Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
55 Tahun
#TumbuhBersama masyarakat
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
7 Rekomendasi Buku Fantasi untuk Kamu yang Suka Petualangan
12 March 2026

7 Rekomendasi Buku Fantasi untuk Kamu yang Suka Petualangan

#LiterasiAsik — Buku fantasi selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi para pembaca. Melalui cerita yang penuh imajinasi, pembaca diajak menjelajahi dunia yang berbeda dari kehidupan sehari-hari, mulai dari dunia sihir, makhluk mitologi, hingga dunia paralel yang penuh misteri. Tak heran jika genre fantasi menjadi salah satu genre yang banyak digemari oleh berbagai kalangan.Selain menghadirkan petualangan yang seru, buku fantasi juga sering kali menyisipkan nilai tentang persahabatan, keberanian, hingga perjalanan menemukan jati diri. Jika Grameds sedang mencari bacaan dengan cerita yang penuh imajinasi, beberapa buku fantasi berikut bisa menjadi pilihan menarik untuk dibaca:

  1. Bumi — Tere Liye

    Awal dari serial fantasi populer tentang petualangan Raib, Seli, dan Ali yang menemukan keberadaan dunia paralel dengan berbagai klan dan kekuatan unik. Dalam perjalanan mereka, ketiganya harus menghadapi berbagai tantangan, rahasia dunia lain, serta konflik yang semakin besar di setiap buku dalam seri ini. Melalui rangkaian cerita yang penuh aksi, misteri, dan petualangan, novel ini mengajak pembaca menjelajahi sebuah universe baru yang berbeda dari kehidupan manusia biasa.

2. Di Tanah Lada — Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang anak bernama Ava, gadis kecil berusia 6 tahun yang sering mendapat tindak kekerasan dari ayahnya. Ava bertemu dengan anak laki-laki. Dari pertemuan tersebut, Ava memulai petualangan yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Dengan sudut pandang anak yang polos dan imajinatif, cerita ini menghadirkan kisah yang sederhana namun penuh makna tentang persahabatan, keberanian, dan harapan.

3. Keajaiban Toko Kelontong Namiya — Keigo Higashino

Novel ini menghadirkan cerita dengan sentuhan magical realism tentang sebuah toko kelontong yang memiliki kemampuan misterius: menerima surat dari masa lalu. Orang-orang yang menuliskan masalah mereka akan mendapatkan balasan berupa saran yang sering kali mengubah arah hidup mereka. Melalui kisah yang saling terhubung, novel ini menghadirkan cerita yang hangat, menyentuh, dan mengajak pembaca merenungkan berbagai pilihan hidup.

4. The Red Palace — June Hur

Novel ini menghadirkan kisah misteri yang berlatar di istana kerajaan Korea pada masa Dinasti Joseon. Ceritanya mengikuti seorang perawat istana yang terlibat dalam penyelidikan pembunuhan yang berkaitan dengan keluarga kerajaan. Dalam usahanya mengungkap kebenaran, ia harus menghadapi berbagai rahasia, intrik politik, serta bahaya yang mengancam dirinya. Alur cerita yang penuh ketegangan membuat novel ini terasa menarik bagi pembaca yang menyukai misteri dengan nuansa sejarah dan intrik kerajaan.

5. Lonely Castle in the Mirror — Mizuki Tsujimura

Novel ini bercerita tentang sekelompok remaja yang menemukan sebuah kastil misterius melalui cermin di kamar mereka. Di dalam kastil tersebut, mereka diberi sebuah teka-teki yang harus dipecahkan bersama. Selama berada di tempat itu, para remaja ini juga perlahan mulai berbagi cerita tentang kehidupan mereka, termasuk berbagai luka dan kesulitan yang mereka hadapi di dunia nyata. Kisah ini menghadirkan perpaduan antara fantasi, misteri, dan cerita yang menyentuh tentang persahabatan serta proses memahami diri sendiri.

