Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
56 Tahun
#TumbuhBermakna
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
Launching “Nayan dan Misteri Warna”, Sebuah Buku Edukasi Seputar Buta Warna pada Anak melalui Cerita Menarik dan Inspiratif
04 May 2026

Launching “Nayan dan Misteri Warna”, Sebuah Buku Edukasi Seputar Buta Warna pada Anak melalui Cerita Menarik dan Inspiratif

Bandung, 2 Mei 2026 — RS Mata Cicendo bersama Gramedia menghadirkan kegiatan literasi edukatif melalui peluncuran buku “NAYAN dan Misteri Warna” yang ditulis oleh Dr. dr. Antonia Kartika, SpM(K), M.Kes dan Dr. dr. Aaron Tigor Sihombing, Sp.U(K), diselenggarakan di Gramedia Trans Studio Bandung.  Acara ini menjadi wadah edukasi bagi anak dan orang tua untuk lebih memahami gangguan penglihatan warna atau buta warna sejak dini. 

Buku “NAYAN dan Misteri Warna” mengangkat cerita yang dekat dengan kehidupan anak, dengan pendekatan yang ringan dan menyenangkan dalam memperkenalkan konsep perbedaan persepsi warna. Kehadirannya diharapkan dapat menjadi media pembelajaran yang tepat dan menyenangkan sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya kesehatan mata sejak usia dini. 

Sebagai rangkaian acara, akan diselenggarakan lomba mewarnai untuk anak-anak dengan dua kategori, yaitu Kategori A untuk tingkat TK A–TK B dan Kategori B untuk siswa kelas 1–3 SD. Peserta yang telah mendaftar akan mendapatkan crayon 12 warna, snack box, kertas siap warna, serta berkesempatan mengikuti kegiatan launching buku dan talkshow mengenai kesehatan mata.  Selain itu, peserta juga akan mendapatkan voucher kacamata dan voucher pemeriksaan tes buta warna. 

Talkshow Kesehatan Mata mengangkat topik “Gangguan Penglihatan Warna/Buta Warna pada Anak”, yang  menghadirkan narasumber Dr. dr. Antonia Kartika, SpM(K)., M.Kes.  Melalui talkshow ini, orang tua dan anak diharapkan dapat memperoleh edukasi serta pemahaman mengenai pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan khususnya warna/buta warna pada anak. 

Dengan kolaborasi ini, RS Mata Cicendo dan Gramedia berkomitmen untuk terus menghadirkan program literasi yang edukatif dan bermanfaat bagi masyarakat luas. 

Dorong Penulis Cilik Masa Depan, Gramedia Fasilitasi Anak Terbitkan Karya Melalui CERIA
04 May 2026

Dorong Penulis Cilik Masa Depan, Gramedia Fasilitasi Anak Terbitkan Karya Melalui CERIA

Jakarta, 4 Mei 2026 — Gramedia menghadirkan program literasi nasional bertajuk CERIA: Cerita Anak Nusantara, sebuah lomba kepenulisan cerita pendek yang ditujukan bagi anak-anak Indonesia. Program ini berlangsung mulai 16 April hingga 16 Juni 2026 dan menjadi bagian dari kampanye #LiterasiKaryaAsli yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menghargai karya orisinal sekaligus mencegah praktik pembajakan buku sejak dini. 

Melalui CERIA, Gramedia membuka ruang kreatif bagi anak-anak tingkat SD kelas 4-6 hingga SMP kelas 1-2 untuk menyalurkan ide dan imajinasi mereka dalam bentuk tulisan. Tema yang diangkat pun dekat dengan kehidupan sehari-hari anak, seperti keluarga dan persahabatan, sehingga peserta dapat lebih mudah mengekspresikan pengalaman dan sudut pandang mereka.

Berbeda dari lomba menulis pada umumnya, CERIA menghadirkan pengalaman literasi yang menyeluruh. Peserta akan belajar mengembangkan kemampuan menulis, mengembangkan karya, hingga kesempatan untuk diterbitkan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu anak memahami proses di balik sebuah karya sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap buku dan penulis, sekaligus memberikan pemahaman tentang nilai sebuah karya.

“Lewat CERIA, kami ingin anak-anak bisa mulai berani menulis dan bercerita dengan cara mereka sendiri. Kami percaya setiap anak punya cerita yang unik, dan program ini jadi ruang untuk itu. Di saat yang sama, kami juga ingin mengenalkan sejak dini bahwa setiap karya itu punya nilai dan perlu dihargai. Harapannya, dari sini bisa tumbuh generasi penulis muda yang bukan cuma kreatif, tapi juga punya kesadaran akan pentingnya karya orisinal,” ujar Rezza Patria Wibowo PR Manager Gramedia. 

