan hal yang wajar, tetapi membaca bukan hanya soal mengikuti apa yang sedang populer, tetapi tentang menemukan kecocokan antara isi bacaan dan diri sendiri.


Apakah Tsundoku Itu Buruk?

Tsundoku tidak bisa dikatakan sebuah penyakit atau sindrom karena belum ada penelitian medisnya, hanya istilah yang muncul. Tsundoku juga bukan berarti seorang malas membaca. Justru, kebiasaan ini menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap buku dan keinginan untuk terus belajar.

Banyak orang melihat tumpukan buku sebagai reading list yang baru akan dibaca suatu saat. Bahkan memiliki banyak buku yang belum dibaca bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak hal yang bisa dipelajari.


Bagaimana Cara Menyikapinya?

Jika mulai merasa kewalahan dengan tumpukan buku, kamu bisa mencoba beberapa cara berikut:

  • Mulai lebih selektif saat membeli buku, sesuaikan dengan waktu membaca yang dimiliki
  • Prioritaskan buku yang paling menarik perhatian untuk dibaca lebih dulu
  • Luangkan waktu khusus untuk membaca, meski hanya beberapa menit setiap hari
  • Hindari membeli buku baru sebelum menyelesaikan beberapa buku yang sudah dimiliki
  • Ingat bahwa membaca adalah proses yang dinikmati, bukan sekadar diselesaikan

Pada akhirnya, membaca bukan soal seberapa banyak buku yang dimiliki, tetapi bagaimana kita menikmati prosesnya

Di tengah banyaknya pilihan bacaan, tsundoku menjadi hal yang wajar terjadi. Yang terpenting, jangan sampai tumpukan buku justru membuat kita lupa untuk menikmati isi di dalamnya.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.