6. Harry Potter — J. K. Rowling

Seri fantasi legendaris ini membawa pembaca ke dunia sihir Hogwarts yang penuh petualangan. Kisahnya mengikuti perjalanan Harry Potter, seorang anak yang mengetahui bahwa dirinya adalah penyihir dan kemudian belajar di sekolah sihir bersama sahabatnya, Ron dan Hermione. Sepanjang seri, mereka menghadapi berbagai tantangan, misteri, dan ancaman dari kekuatan gelap. Selain menghadirkan dunia sihir yang menarik, cerita ini juga menyoroti nilai persahabatan, keberanian, dan pengorbanan.

7. Percy Jackson & the Olympians — Rick Riordan

Novel ini mengikuti petualangan Percy Jackson, seorang remaja yang menemukan bahwa dirinya adalah anak dari salah satu dewa Yunani. Penemuan tersebut membuat Percy terlibat dalam berbagai petualangan yang penuh bahaya, mulai dari menghadapi makhluk mitologi hingga menjalani misi penting untuk para dewa. Dengan alur yang cepat dan penuh aksi, seri ini menghadirkan kisah yang seru sekaligus memperkenalkan pembaca pada berbagai tokoh dalam mitologi Yunani.

Berbagai buku fantasi di atas menghadirkan dunia cerita yang berbeda-beda, mulai dari dunia sihir, mitologi, hingga kisah magis yang menyentuh kehidupan manusia. Dengan alur yang seru dan penuh imajinasi, buku-buku ini dapat menjadi pilihan menarik bagi Grameds yang ingin membaca buku dengan genre fantasi.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Gramedia Perluas Ekosistem Literasi di 2026, Hadirkan Eka Kurniawan dalam Dialog Bersama Media
11 March 2026

Gramedia Perluas Ekosistem Literasi di 2026, Hadirkan Eka Kurniawan dalam Dialog Bersama Media

Jakarta, 10 Maret 2026 — Gramedia menggelar kegiatan media gathering bertajuk JEDA: Jendela Edukasi & Dialog Media di Tjikini Lima, Jakarta Pusat, Selasa (10/3). Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara Gramedia dan media untuk membahas perkembangan literasi, arah program Gramedia di tahun 2026, serta memperkuat kolaborasi dalam mendorong budaya membaca di Indonesia. 

Acara ini menghadirkan Director of Corporate Secretary, Yosef Adityo Nugroho, yang memaparkan berbagai capaian, inovasi, serta rencana pengembangan ekosistem Gramedia ke depan. Dalam pemaparannya, Gramedia menegaskan komitmennya untuk terus memperluas akses terhadap buku, pengetahuan, dan inspirasi melalui jaringan ritel yang luas, platform digital, serta kolaborasi dengan komunitas dan institusi pendidikan.

Director of Corporate Secretary, Yosef Adityo Nugroho memaparkan perkembangan dan rencana pengembangan ekosistem Gramedia kepada media.

Saat ini Gramedia memiliki 148 toko yang tersebar di berbagai kota di Indonesia dan menargetkan ekspansi hingga 15 toko baru pada tahun 2026 sebagai bagian dari penguatan jaringan ritel dan ekosistem literasi di berbagai daerah. 

Selain memperluas jaringan toko, Gramedia juga terus menghadirkan inovasi melalui pengembangan konsep outlet baru yang dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Beberapa konsep tersebut antara lain Gramedia Jalma, Prose & Petals, dan Makarya, yang menggabungkan elemen literasi, kreativitas, serta gaya hidup dalam satu ruang inspiratif. Pada tahun 2026, Gramedia juga akan menghadirkan Gramedia Jalma Pandanaran di Semarang, yang menjadi cabang terbaru dari konsep Gramedia Jalma. Kehadiran konsep-konsep inovatif ini merupakan bagian dari transformasi Gramedia dalam menghadirkan pengalaman literasi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, sekaligus memperkuat posisinya sebagai literacy & lifestyle ecosystem yang menghubungkan buku, komunitas, kreativitas, dan ruang inspirasi. 

