#HappeningToday Grameds pasti sudah tidak asing dengan buku karya Aurelie Moeremans yang belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Kutipan-kutipan yang terasa dekat, cerita pembaca tentang perasaan setelah membaca, hingga rekomendasi yang dibagikan karena merasa “relate” memenuhi linimasa.
Perbincangan ini jadi menarik karena buku tersebut tidak hanya dibaca, tapi juga dirasakan. Banyak pembaca tidak berhenti di cerita, melainkan ikut membagikan perasaan yang muncul setelah menutup halaman terakhir. Mungkin karena kisah yang diangkat berasal dari pengalaman nyata, ceritanya terasa jujur dan mudah diterima oleh banyak orang.
Di sini, membaca kembali terasa dekat. Buku tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berat atau berjarak, melainkan sebagai ruang untuk berhenti sejenak dan memahami perasaan dengan lebih pelan. Media sosial memang sering menjadi awal pertemuan dengan sebuah buku, tapi pengalaman membacanya tetap memberi ruang bagi kamu untuk benar-benar tenggelam dalam cerita, tanpa perlu terburu-buru.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa minat baca sebenarnya masih ada. Banyak orang hanya menunggu cerita yang terasa dekat dengan kehidupannya. Ketika buku mampu menghadirkan kejujuran dan pengalaman yang manusiawi, membaca pun kembali menemukan tempatnya dalam keseharian.
Perpustakaan Nasional RI juga mencatat perkembangan signifikan dalam upaya literasi masyarakat melalui layanan digital dan dukungan program baca di 2025.
Ketika Kisah Nyata Menyentuh Pembaca
Buku yang lahir dari pengalaman personal sering kali memiliki daya tarik tersendiri. Tidak ada jarak antara penulis dan pembaca karena cerita yang disampaikan terasa manusiawi. Inilah yang membuat banyak Grameds tertarik membaca buku Aurelie Moeremans secara utuh, setelah sebelumnya hanya menemukan potongan kutipan di media sosial.
Rekomendasi Buku untuk Grameds yang Ingin Bacaan yang Relate
Kalau Grameds tertarik dengan buku berbasis kisah nyata atau cerita yang dekat dengan pengalaman hidup, beberapa buku berikut bisa jadi pilihan bacaan dan tersedia di Gramedia:
“Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” – Mark Manson

Buku nonfiksi populer yang mengajak pembaca melihat hidup dengan sudut pandang yang lebih realistis. Pas untuk Grameds yang sedang belajar berdamai dengan tekanan dan ekspektasi.
“Filosofi Teras” – Henry Manampiring

Menggabungkan filsafat Stoikisme dengan contoh kehidupan sehari-hari. Buku ini banyak dipilih pembaca yang ingin memahami diri dan emosi dengan cara yang ringan.
“Laut Bercerita” – Leila S. Chudori

Meski berbentuk fiksi, buku ini sarat emosi dan refleksi. Cocok untuk Grameds yang ingin merasakan cerita mendalam tentang kehilangan, ingatan, dan kemanusiaan.
“Manusia Setengah Salmon” – Raditya Dika

Untuk Grameds yang ingin bacaan lebih ringan tapi tetap relate. Kisah-kisah personal yang dibalut humor ini sering kali terasa dekat dengan keseharian.
Dari Tren ke Kebiasaan
Ramainya buku Aurelie Moeremans di media sosial bisa menjadi pengingat bahwa membaca bukan sekadar tren sesaat. Ketika cerita terasa jujur dan relevan, buku kembali menjadi ruang bagi kamu untuk memahami diri sendiri dengan lebih pelan.
Sebagai bagian dari ekosistem literasi, Gramedia terus mendukung hadirnya rua
ng baca alternatif yang mendekatkan buku dengan keseharian. Yuk, tetap terhubung dengan dunia literasi dan kepenulisan bersama Gramedia Writers and Readers Forum melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.