Sapa Pembaca Indonesia, Satoshi Yagisawa Hadir di IIBF 2026 dan Gramedia Grand Indonesia

03 October 2026
Sapa Pembaca Indonesia, Satoshi Yagisawa Hadir di IIBF 2026 dan Gramedia Grand Indonesia
Satoshi Yagisawa pada sesi "Coffee and Conversation with Satoshi Yagisawa" di IIBF 2026.

Jakarta, 3 Oktober 2026 – Water Lily Literary mewarnai Indonesia International Book Fair dengan membawa penulis Days at the Morisaki Bookshop, Satoshi Yagisawa, di Jakarta International Convention Center pada Sabtu (3/10) lalu. Dalam sesi bertajuk Coffee and Conversation with Satoshi Yagisawa, ia hadir untuk membahas proses kreatif dalam penulisan bukunya, Days at the Torunka Café, dan menyapa penggemar dengan sesi tanda tangan dan foto bersama. Kehadiran penulis novel populer Days at the Torunka Café ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungannya di Indonesia, yang juga dilanjutkan dengan sesi Meet & Greet bersama pembaca di Gramedia Grand Indonesia. 

Pada Indonesia International Book Fair 2026, Water Lily Literary berkesempatan untuk membawakan penulis best seller internasional Satoshi Yagisawa untuk membagikan buah pikirannya dana sesi Coffee and Conversation. Pada sesi ini, ia mendiskusikan perjalanan kreatif penulis, inspirasi, serta tema, karakter, dan pengalaman personal di balik karya-karyanya, termasuk untuk novel terbarunya, Days at the Torunka Café.

Melalui Days at the Torunka Café, Satoshi Yagisawa menceritakan kisah tiga pengunjung reguler Torunka Café, Chinatsu Yukimura, seorang perempuan muda yang selalu meninggalkan serbet lipat berbentuk ballerina; Hiroki Yumata, lelaki paruh baya yang kembali ke perumahan ini untuk mencari kebahagiaan yang pernah ia tinggalkan; dan Shizuku, anak remaja dari pemilik café tersebut, yang masih berusaha melepaskan kematian kakaknya seiring ia jatuh cinta untuk pertama kali.

Pada acara ini, Satoshi Yagisawa mengungkapkan bahwa ia selalu terinspirasi dari lingkungan di sekitarnya saat ia menulis. 

“Sama seperti Days at the Morisaki Bookshop, aku selalu mendapat inspirasi dari kehidupan sehari-hari. Dulu, Morisaki Bookshop berasal dari distrik toko buku di Jinbōchō. Torunka Café-pun terinspirasi dari budaya café yang ramai di Jepang. Sebuah cafe memiliki banyak cerita dengan beragam pengunjung dan masing-masing ceritanya. Itu yang menjadi sumber inspirasi Days at the Torunka Café.”

Sesi Coffee and Conversation with Satoshi Yagisawa juga menghadirkan kolaborasi dengan brand kopi lokal TUKU, yang turut mendukung suasana diskusi dengan menyediakan minuman bagi panelis dan peserta awal (early participants). Kolaborasi ini melengkapi pengalaman pengunjung dalam menikmati perbincangan seputar dunia literasi dan proses kreatif di balik karya Satoshi Yagisawa, sekaligus menghadirkan suasana santai yang selaras dengan tema coffee and conversation.

Sesi ini terbuka bagi 150 pengunjung yang mendatangi booth Water Lily Literary untuk membeli koleksi Satoshi Yagisawa selama IIBF berjalan. Selain mendengarkan kisah di belakang penulisan Days at the Torunka Café, peserta acara juga mendapatkan tanda tangan dan berfoto bersama Satoshi Yagisawa. Namun, Bagi pengunjung yang belum berkesempatan bertemu dengannya di IIBF 2026, Satoshi Yagisawa juga meluangkan waktunya untuk kembali menyapa pembaca di Gramedia Grand Indonesia untuk membahas inspirasi di belakang novelnya. 

Pada sesi yang bertajuk An Afternoon at the Bookshop with Satoshi Yagisawa, kali ini ia bertemu dengan 70 pembaca yang juga berkesempatan mengikuti sesi book signing dan foto bersama. Seorang penggemar juga tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan penulis favoritnya.

“Setelah membaca seri Days in the Morisaki Bookshop, aku senang sekali bisa bertemu langsung dengan Satoshi Yagisawa. Ceritanya yang santai dan mudah dimengerti membuat buku-bukunya jadi bacaan yang ringan. Aku senang sekali bisa denger langsung perspektif beliau dalam menulis, terutama untuk buku terbarunya. Rasanya seperti mendengar sudut pandang baru dari mendengar latar belakang penulisannya.”

Dengan menghadirkan Satoshi Yagisawa di ke Indonesia melalui IIBF 2026 dan Meet and Greet, Water Lily Literary memberi kesempatan untuk pembaca bisa bertemu langsung dengan penulis taraf internasional dan mendiskusikan karyanya. Water Lily Literary juga berhasil membuka ruang untuk berdiskusi tentang proses kreatif dan kisah belakang layar di balik proses penulisan kreatif Satoshi Yagisawa, terutama dalam menulis Days at the Torunka Café. Acara ini menunjukkan komitmen Water Lily Literary dalam menghadirkan diskusi bermakna antara penulis dalam ranah internasional dengan pembacanya.