“Selama 56 tahun, Gramedia tidak hanya hadir sebagai jaringan toko buku, tetapi juga sebagai ruang bertemunya ide, pengetahuan, dan kreativitas. Melalui berbagai inovasi dan kolaborasi, kami ingin memastikan literasi dapat diakses lebih luas oleh masyarakat Indonesia,” ujar Yosef Adityo.

Selain pengembangan jaringan toko, Gramedia juga terus memperkuat portofolio homebrand yang berfokus pada produk kreatif dan kebutuhan gaya hidup. Melalui brand seperti Estudee untuk kebutuhan alat tulis dan sekolah, Eversac untuk tas dan produk lifestyle, serta Kukiko untuk produk kreatif anak, Gramedia menghadirkan berbagai pilihan produk yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Gramedia juga memperluas ekosistemnya hingga ke industri kreatif melalui rumah produksi miliknya, Rekata Studio, yang menjembatani dunia literasi dengan industri film. Salah satu karya yang akan hadir tahun ini adalah film “Para Perasuk” yang dijadwalkan tayang pada 23 April 2026. Melalui Rekata Studio, Gramedia berupaya mengadaptasi cerita dan gagasan dari dunia literasi menjadi karya audio-visual yang dapat menjangkau audiens yang lebih luas. 

Selain sesi pemaparan mengenai strategi dan inovasi Gramedia, kegiatan JEDA juga menghadirkan diskusi buku bersama penulis Indonesia, Eka Kurniawan, yang berbagi cerita mengenai proses kreatif penulisan, inspirasi di balik karya-karyanya, serta pandangannya terhadap perkembangan dunia literasi dan pembaca di Indonesia. Dalam perbincangan tersebut, Eka juga membagikan sedikit gambaran mengenai novel terbarunya yang berjudul Coreng Hitam, yang direncanakan akan segera terbit setelah Lebaran.

Eka menjelaskan bahwa Coreng Hitam berangkat dari gagasan sederhana tentang “noda” dalam kehidupan manusia. Ia mengajak pembaca merefleksikan bagaimana seseorang memandang kesalahan, kekurangan, atau hal yang dianggap mengganggu dalam hidup. “Kalau kita memiliki noda atau coreng dalam hidup, apa yang kita lakukan? Lalu bagaimana jika kita melihat orang yang menyebalkan dan kemudian kita menganggapnya sebagai ‘coreng hitam’ dalam hidup kita?” ujar Eka, menggambarkan ide dasar yang menjadi benang merah dalam novel tersebut.

Editor Senior Sastra Gramedia Pustaka Utama, Mirna Yulistianti, turut mengungkapkan bahwa novel terbaru Eka akan menghadirkan pendekatan tema yang berbeda dibandingkan karya-karya sebelumnya. Ia juga menyebut bahwa novel tersebut akan hadir dalam format yang cukup tebal, mendekati 500 halaman. Menurut Mirna, seperti karya-karya Eka sebelumnya, novel ini tetap membawa tema yang berani dan tidak selalu berada di wilayah yang “aman”. “Karya-karya Eka selama ini selalu menggugat pembacanya, kadang bahkan disalahartikan oleh pembaca. Novel barunya pun memiliki semangat yang sama,” ujarnya.

Kehadiran sesi diskusi ini menjadi kesempatan bagi rekan media untuk melihat lebih dekat proses kreatif seorang penulis yang karya-karyanya telah dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus memberikan gambaran awal mengenai karya terbaru yang akan segera hadir bagi para pembaca Indonesia.

Sepanjang tahun 2026, Gramedia juga akan menghadirkan berbagai program literasi dan kegiatan komunitas untuk menjangkau lebih banyak masyarakat. Beberapa program utama yang akan diselenggarakan antara lain Pesta Literasi Indonesia, festival literasi yang menghadirkan diskusi buku, workshop, pameran seni, hingga pertunjukan berbasis cerita dari buku; Happy Family Coloring, lomba mewarnai anak yang mengajak keluarga berpartisipasi dalam aktivitas kreatif sekaligus kegiatan sosial; serta CERIA: Cerita Anak Gramedia, program literasi nasional berbasis lomba kepenulisan bagi anak-anak Indonesia.