Untuk mengikuti Lomba CERIA, proses pendaftarannya mudah dan praktis. Peserta hanya perlu membeli buku “Rahasia Menulis Cerita” di toko Gramedia atau melalui Gramedia.com, kemudian mengisi formulir pendaftaran dan mengunggah foto struk pembelian. Setelah itu, peserta sudah dapat langsung mengikuti lomba dengan mengumpulkan karya melalui platform yang telah disediakan 

Sebanyak 20 peserta dengan naskah terbaik akan diumumkan pada 23 Juli, bertepatan dengan Hari Anak Nasional. Setelah pengumuman, para peserta terpilih akan mengikuti rangkaian program lanjutan yang meliputi sesi pembinaan, awarding, peluncuran buku, serta, total hadiah mencapai 45 juta rupiah. Selanjutnya, karya mereka akan diterbitkan dalam bentuk buku cetak dan e-book, serta dipasarkan di seluruh toko Gramedia di Indonesia. 

Melalui program ini, Gramedia berharap dapat melahirkan generasi penulis muda yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi dalam menghargai karya asli. Lebih dari sekadar kompetisi, CERIA diharapkan menjadi wadah bagi anak-anak Indonesia untuk tumbuh, berkarya, dan menemukan makna dari setiap cerita yang mereka tulis, sejalan dengan semangat #TumbuhBermakna.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Lomba Kepenulisan CERIA, masyarakat dapat mengunjungi akun Instagram @ceria.gramedia atau @gwrf.id, serta mendatangi toko Gramedia terdekat di wilayah masing-masing.

Hari Pendidikan Nasional 2026 : Apa Makna dari Temanya?
02 May 2026

Hari Pendidikan Nasional 2026 : Apa Makna dari Temanya?

#HappeningToday — Grameds, setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Momen ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari.

Pada tahun 2026 ini, pemerintah mengangkat tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema ini menekankan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah atau pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan semua pihak.


Apa Itu Hari Pendidikan Nasional?

Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap 2 Mei untuk mengenang Ki Hajar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan di Indonesia sekaligus pendiri Taman Siswa. Lembaga ini akhirnya menjadi landasan pendidikan bagi masyarakat dengan akses sekolah terbatas.

Ki Hajar Dewantara dikenal dengan gagasannya bahwa pendidikan harus dapat diakses oleh semua kalangan, serta berperan dalam membentuk karakter dan pemikiran yang merdeka. Prinsip ini masih relevan hingga sekarang, terutama dalam melihat pendidikan sebagai proses yang membentuk manusia secara utuh.


Makna Tema Hari Pendidikan Nasional 2026

Mengutip dari Pedoman Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026, tema yang diangkat adalah "Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua" menunjukkan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pendidik, peserta didik, orang tua, hingga masyarakat luas.

Pendidikan bermutu tidak hanya dilihat dari hasil akademik, tetapi juga dari bagaimana seseorang berkembang secara karakter, memiliki integritas, serta mampu menghadapi tantangan di masa depan. Karena itu, pendidikan perlu dibangun bersama agar bisa lebih merata, dan sesuai dengan kebutuhan zaman.


Pendidikan di Era Sekarang

Di tengah perkembangan digital yang pesat, proses belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Informasi bisa diakses dengan mudah, tetapi juga perlu disaring dengan bijak.

Belajar kini bisa dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari membaca, berdiskusi, hingga belajar dari pengalaman sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan terus berkembang mengikuti perubahan zaman.


Bagaimana Cara Menumbuhkan Semangat Belajar?

Menjaga semangat belajar bisa dimulai dari hal-hal sederhana:

1. Menentukan tujuan yang jelas
Mengetahui alasan di balik proses belajar bisa membantu menjaga motivasi tetap stabil. Tujuan yang jelas membuat proses belajar terasa lebih terarah, sehingga tidak mudah kehilangan fokus di tengah jalan. Tujuan ini tidak harus besar, bisa dimulai dari hal sederhana seperti memahami satu topik atau menyelesaikan satu materi.

2. Mencari metode belajar yang sesuai
Setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda. Ada yang lebih mudah memahami lewat membaca, mendengar, menulis, atau praktik langsung. Menemukan metode yang paling nyaman dapat membantu proses belajar menjadi lebih efektif dan tidak terasa membebani.

3. Menyisihkan waktu secara konsisten
Belajar tidak harus dilakukan dalam waktu yang lama sekaligus. Justru, kebiasaan belajar yang dilakukan secara rutin, meskipun dalam durasi singkat, bisa memberikan hasil yang lebih optimal. Konsistensi membantu membentuk ritme belajar yang lebih stabil.

