Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
56 Tahun
#TumbuhBermakna
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
5 Novel Misteri Terbaik yang Penuh Plot Twist dan Sulit Ditebak Hingga Halaman Terakhir
08 June 2026

5 Novel Misteri Terbaik yang Penuh Plot Twist dan Sulit Ditebak Hingga Halaman Terakhir

#LiterasiAsik — Grameds, membaca buku misteri selalu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Tidak hanya mengikuti alur cerita, pembaca juga diajak mengumpulkan petunjuk, menyusun teori, hingga menebak apa yang sebenarnya terjadi di balik sebuah kasus.

Menariknya, beberapa buku misteri tidak hanya menawarkan kejutan di akhir cerita, tetapi juga membuat pembaca terus mempertanyakan setiap detail yang muncul di tiap halamannya. Jika Grameds menyukai cerita penuh teka-teki dan plot twist yang sulit di ditebak, lima buku berikut bisa masuk ke daftar bacaanmu.


1. Teka-Teki Gambar Aneh — Uketsu

Teka-Teki Gambar Aneh mengajak pembaca memecahkan misteri melalui serangkaian gambar yang tampaknya tidak memiliki hubungan satu sama lain.

Setiap gambar menyimpan petunjuk penting yang berkaitan dengan kejadian-kejadian misterius. Detail kecil yang terlihat biasa ternyata memiliki makna besar terhadap keseluruhan cerita.

Novel ini membuat pembaca harus benar-benar memperhatikan setiap petunjuk yang diberikan. Tidak heran jika banyak orang menghabiskan waktu untuk berhenti sejenak dan mencoba menyusun teori mereka sendiri sebelum melanjutkan membaca.


2. Teka-Teki Rumah Aneh — Uketsu

Jika Teka-Teki Gambar Aneh berfokus pada misteri gambar, Teka-Teki Rumah Aneh berpusat pada denah rumah. Novel ini berawal dari sebuah rumah yang tampak biasa. Namun, ketika denah rumah tersebut diperhatikan lebih detail, muncul berbagai kejanggalan yang sulit dijelaskan secara logis.

Melalui potongan informasi, gambar denah, dan diskusi mengenai ruang-ruang misterius di dalam rumah, pembaca diajak ikut menyusun teori tentang rahasia yang tersembunyi di balik bangunan tersebut.

Gaya bercerita Uketsu yang unik membuat pembaca merasa seperti sedang menyelidiki kasus secara langsung. Semakin jauh membaca, semakin banyak pertanyaan yang muncul sebelum semuanya perlahan terjawab.


3. Devotion of Suspect X — Keigo Higashino

Berbeda dengan misteri pada umumnya, buku ini justru mengungkap pelaku sejak awal cerita. Namun, tantangan sebenarnya adalah bagaimana kejahatan tersebut berhasil disembunyikan.

Keigo Higashino menghadirkan permainan intelektual antara seorang matematikawan jenius dan detektif yang berusaha mengungkap kebenaran di balik kasus pembunuhan.

Alih-alih berfokus pada siapa pelakunya, pembaca diajak menebak bagaimana rencana tersebut dijalankan dan apakah rahasianya akan terbongkar.


4. Malice — Keigo Higashino

Seorang penulis terkenal ditemukan tewas di rumahnya tepat sebelum pindah ke luar negeri. Polisi segera menemukan tersangka yang mengaku sebagai pelaku pembunuhan tersebut.

Namun, kasus ini ternyata tidak sesederhana yang terlihat. Meski pelakunya sudah diketahui, motif di balik pembunuhan tersebut justru menjadi teka-teki yang jauh lebih rumit.

Melalui sudut pandang yang terus berubah dan berbagai fakta yang perlahan terungkap, Malice menghadirkan misteri psikologis yang membuat pembaca terus menebak hingga akhir cerita.