Selain itu, Gramedia juga terus menjalankan berbagai inisiatif edukasi dan literasi lainnya seperti Ngaji Literasi yang menyasar institusi pendidikan, hingga berbagai program komunitas berbasis minat yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar, berkarya, dan berkolaborasi.

Melalui program JEDA: Jendela Edukasi & Dialog Media ini, Gramedia berharap dapat memperkuat hubungan dengan media sebagai mitra strategis dalam menyebarkan semangat literasi kepada masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Gramedia untuk membangun ekosistem literasi yang tidak hanya berfokus pada buku, tetapi juga mencakup komunitas, edukasi, kreativitas, dan gaya hidup. Inisiatif ini diharapkan dapat terus memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia dan mendorong literasi untuk #TumbuhBermakna.

Tips Merawat Buku Favorit agar Tidak Cepat Menguning
10 March 2026

Tips Merawat Buku Favorit agar Tidak Cepat Menguning

#LiterasiAsik — Bagi para pecinta buku, menjaga koleksi tetap dalam kondisi baik tentu menjadi hal yang penting. Buku favorit seringkali memiliki nilai lebih, baik karena ceritanya yang berkesan maupun kenangan saat pertama kali membacanya. Namun seiring waktu, banyak buku yang mulai berubah warna menjadi kekuningan. Hal ini biasanya terjadi karena proses alami pada kertas serta pengaruh lingkungan tempat buku disimpan.


Kertas pada buku umumnya mengandung senyawa yang dapat bereaksi dengan udara, cahaya, dan kelembapan. Jika tidak disimpan dengan baik, halaman buku bisa menjadi kusam, rapuh, bahkan mudah rusak. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui beberapa cara sederhana agar buku tetap terawat dan tidak cepat menguning.


Simpan Buku di Tempat yang Kering
Kelembaban tinggi dapat mempercepat kerusakan kertas serta memicu munculnya jamur. Pastikan buku disimpan di tempat yang kering dengan sirkulasi udara yang baik. Hindari menyimpan buku di area yang terlalu lembab seperti dekat kamar mandi atau lantai yang sering terkena air.


Hindari Paparan Sinar Matahari Langsung
Sinar matahari yang mengenai buku secara langsung dalam waktu lama dapat mempercepat perubahan warna pada kertas. Jika rak buku berada di dekat jendela, sebaiknya pastikan buku tidak terkena sinar matahari langsung atau gunakan tirai untuk mengurangi paparan cahaya.


Gunakan Sampul Pelindung Buku
Memberikan sampul pelindung pada buku dapat membantu menjaga kebersihan serta melindungi bagian luar buku dari debu dan kotoran. Sampul plastik transparan sering digunakan karena praktis dan tetap memungkinkan judul buku terlihat dengan jelas.


Jaga Kebersihan Rak Buku
Debu yang menumpuk di rak buku dapat membuat halaman menjadi kotor dan kusam. Bersihkan rak secara berkala menggunakan kain kering atau lap lembut. Sesekali keluarkan buku dari rak untuk membersihkan bagian samping halaman yang sering terkena debu.


Simpan Buku dengan Posisi yang Tepat
Menyusun buku secara tegak di rak akan membantu menjaga bentuknya tetap rapi. Hindari menumpuk terlalu banyak buku di atas satu sama lain karena dapat membuat buku tertekan dan merusak bagian sampul maupun halaman.


Merawat buku sebenarnya tidak memerlukan cara yang rumit. Dengan memperhatikan tempat penyimpanan, kebersihan, serta perlindungan yang tepat, buku favorit dapat tetap terjaga kualitasnya dalam waktu yang lama, Grameds. Selain membuat koleksi terlihat rapi, buku yang terawat juga akan tetap nyaman dibaca kapan saja.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Apa Itu FOMO? Kenali Istilah yang Sering Muncul di Era Media Sosial
05 March 2026

Apa Itu FOMO? Kenali Istilah yang Sering Muncul di Era Media Sosial

#LiterasiAsik — Pernah merasa gelisah saat melihat teman-temanmu menghadiri acara seru, mencoba tempat baru, atau mengikuti tren terbaru di media sosial? Tanpa sadar, kamu jadi terus membuka aplikasi, memastikan tidak ada yang terlewat. Jika pernah merasakan hal itu, bisa jadi kamu sedang mengalami FOMO.