4. Mengurangi distraksi
Lingkungan yang penuh gangguan dapat membuat fokus mudah terpecah. Mengurangi distraksi seperti notifikasi, media sosial, atau kebiasaan multitasking bisa membantu meningkatkan konsentrasi. Dengan fokus yang lebih baik, proses belajar pun menjadi lebih efisien.


Hari Pendidikan sebagai Pengingat

Hari Pendidikan Nasional menjadi momen untuk kembali melihat bagaimana kita memaknai proses belajar.

Belajar bukan hanya tentang kewajiban, tetapi juga tentang kesempatan untuk terus berkembang. Dalam prosesnya, setiap orang memiliki peran, baik sebagai pelajar, pendidik, maupun bagian dari masyarakat yang ikut mendukung pendidikan.

Grameds, pendidikan tidak selalu harus terasa berat. Kadang, hal kecil seperti membaca satu halaman buku atau memahami satu hal baru sudah menjadi langkah yang berarti.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Apa itu Procrastinating? Ini Alasan Kenapa Kita Suka Menunda Hal Penting
29 April 2026

Apa itu Procrastinating? Ini Alasan Kenapa Kita Suka Menunda Hal Penting

#LiterasiAsik — Grameds, pernah merasa tugas penting justru ditunda-tunda, tapi hal kecil seperti scroll media sosial atau menonton film bisa dilakukan dengan cepat? Kondisi ini sering kali disebut dengan procrastinating dan sering terjadi tanpa disadari, dan dialami banyak orang.


Apa itu Procrastinating?

Procrastinating atau prokrastinasi adalah kebiasaan menunda pekerjaan penting dan menggantinya dengan aktivitas lain yang lebih ringan atau menyenangkan, meskipun kita tahu hal tersebut perlu segera diselesaikan. Hal ini terjadi bukan sekadar soal malas. Ada beberapa faktor yang membuat kita lebih mudah mengerjakan hal sepele dibanding hal yang sebenarnya lebih penting.


Kenapa Kita Sering Procrastinating?

Procrastinating seringkali berkaitan dengan bagaimana cara kita memandang tugas tersebut. Salah satu penyebabnya adalah karena tugas terasa terlalu besar atau kompleks. Ketika pekerjaan terlihat sulit, kita cenderung menghindarinya untuk mengurangi rasa tidak nyaman.

Selain itu, ada juga faktor takut gagal atau merasa hasilnya tidak akan cukup baik, yang membuat seseorang menunda untuk memulai. Kurangnya kejelasan juga bisa jadi penyebab. Ketika tidak tahu harus mulai dari mana, menunda terasa seperti pilihan yang paling mudah.


Kenapa Hal Sepele Justru Cepat Dilakukan?

Berbeda dengan tugas penting, hal-hal kecil biasanya terasa lebih ringan dan tidak membutuhkan banyak energi.

Aktivitas seperti membuka media sosial, menonton video, atau melakukan hal sederhana lainnya memberikan kepuasan instan. Otak cenderung memilih hal yang cepat memberikan rasa nyaman, meskipun dampaknya tidak terlalu signifikan.

Selain itu, hal sepele tidak memiliki tekanan besar. Tidak ada ekspektasi tinggi atau risiko gagal, sehingga terasa lebih mudah untuk langsung dikerjakan.


Apa Dampak Procrastinating Jika Terus Dibiarkan?


Kebiasaan ini dapat membuat pekerjaan penting semakin menumpuk. Akibatnya, rasa cemas dan tekanan justru meningkat karena waktu yang semakin sempit.

Dalam jangka panjang, menunda hal penting juga bisa mempengaruhi produktivitas dan kepercayaan diri, terutama jika hal tersebut terus berulang.


Bagaimana Cara Mengatasi Procrastinating?

Ada beberapa cara sederhana yang bisa dicoba untuk mulai mengubah kebiasaan ini:

1. Memulai dari bagian kecil
Tidak perlu langsung menyelesaikan semuanya. Memulai dari bagian kecil dapat membantu mengurangi rasa berat di awal.

2. Menyusun prioritas yang jelas
Menentukan prioritas dapat membantu menetapkan apa yang perlu segera diselesaikan terlebih dahulu.

3. Membatasi distraksi
Mengurangi hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian seperti notifikasi atau media sosial dapat membantu agar lebih fokus.

4. Menggunakan batasan waktu
Memberi batas waktu tertentu untuk bekerja, misalnya 15-30 menit, bisa membantu otak agar tidak terlalu terbebani.