5. Kasus Pembunuhan Honjin — Seishi Yokomizo

Novel ini berawal dari pembunuhan pasangan pengantin yang terjadi pada malam pernikahan mereka. Yang membuat kasus tersebut semakin misterius adalah kondisi ruangannya yang terkunci dari dalam sehingga tampak mustahil bagi pelaku untuk masuk maupun keluar.

Penyelidikan kemudian mengungkap berbagai petunjuk yang tersebar di sekitar tempat kejadian, mulai dari jejak-jejak mencurigakan hingga benda-benda yang tampak sepele. Namun, semakin banyak fakta ditemukan, semakin rumit pula misteri yang harus dipecahkan.

Sebagai salah satu novel misteri klasik Jepang yang paling terkenal, Kasus Pembunuhan Honjin menghadirkan teka-teki ruang tertutup (locked-room mystery) yang membuat pembaca terus menyusun teori hingga akhir cerita.

Kenapa Novel Misteri Jepang Banyak Digemari?

Popularitas novel misteri Jepang terus meningkat karena mampu menghadirkan teka-teki yang logis, penuh petunjuk tersembunyi, dan sulit ditebak hingga akhir cerita. Pembaca tidak hanya mengikuti alur, tetapi juga diajak ikut menyusun teori dan memecahkan misteri bersama tokoh-tokohnya.


FAQ

  1. Apa novel misteri Jepang terbaik untuk pemula?
    Novel misteri Jepang dapat dibaca oleh pemula. Bagi pemula, buku seperti Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu dan The Devotion of Suspect X karya Keigo Higashino sering menjadi rekomendasi karena alurnya mudah diikuti namun tetap menghadirkan kejutan yang kuat.
  2. Novel dengan plot twist terbaik?
    Malice dan Teka-Teki Gambar Aneh dikenal sebagai novel dengan plot twist terbaik yang membuat pembaca mempertanyakan setiap petunjuk yang muncul sepanjang cerita. Dengan misteri psikologis, berbagai sudut pandang dari tiap karakter serta berbagai detailnya, cerita ini mampu membuat Grameds semakin penasaran dengan akhir cerita.
  3. Apa perbedaan novel misteri dan thriller?
    Meski sering disamakan dengan thriller, novel misteri lebih berfokus pada proses mengungkap sebuah rahasia atau memecahkan kasus. Thriller biasanya menonjolkan ketegangan dan ancaman yang terus meningkat, sedangkan misteri mengajak pembaca berpikir dan menebak jawaban hingga halaman terakhir.

Grameds, dari misteri yang tersembunyi dalam gambar hingga kasus pembunuhan yang penuh permainan logika, kelima buku ini menawarkan pengalaman membaca yang akan membuatmu terus menebak hingga halaman terakhir. Kira-kira, buku mana yang paling ingin kamu baca duluan?


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

8 Istilah Populer di Dunia Literasi, Berapa Banyak yang Kamu Tahu?
05 June 2026

8 Istilah Populer di Dunia Literasi, Berapa Banyak yang Kamu Tahu?

#LiterasiAsik — Dunia literasi tidak hanya dipenuhi oleh buku dan aktivitas membaca. Seiring berkembangnya komunitas pembaca di berbagai platform, muncul banyak istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kebiasaan, pengalaman, hingga perasaan yang dialami saat membaca.

Mulai dari istilah bagi seseorang yang kehilangan mood membaca, atau kebiasaan membeli buku tanpa langsung membacanya, hingga kondisi ketika sulit move on dari sebuah cerita. Jika Grameds aktif membaca atau mengikuti komunitas buku, mungkin beberapa istilah berikut pernah kamu dengar atau bahkan alami sendiri. 


1. Reading Slump
Reading slump merupakan kondisi ketika seseorang kehilangan semangat atau motivasi untuk membaca dalam periode waktu tertentu. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, bahkan pada orang yang sangat gemar membaca sekalipun.

Saat mengalami reading slump, seseorang biasanya tetap menyukai buku dan masih tertarik melihat rekomendasi bacaan baru. Namun, ketika mulai membaca, mereka merasa sulit fokus, cepat bosan, atau tidak menikmati proses membaca seperti biasanya.