Apa Itu FOMO?

FOMO merupakan singkatan dari Fear of Missing Out. Istilah ini merujuk pada perasaan cemas atau gelisah ketika merasa tertinggal dari pengalaman, informasi, atau momen yang dialami orang lain. Di era media sosial, FOMO semakin sering muncul karena kita bisa melihat aktivitas orang lain secara real time.

Melalui Instagram, TikTok, atau X, kita seakan-akan selalu tahu apa yang sedang terjadi. Namun di sisi lain, paparan tersebut juga membuat kita terus membandingkan diri dengan orang lain mulai dari pencapaian, gaya hidup, hingga lingkar pertemanan.

Kenapa Orang Bisa Mengalami FOMO?

Ada beberapa faktor yang membuat FOMO mudah muncul, terutama di era digital:

Perbandingan sosial
Melihat pencapaian atau keseruan orang lain bisa memicu perasaan kurang puas terhadap hidup sendiri. Padahal, yang terlihat di media sosial sering kali hanya potongan terbaik dari kehidupan seseorang.

Kebutuhan untuk merasa terhubung
Sebagai makhluk sosial, kita ingin merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Ketika merasa “tidak ikut”, muncul kekhawatiran akan dianggap tertinggal atau tidak relevan.

Akses informasi tanpa henti
Timeline yang terus bergerak dan notifikasi yang berdatangan membuat kita merasa harus selalu update agar tidak ketinggalan tren atau pembicaraan terbaru.

Tekanan untuk selalu produktif dan eksis
Di era serba cepat, ada dorongan untuk terus terlihat aktif, berprestasi, dan terlibat dalam berbagai hal. Akibatnya, muncul rasa bersalah ketika memilih beristirahat atau tidak ikut suatu kegiatan.

Dampak FOMO bagi Kesehatan Mental

Jika dibiarkan, FOMO bisa membuat seseorang sulit fokus, mudah terdistraksi, bahkan merasa lelah secara emosional. Keinginan untuk selalu terhubung juga dapat mengganggu waktu istirahat dan kualitas hubungan di dunia nyata.

FOMO bukan berarti kita tidak boleh menikmati media sosial. Namun, penting untuk menyadari batasannya. Tidak semua hal perlu diikuti, tidak semua tren harus dicoba, dan tidak semua momen harus dibagikan.

Hidup bukan tentang selalu hadir di setiap tempat atau mengikuti setiap perkembangan terbaru, Grameds. Ada kalanya, memilih untuk berhenti sejenak dan fokus pada diri sendiri justru membantu kita untuk lebih tenang dan menikmati momen. 


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Sherina Bintangi Film Filosofi Teras, Kenali Dulu Makna di Balik Bukunya
03 March 2026

Sherina Bintangi Film Filosofi Teras, Kenali Dulu Makna di Balik Bukunya

#HappeningToday — Kabar bahwa Sherina Munaf akan terlibat dalam film adaptasi Filosofi Teras langsung menarik perhatian publik. Namun, sebelum menyaksikan versi karya lebarnya, ada baiknya kita memahami lebih dalam makna dan latar belakang buku yang telah mengubah cara banyak orang memandang hidup ini.

Lahir dari Pengalaman Personal 

Filosofi Teras merupakan karya Henry Manampiring yang pertama kali terbit pada 2018. Buku ini tidak hanya menjadi pengantar filsafat populer. Buku ini lahir dari pengalaman personal sang penulis yang pada 2017 didiagnosis mengalami major depressive disorder

Dalam proses pengobatannya, Henry menemukan buku How to Be a Stoic karya Massimo Pigliucci. Dari sanalah ia berkenalan dengan ajaran stoisisme yang merupakan sebuah aliran filsafat Yunani kuno yang terasa seperti "terapi tanpa obat". Dengan mempraktikkan ajaran tersebut, ia merasa lebih tenang dan mampu mengelola emosi negatifnya. 