5. Fokus pada proses, bukan hasil
Terkadang rasa takut muncul karena memikirkan hasil akhir. Mulai saja dulu, tanpa harus sempurna.


Pada akhirnya, menunda bukan berarti tidak mampu, tetapi seringkali karena kita belum menemukan cara yang tepat untuk memulai. Dengan memahami penyebabnya, kita dapat lebih mudah mengatur ritme kerja dan mengambil langkah kecil untuk menyelesaikan hal-hal penting.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Merayakan Hari Puisi Sedunia: Ini Asal Usulnya dan Buku Puisi yang Layak Dibaca
28 April 2026

Merayakan Hari Puisi Sedunia: Ini Asal Usulnya dan Buku Puisi yang Layak Dibaca

#HappeningToday — Grameds, ada kalanya rangkaian kata sederhana terasa lebih dalam dan menyentuh perasaan, menggambarkan hal-hal yang sulit diungkapkan secara langsung. Puisi hadir bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dirasakan.

Tidak seperti tulisan pada umumnya, puisi seringkali tidak menjelaskan sesuatu secara detail. Justru dari keterbatasan kata, puisi memberi ruang bagi pembaca untuk menafsirkan, membayangkan, dan menemukan makna yang terasa dekat dengan pengalaman masing-masing.


Asal Usul Hari Puisi Nasional

Setiap 28 April diperingati sebagai Hari Puisi Nasional untuk mengenang Chairil Anwar, pelopor puisi modern Indonesia yang dikenal lewat gaya penulisan yang lebih bebas dan ekspresif.

Penetapan tanggal ini juga menjadi pengingat bahwa puisi memiliki peran penting dalam perjalanan sastra Indonesia, serta terus berkembang mengikuti zaman dan cara orang mengekspresikan diri.


Puisi sebagai Cara Mengekspresikan Diri

Puisi sering menjadi ruang untuk menyampaikan hal-hal yang tidak selalu mudah diucapkan secara langsung. Mulai dari perasaan sederhana, kegelisahan, hingga harapan, semuanya bisa dituangkan dalam bentuk yang singkat, tetapi tetap bermakna.

Bagi sebagian orang, membaca puisi bisa menghadirkan ketenangan. Sementara bagi yang lain, menulis puisi menjadi cara untuk memahami diri sendiri dengan lebih jujur.


Puisi di Sekitar Kita

Tanpa disadari, unsur puisi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dari lirik lagu, caption singkat di media sosial, hingga potongan kalimat yang terasa menyentuh, semuanya menunjukkan bahwa puisi tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang kaku.

Puisi bisa muncul dari hal-hal sederhana dan justru di situlah kekuatannya. Ia tidak perlu panjang atau rumit untuk bisa meninggalkan kesan.


Rekomendasi Buku Puisi

Untuk merayakan hari puisi lewat bacaan, lima buku ini bisa menjadi pilihan awal yang tepat untuk dibaca.


1. Air Kata-Kata — Sindhunata

Puisi dalam buku ini terasa mengalir dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menggunakan bahasa yang sederhana, tapi tetap kuat untuk menyampaikan refleksi dan kritik. Ada momen yang terasa tenang, tapi di sisi lain juga bisa cukup menohok.


2.. Tidak Ada New York Hari Ini — M. Aan Mansyur

Buku ini banyak membahas tentang rindu, jarak, dan kehilangan dengan cara yang sederhana dan tidak berlebihan. Gaya penulisannya tenang, tapi tetap terasa dalam. Cocok untuk yang suka puisi dengan suasana reflektif.


3. Keterampilan Membaca Laut — Ama Gaspar

Puisi-puisinya terasa ringan dibaca, tapi tetap punya makna yang bisa direnungkan. Laut menjadi gambaran utama yang mewakili perasaan dan pengalaman hidup. Buku ini cocok dibaca saat ingin menikmati suasana yang lebih tenang.


4. Ayat-Ayat Api — Sapardi Djoko Damono

Sapardi dikenal dengan gaya puisinya yang singkat dan sederhana. Di buku ini, ia tetap konsisten menghadirkan puisi yang tidak panjang, tapi tetap punya makna yang kuat. Banyak hal kecil yang diangkat jadi sesuatu yang terasa dekat.


5. Salah Piknik — Joko Pinurbo

Puisi dalam buku ini terasa santai dan mudah dipahami. Joko Pinurbo sering menggunakan humor, tapi tetap menyisipkan pesan tentang kehidupan sehari-hari. Ringan dibaca, tapi tetap meninggalkan kesan.


Puisi tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang untuk bisa terasa dekat, Grameds. Terkadang, satu baris saja sudah cukup untuk tinggal lebih lama dan membekas dalam ingatan. 


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.