Reading slump dapat dipicu oleh berbagai hal, mulai dari kesibukan, kelelahan, stres, terlalu banyak membaca buku berat, hingga tekanan untuk terus produktif. Karena itu banyak pembaca yang memilih untuk beristirahat sejenak untuk mengembalikan semangat membaca.


2. Book Hangover
Book hangover adalah kondisi emosional yang dialami seseorang setelah menyelesaikan sebuah buku yang sangat berkesan. Pembaca biasanya masih terus memikirkan cerita, karakter, atau konflik yang ada di dalam buku tersebut meskipun buku sudah selesai dibaca.

Perasaan ini sering muncul ketika seseorang memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap sebuah cerita. Akibatnya, mereka merasa sulit melepaskan diri dari dunia yang dibangun dalam buku tersebut.

Tidak jarang seseorang yang mengalami book hangover menjadi enggan memulai buku baru karena masih terbawa suasana dari bacaan sebelumnya. Semakin mendalam pengalaman membaca yang dirasakan, semakin besar kemungkinan seseorang mengalami kondisi ini.


3. Bibliosmia
Bibliosmia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aroma khas yang berasal dari buku. Aroma tersebut dapat berasal dari tinta, kertas, lem penjilid, maupun proses penuaan bahan buku itu sendiri.

Bagi sebagian orang, aroma buku memberikan pengalaman yang tidak terpisahkan dari aktivitas membaca. Tidak sedikit pecinta buku yang mengaku senang mencium aroma halaman buku baru maupun buku lama saat berkunjung ke toko buku atau perpustakaan.

Aroma tersebut sering dikaitkan dengan rasa nyaman, nostalgia, dan ketenangan. Karena itu, bibliosmia menjadi salah satu istilah yang cukup populer di kalangan pecinta literasi dan kolektor buku.


4. Annotating
Annotating adalah aktivitas memberikan catatan, tanda, highlight, atau komentar pada halaman buku selama proses membaca. Metode ini semakin populer, terutama di kalangan pembaca yang ingin berinteraksi lebih dalam dengan isi buku.

Melalui annotating, pembaca dapat menandai kutipan favorit, mencatat pemikiran pribadi, atau memberikan reaksi terhadap bagian tertentu dari cerita. Aktivitas ini membuat proses membaca menjadi lebih aktif dibandingkan hanya membaca secara pasif.

Selain membantu memahami isi buku, annotating juga membuat pengalaman membaca terasa lebih personal. Bahkan setelah bertahun-tahun, catatan tersebut dapat menjadi pengingat tentang apa yang pernah dirasakan dan dipikirkan saat pertama kali membaca buku tersebut.


5. Tsundoku
Tsundoku merupakan istilah dari Jepang yang merujuk pada kebiasaan membeli atau mengoleksi buku tanpa langsung membacanya. Buku-buku tersebut akhirnya menumpuk di rak sambil menunggu waktu yang tepat untuk dibaca.

Fenomena ini cukup umum terjadi di kalangan pecinta buku. Tidak sedikit orang yang merasa senang berburu buku baru, baik karena tertarik pada sampul, sinopsis, maupun rekomendasi dari orang lain, meskipun masih memiliki banyak buku yang belum selesai dibaca.

Meski sering dianggap sebagai kebiasaan yang lucu, tsundoku sebenarnya menunjukkan besarnya antusiasme seseorang terhadap dunia literasi. Bahkan bagi sebagian pembaca, memiliki tumpukan buku yang menunggu untuk dibaca justru memberikan rasa bahagia.


6. DNF (Did Not Finish)
DNF merupakan singkatan dari Did Not Finish, yaitu istilah yang digunakan ketika seseorang memutuskan untuk tidak melanjutkan atau menamatkan sebuah buku.