Karena belum banyak buku berbahasa Indonesia yang membahas stoisisme secara praktis dan relevan dengan konteks yang lebih modern, Henry pun menulis FIlosofi Teras dengan harapan pembaca Indonesia bisa menemukan ketenangan yang sama. Alih-alih terasa berat atau akademis, pembahasannya justru dikemas dengan bahasa ringan dan contoh yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Apa itu Stoisisme?

Stoisisme berasal dari ajaran Zeno of Citium. Kata “stoa” sendiri merujuk pada serambi atau teras Zeno mengajar murid-muridnya. Dari sinilah judul Filosofi Teras muncul yang merupakan bentuk terjemahan yang lebih mudah diucapkan dan terasa akrab di telinga pembaca Indonesia.

Stoisisme merupakan ajaran yang berfokus pada pengelolaan pikiran secara rasional untuk mencapai ketenangan batin yang lebih stabil. Filsafat ini mengajak seseorang untuk tidak dikuasai oleh emosi yang muncul secara reaktif, seperti kemarahan berlebihan atau rasa takut. Seorang penganut Stoik bukan berarti menekan atau menghilangkan perasaan, melainkan melatih diri agar mampu merespons emosi dengan lebih terkendali dan bijaksana.

Seorang penganut Stoisisme menempatkan ketahanan mental sebagai prioritas utama, yakni kemampuan untuk tetap teguh meski menghadapi hal-hal di luar kendalinya. Dalam pandangan ini, kebahagiaan tidak ditentukan oleh harta, pujian, atau status sosial, melainkan oleh kualitas sikap dan kebajikan yang dimiliki seseorang. Tujuan akhirnya adalah mencapai eudaimonia, yaitu kehidupan yang bermakna, dijalani dengan kebajikan, serta selaras dengan nilai dan tatanan kehidupan yang lebih luas.

Apa makna di balik buku ini?

Secara sederhana, Filosofi Teras mengajak pembaca untuk memahami satu hal penting: tidak semua hal berada dalam kendali kita. Buku ini menyoroti bagaimana sering kali rasa cemas, marah, atau kecewa muncul karena kita terlalu fokus pada hal-hal di luar kuasa diri sendiri seperti pendapat orang lain, situasi yang tak terduga, atau masa depan yang belum pasti.

Melalui pembahasan ringan dan contoh-contoh konkret, buku ini membantu pembacanya untuk belajar memilah mana yang bisa dikendalikan dan mana yang perlu diterima. Dari situ, muncul cara pandang yang lebih tenang dalam menghadapi masalah, tekanan pekerjaan, konflik relasi, hingga kekhawatiran sehari-hari. 

Tak heran jika banyak anak muda merasa relate dengan isi buku ini. Di tengah era serba cepat dan penuh distraksi, gagasan tentang menjaga pikiran tetap rasional dan tidak reaktif terasa semakin relevan. Filosofi Teras menjadi semacam pengingat untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan melihat persoalan dengan lebih jernih.

Buku Filosofi Teras

Dengan diangkatnya buku ini ke layar lebar, publik tentu penasaran bagaimana gagasan yang selama ini hadir dalam bentuk narasi akan diterjemahkan menjadi cerita visual. Apakah esensi ketenangan dan pengendalian diri yang menjadi inti bukunya bisa terasa kuat dalam format film?

Sebelum menyaksikan versi sinemanya nanti, mungkin ini saat yang tepat untuk mengenal atau kembali membaca Filosofi Teras dan memahami pesan yang membuatnya begitu berkesan bagi banyak orang.

Jadi, Grameds, sudah siap melihat bagaimana makna di balik Filosofi Teras diterjemahkan ke layar lebar? Atau justru jadi makin penasaran untuk membaca bukunya lebih dulu?


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.