Jakarta, 29 Agustus 2026 — Penerbit Gramedia menyelenggarakan diskusi buku monumental "Mengapa Negara Gagal" (Why Nations Fail) bertajuk “Siapa yang Mendapatkan Kesempatan untuk Sejahtera? Kekuasaan, Institusi, dan Masa Depan Indonesia” pada Sabtu (29/8/2026) di Gramedia Makarya, Jakarta. Diskusi ini menghadirkan peraih Nobel Ekonomi 2024 sekaligus penulis buku tersebut, Prof. James A. Robinson, serta akademisi dan Ketua Dewan Pers Indonesia (2025–2028), Prof. Komaruddin Hidayat, dengan dipandu oleh jurnalis senior Timothy Marbun.
Acara ini digelar di tengah momentum krusial perjalanan pembangunan nasional, di mana Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026 dengan tingkat kemiskinan yang turun menjadi 8,07 persen per Maret 2026. Melalui diskusi ini, Gramedia mengajak publik dan pemangku kebijakan untuk melihat pembangunan tidak sekadar dari angka pertumbuhan ekonomi atau capaian realisasi investasi semata, melainkan dari kualitas aturan main dan institusi yang menentukan siapa yang betul-betul mendapatkan kesempatan untuk menikmati kemakmuran tersebut menuju ambisi Indonesia Emas 2045.
Dalam pemaparannya, Prof. James A. Robinson menekankan bahwa kemakmuran jangka panjang suatu bangsa sangat bergantung pada apakah institusi politik dan ekonominya bersifat inklusif atau ekstraktif. Menurutnya, negara yang kuat untuk mendorong hilirisasi dan infrastruktur tidak otomatis menjadi ekstraktif selama disertai dengan tata kelola yang transparan dan kompetisi yang adil.
Menurut Prof. James A. Robinson “Untuk memajukan suatu negara, kita tidak boleh bergantung pada siapa yang memimpin, melainkan pada institusi yang dibangun dalam sistem negara tersebut. Institusi politik dan ekonomi yang kuat akan menjadi fondasi kemajuan yang berkelanjutan. Dengan begitu, siapa pun yang memimpin, laju kemajuan negara akan tetap terjaga dan tidak bergantung pada satu visi atau sosok pemimpin.” .
Menanggapi realitas sosial-politik di Indonesia, Prof. Komaruddin Hidayat menguraikan pentingnya fondasi budaya, penegakan hukum, serta keberadaan pers yang bebas untuk menjaga agar institusi negara tetap transparan dan bekerja demi kepentingan seluruh masyarakat.
Menurut Prof. Komaruddin Hidayat “Setelah 81 tahun merdeka, Indonesia masih menggunakan piramida sosial yang cenderung ekstraktif, bukan inklusif. Kondisi ini membuat Indonesia sulit untuk benar-benar masuk ke jajaran negara maju, meskipun juga tidak sampai jatuh. Kita tidak gagal, tetapi juga belum berhasil. Inilah salah satu problem besar yang kita hadapi. Saya cukup pesimis jika elite politik dan pemerintah yang memegang kekuasaan tidak memiliki komitmen kuat terhadap check and balance, meritokrasi, dan profesionalisme. Tanpa itu, kekuasaan akan cenderung mempertahankan kondisi yang ada, membatasi mobilitas masyarakat, dan menghambat kemajuan. Karena itu, saya cukup pesimis melihat arah Indonesia ke depan.”
Melalui penyelenggaraan diskusi ini, Gramedia berharap dapat memantik pemikiran kritis publik dalam merumuskan arah pembaharuan institusional di Indonesia. Buku "Mengapa Negara Gagal" karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson kini telah tersedia di seluruh jaringan Toko Gramedia dan platform e-commerce Gramedia.com.