Keputusan untuk DNF biasanya terjadi karena pembaca merasa tidak cocok dengan jalan cerita, gaya penulisan, karakter, atau tema yang diangkat dalam buku tersebut. Dalam beberapa kasus, alasan utamanya juga bisa karena kehilangan minat di tengah proses membaca.

Meski sering dianggap sebagai “gagal menamatkan buku”, banyak pembaca kini memandang DNF sebagai hal yang wajar. Sebab, tidak semua buku harus dipaksakan untuk selesai jika ternyata tidak memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan.


7. CR (Currently Reading)
CR atau currently reading adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan buku yang sedang dibaca saat ini. Istilah ini sering ditemukan di komunitas literasi, media sosial, maupun platform pencatatan bacaan.

Banyak pembaca menggunakan istilah ini untuk membagikan progres membaca mereka kepada teman atau sesama pecinta buku. Tidak jarang seseorang juga memiliki lebih dari satu currently reading dalam waktu yang bersamaan karena membaca beberapa buku dengan genre berbeda.

Selain menjadi cara untuk mendokumentasikan kebiasaan membaca, membagikan currently reading juga sering menjadi sarana bertukar rekomendasi dan memulai diskusi mengenai buku yang sedang populer.


8. TBR (To Be Read)
TBR merupakan singkatan dari To Be Read, yaitu daftar buku yang ingin dibaca di masa mendatang. Istilah ini sangat populer di kalangan pembaca yang gemar membuat target atau daftar bacaan.

Daftar TBR biasanya berisi buku-buku yang diperoleh dari rekomendasi teman, media sosial, toko buku, hingga hasil berburu buku saat diskon. Tidak sedikit pembaca yang memiliki daftar TBR jauh lebih panjang daripada jumlah buku yang berhasil mereka baca setiap tahun.

Meski sering menjadi sumber candaan karena terus bertambah, TBR membantu pembaca mengatur prioritas bacaan sekaligus menjadi pengingat buku-buku menarik yang ingin mereka eksplorasi suatu saat nanti.

Seiring berkembangnya komunitas pembaca, istilah-istilah baru dalam dunia literasi juga terus bermunculan. Kehadiran berbagai istilah ini menunjukkan bahwa membaca bukan hanya tentang menyelesaikan buku, tetapi juga tentang pengalaman, kebiasaan, dan emosi yang dirasakan selama proses tersebut.

Jadi, dari berbagai istilah di atas mana yang paling sering kamu alami, Grameds?


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Annotated Book: Cara Membaca Aktif yang Bikin Buku Makin Bermakna
04 June 2026

Annotated Book: Cara Membaca Aktif yang Bikin Buku Makin Bermakna

#LiterasiAsik — Grameds, pernah melihat buku yang penuh dengan sticky notes, highlight warna-warni, atau catatan kecil di pinggir halaman? Atau mungkin kamu sendiri yang sudah melakukan kebiasaan ini tanpa tahu istilahnya? Kebiasaan ini dikenal dengan istilah annotated book — dan belakangan semakin digemari oleh banyak pembaca, terutama di kalangan anak muda.

Bagi sebagian orang, menulis di buku mungkin terasa seperti “merusak” halaman yang bersih. Tapi bagi para pembaca yang menyukai annotated book, kebiasaan ini justru membuat pengalaman membaca terasa lebih personal dan berkesan. Lalu apa sebenarnya annotated book itu? Dan mengapa tren ini layak kamu coba?


Apa Itu Annotated Book?

Annotated book adalah kebiasaan memberikan tanda, catatan, highlight, atau komentar pada buku saat membaca. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari menandai kutipan favorit, menulis reaksi terhadap cerita, hingga memberi sticky notes pada bagian tertentu.

Kebiasaan ini sebenarnya sudah lama dikenal dalam dunia akademik sebagai bagian dari strategi active reading atau membaca secara aktif. Namun, saat ini anotasi buku juga berkembang sebagai ekspresi diri dan kegiatan kreatif yang digemari banyak pembaca. 

