Sastra Indonesia Menyapa Pembaca Jepang “Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati” Dibahas dalam Dialog Lintas Budaya

27 January 2026
Sastra Indonesia Menyapa Pembaca Jepang “Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati” Dibahas dalam Dialog Lintas Budaya
Dialog lintas budaya lewat sastra: Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati edisi Jepang

Jakarta, 24 Januari 2026 — Sastra Indonesia kembali menunjukkan gaungnya di kancah internasional. Novel Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, yang diterbitkan oleh PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), resmi diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Hal ini menandai semakin terbukanya ruang bagi karya sastra Indonesia untuk dibaca dan diapresiasi oleh pembaca lintas negara. Acara Talkshow Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati versi bahasa Jepang yang dimoderatori oleh Lia Kusumawardani ini sukses diadakan pada Sabtu (24/1) di Taksu Book Cafe, Cilandak. 

Acara ini menghadirkan Brian Khrisna bersama Nishino Keiko, penerjemah Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati versi bahasa Jepang. Diskusi yang dipandu oleh Lia Kusumawardani ini menjadi ruang dialog untuk membahas bagaimana karya sastra Indonesia dibaca, dipahami, dan diterima oleh pembaca Jepang, seiring meningkatnya minat penerbit Jepang terhadap sastra Asia, termasuk Indonesia.

Dalam perbincangan ini, Brian Khrisna mengulas proses kreatif di balik penulisan novel yang berangkat dari keseharian dan emosi yang dekat dengan pembaca Indonesia. “Setiap cerita membawa konteks budayanya sendiri. Ketika diterjemahkan, tantangannya bukan hanya soal bahasa, tetapi bagaimana emosi dan makna di dalamnya tetap bisa sampai kepada pembaca lintas budaya,” ungkap Brian.

Diskusi juga menyoroti dinamika lintas budaya dalam penerjemahan sastra. Tidak hanya sebagai proses alih bahasa, penerjemahan dipahami sebagai kerja interpretasi yang menuntut pemahaman mendalam atas latar sosial, kebiasaan, serta cara pandang masyarakat Indonesia agar dapat diterima secara utuh oleh pembaca Jepang.

Menurut Nishino Keiko, meningkatnya perhatian terhadap sastra Asia di Jepang membuka peluang bagi cerita-cerita dari Indonesia untuk hadir dan hidup di pasar global. Kehadiran fiksi populer Indonesia dalam bahasa Jepang menjadi penanda bahwa cerita lokal memiliki daya jangkau universal ketika disampaikan dengan kejujuran dan kedalaman emosi.

Book talk ini diharapkan menjadi ruang refleksi dan edukasi bagi publik, sekaligus menegaskan bahwa sastra Indonesia memiliki tempat di luar batas geografis dan bahasa.  Selain itu, peluncuran buku ini menjadi bagian dari komitmen Gramedia dalam mendukung ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong karya-karya penulis Indonesia untuk terus menjangkau pembaca lintas negara.