Kebiasaan ini biasanya dilakukan untuk membantu pembaca lebih memahami isi buku sekaligus menyimpan bagian-bagian yang dianggap menarik atau berkesan.


Mengapa Annotated Book Makin Populer?

Salah satu alasan annotated book semakin populer adalah karena kegiatan membaca terasa menjadi lebih interaktif dan personal. Pembaca tidak hanya membaca secara pasif, tetapi juga ikut terlibat dengan merespon, mempertanyakan dan merasakan cerita atau isi buku secara lebih mendalam. Di media sosial, tren ini juga semakin berkembang karena banyak pembaca membagikan hasil anotasi mereka yang terlihat estetik dan personal. Hal ini mendorong para pembaca lainnya yang terinspirasi untuk juga melakukan hal yang sama. 

Selain itu, banyak orang merasa lebih mudah mengingat isi bacaan ketika mereka menuliskan pemikiran atau menandai bagian tertentu. Catatan kecil yang dibuat selama membaca juga sering kali menjadi cara untuk mengekspresikan emosi dan pendapat secara spontan.


Manfaat Anotasi Buku

Berikut beberapa manfaat dari kebiasaan anotasi buku yang bisa kamu rasakan:

  • Membantu memahami isi buku dengan lebih mendalam.
  • Mempermudah mengingat poin-poin penting dalam bacaan.
  • Menandai kutipan favorit agar mudah ditemukan kembali.
  • Memudahkan mencari informasi penting tanpa harus membaca ulang seluruh buku.
  • Membuat pengalaman membaca lebih interaktif dan personal.


Tips Memulai Anotasi Buku

Bagi Grameds yang tertarik mencoba anotasi buku, berikut beberapa tips sederhana yang bisa dilakukan:

  • Gunakan highlighter untuk menandai kutipan favorit atau bagian penting
  • Tambahkan sticky notes pada halaman yang ingin dibaca ulang
  • Gunakan warna berbeda untuk membedakan jenis catatan
  • Tidak perlu terlalu estetik, fokus pada kenyamanan saat membaca
  • Mulai dari sedikit anotasi agar tetap nyaman dan tidak berlebihan

Namun, tidak ada aturan khusus dalam membuat anotasi. Setiap pembaca memiliki gaya masing-masing sesuai dengan kenyamanan mereka saat membaca. 

Selain itu, Grameds juga harus ingat, bahwa annotated book untuk memperkaya pengalaman membaca — bukan soal seberapa estetik buku kamu. 


Apakah Menulis di Buku Itu Boleh?

Tidak semua orang nyaman dengan kebiasaan ini. Sebagian pembaca lebih menyukai buku yang tetap bersih tanpa coretan apa pun. Namun, sebagian lainnya justru merasa buku menjadi lebih hidup ketika dipenuhi catatan dan tanda-tanda kecil.

Pada akhirnya, tidak ada cara membaca yang benar atau salah.  Anotasi buku bisa kamu lakukan selama buku yang kamu gunakan adalah bukumu sendiri. Setiap orang memiliki kebiasaan membaca yang berbeda sesuai dengan kenyamanan masing-masing.

Grameds, annotated book menunjukkan bahwa membaca tidak selalu harus pasif. Bagi sebagian orang, memberi catatan kecil di buku justru membuat pengalaman membaca terasa lebih dekat, personal, dan berkesan. Jadi, kalau Grameds sendiri, lebih suka buku tetap bersih atau penuh anotasi? 


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Apa Itu Reading Slump? Kenali Tandanya dan Tips Mengatasinya
04 June 2026

Apa Itu Reading Slump? Kenali Tandanya dan Tips Mengatasinya

#LiterasiAsik — Grameds, pernah tidak merasa sulit fokus membaca padahal biasanya sangat menikmati buku? Atau mungkin kamu tetap membeli buku baru, tetapi tidak benar-benar mood untuk membacanya? Kondisi ini sering disebut dengan reading slump.

Fenomena reading slump cukup sering dialami para pecinta buku. Biasanya, seseorang merasa kehilangan semangat membaca, sulit menyelesaikan buku, atau merasa membaca tidak lagi seru. Meski terdengar sederhana, reading slump sering membuat banyak pembaca merasa frustrasi karena kehilangan rutinitas membaca yang sebelumnya mereka nikmati.


Apa itu Reading Slump?

Reading slump adalah kondisi ketika seseorang kehilangan minat, motivasi, atau mood untuk membaca dalam periode tertentu. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, bahkan pada orang yang sangat suka membaca sekalipun.

Saat mengalami reading slump, seseorang biasanya tetap tertarik melihat atau membeli buku, tetapi kesulitan untuk benar-benar fokus dan menikmati proses membacanya. Ada juga yang merasa cepat bosan, sulit menyelesaikan buku, atau terus berpindah-pindah bacaan tanpa benar-benar menamatkannya.


Tanda-Tanda Reading Slump

Beberapa tanda yang sering dirasakan saat mengalami reading slump antara lain:

  • Sulit fokus saat membaca
  • Cepat bosan dengan buku yang dibaca
  • Tidak mood membuka buku sama sekali
  • Membaca terasa seperti kewajiban
  • Sering berhenti di tengah buku
  • Tidak antusias meski membaca genre favorit

Setiap orang bisa mengalami reading slump dengan cara yang berbeda. Ada yang hanya berlangsung beberapa hari, tetapi ada juga yang berlangsung cukup lama.


Kenapa Reading Slump Bisa Terjadi?

Reading slump bisa muncul karena banyak hal, mulai dari kelelahan, kesibukan, stres, hingga tekanan untuk terus produktif dalam membaca.

Sebagian orang juga mengalami reading slump karena terlalu memaksakan diri membaca buku berat. Akibatnya, membaca yang seharusnya menyenangkan justru terasa melelahkan karena otak membutuhkan waktu untuk memproses informasi.

Selain itu, memilih buku yang kurang sesuai dengan mood atau kondisi saat itu juga bisa membuat seseorang lebih cepat kehilangan minat membaca.


Tips Mengatasi Reading Slump

Jika sedang mengalami reading slump, ada beberapa hal yang bisa dicoba agar mood membaca perlahan kembali:

  • Mulai dari buku ringan atau genre favorit
  • Tidak memaksakan target membaca terlalu tinggi
  • Mencoba format lain seperti audiobook atau e-book
  • Membaca dalam waktu singkat terlebih dahulu
  • Mengunjungi toko buku atau membaca bersama teman
  • Istirahat sejenak tanpa merasa bersalah

Hal terpenting adalah memahami bahwa reading slump merupakan hal yang wajar. Tidak semua orang harus selalu produktif dalam membaca setiap waktu.

Pada akhirnya, membaca seharusnya menjadi aktivitas yang menyenangkan, bukan tekanan. Mengalami reading slump bukan berarti seseorang kehilangan minat terhadap buku, melainkan tubuh dan pikiran mungkin sedang membutuhkan jeda.

Grameds, setiap pembaca punya ritme dan cara menikmati buku yang berbeda. Jadi, tidak perlu merasa tertinggal atau bersalah jika sedang kehilangan mood membaca untuk sementara waktu.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Bersama Grind Theory, Theo Derick Bahas Realita Anak Muda di Tengah Tekanan Ekonomi
29 May 2026

Bersama Grind Theory, Theo Derick Bahas Realita Anak Muda di Tengah Tekanan Ekonomi

#AuthorSpotlight — Grameds, belakangan banyak anak muda merasa semakin sulit mengejar stabilitas finansial di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Harga kebutuhan meningkat, persaingan kerja semakin ketat, sementara media sosial dipenuhi konten tentang kesuksesan instan, gaya hidup mewah, hingga motivasi cepat kaya.


Theo Derick Angkat Perjalanan Bertahan dan Bertumbuh Lewat Buku From Zero to Survive 

Melalui buku From Zero to Survive, Theo Derick memberikan pengalaman bertahan dan berkembang dari kondisi hidup yang tidak ideal. Buku ini membahas perjalanan membangun hidup, networking, personal branding, hingga pondasi keuangan dengan pendekatan yang realistis dan dekat dengan kehidupan generasi muda.

Tidak hanya berisi motivasi, buku ini juga menghadirkan berbagai pembahasan praktis yang dekat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari pentingnya membangun networking, personal branding, pola pikir, hingga fondasi keuangan yang lebih sehat dan realistis. Dengan gaya penyampaian yang ringan dan relevan, Theo mencoba menunjukkan bahwa proses bertumbuh tidak selalu instan, tetapi tetap bisa dijalani secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing. 

From Zero to Survive: Seni Menang dalam Hidup dengan Realistis — Theo Derick


Berangkat dari keresahan dan realita yang juga dibahas dalam buku From Zero to Survive, penulis sekaligus entrepreneur Theo Derick bersama Grind Theory mengajak anak muda melihat kembali cara mereka memandang kesuksesan, tekanan sosial, hingga proses bertahan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu saat ini. . 

Melalui forum diskusi bersama Gramedia dan Penerbit Elex Media Komputindo, Theo Derick membahas berbagai fenomena yang dekat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari tekanan akibat media sosial, budaya flexing, hingga pentingnya membangun pola pikir dan kemampuan yang relevan agar tetap bisa berkembang secara realistis di era digital. 


Anak Muda dan Tekanan di Era Media Sosial

Theo Derick menyampaikan bahwa anak muda saat ini sebenarnya tidak kekurangan informasi. Namun, yang sering menjadi masalah adalah sulitnya menemukan informasi yang benar-benar relevan dan realistis dengan kondisi di lapangan.

Menurutnya, media sosial sering membuat banyak orang merasa tertinggal karena terus melihat standar kesuksesan yang tidak realistis. Tidak sedikit anak muda akhirnya merasa gagal hanya karena belum mencapai pencapaian tertentu di usia muda.


Deddy Corbuzier Soroti Fenomena “Jual Mimpi”

Dalam sesi press conference Grind Theory yang berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026, Deddy Corbuzier juga menyinggung keresahannya terhadap banyaknya konten yang dianggap menjual mimpi tanpa menunjukkan proses dan realita perjuangan sebenarnya.

Sesi press conference Grind Theory (23/05/26)

Menurutnya, terlalu banyak orang akhirnya hidup dalam tekanan karena terus membandingkan hidup mereka dengan pencapaian orang lain di media sosial. Ia juga menekankan bahwa kesuksesan tidak selalu datang secara cepat dan instan.


Affiliate Jadi Salah Satu Peluang di Era Digital

Selain membahas tekanan sosial, Marco Putra turut menyoroti peluang yang masih bisa dimanfaatkan anak muda di era digital, salah satunya melalui affiliate. Menurutnya, affiliate menjadi salah satu peluang dengan modal awal yang relatif rendah dan lebih mudah diakses banyak orang saat ini.

Meski begitu, Marco menegaskan bahwa tujuan utamanya bukan tentang menjadi cepat kaya, melainkan bagaimana seseorang bisa bertahan, terus belajar, dan berkembang secara realistis sesuai kemampuan masing-masing.


Pentingnya Pola Pikir yang Realistis

Melalui Grind Theory, Theo Derick bersama para pembicara lainnya berharap anak muda bisa lebih fokus membangun skill, kemampuan beradaptasi, dan pola pikir yang realistis di tengah kondisi yang serba tidak pasti saat ini.

Grameds, di tengah banyaknya tekanan dan distraksi di media sosial, memahami proses dan berkembang secara bertahap mungkin menjadi hal yang jauh lebih penting dibanding sekadar terlihat sukses dengan cepat.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.