#HappeningToday — Belakangan ini, pemerintah resmi menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) pada 28 Maret 2026. Langkah ini diambil sebagai respons meningkatnya ancaman pornografi, cyberbullying, judi online, dan penipuan online yang menyasar anak-anak di bawah umur. Peraturan ini menyasar ke 8 platform besar media sosial, diantaranya adalah YouTube, TikTok, Facebook, Thread, Instagram, X, Bigo Live dan Roblox.
Kenapa Pembatasan Ini Diperlukan?
Di era digital, anak-anak semakin mudah mengakses berbagai platform hiburan. Meski menawarkan kesenangan dan interaksi, penggunaan yang tidak terkontrol dapat berdampak pada perkembangan mereka.
Kehadiran PP TUNAS menegaskan bahwa orang tua kini tidak lagi menghadapi tantangan algoritma sendirian. Regulasi ini bertujuan untuk memastikan anak-anak Indonesia dapat tumbuh secara sehat tanpa terpapar distorsi teknologi yang berlebihan.
Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain paparan konten yang tidak sesuai usia, karena tidak semua konten di platform digital dirancang untuk anak-anak sehingga ada risiko mereka mengakses hal yang belum seharusnya. Selain itu, waktu layar yang berlebihan juga dapat mempengaruhi fokus, pola tidur, hingga kesehatan mental anak. Minimnya kontrol dan pendampingan dari orang tua juga menjadi faktor penting, karena tanpa pengawasan yang cukup, anak bisa dengan mudah terpapar berbagai hal yang tidak terfilter.
Tidak bisa dipungkiri, teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak pun tumbuh di lingkungan yang sangat dekat dengan gadget, internet, dan media sosial. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara hiburan digital dan aktivitas yang lebih bermanfaat. Di sinilah peran orang tua dan lingkungan menjadi sangat penting, terutama dalam mengarahkan anak pada kebiasaan yang lebih sehat.
Alternatif yang Lebih Sehat: Membaca Buku
Di tengah derasnya arus konten digital, membaca buku bisa menjadi alternatif yang lebih positif dan aman untuk anak.
Melalui buku, anak tidak hanya terhibur, tetapi juga belajar memahami cerita, mengembangkan imajinasi, serta melatih kemampuan berpikir dan berbahasa. Berbeda dengan konsumsi konten digital yang serba cepat, membaca memberikan ruang bagi anak untuk lebih fokus dan mendalami sesuatu secara perlahan.
Membangun Kebiasaan Membaca Sejak Dini
Mengalihkan perhatian anak dari gadget ke buku tentu tidak selalu mudah. Namun, kebiasaan ini bisa mulai dibangun secara bertahap, misalnya dengan:
- Memilih buku yang sesuai dengan usia dan minat anak
- Membacakan cerita bersama sebagai aktivitas keluarga
- Menjadikan membaca sebagai rutinitas harian yang menyenangkan
Dengan pendekatan yang tepat, membaca tidak akan terasa sebagai kewajiban, tetapi justru menjadi aktivitas yang dinantikan.
Peringatan dari Komdigi menjadi pengingat bahwa penggunaan teknologi, terutama bagi anak-anak, perlu diimbangi dengan kontrol dan kebiasaan yang sehat.
Di tengah banyaknya pilihan hiburan digital, membaca buku tetap menjadi salah satu cara terbaik untuk mendukung tumbuh kembang anak secara lebih optimal.
Dengan membangun kebiasaan membaca sejak dini, anak tidak hanya terhindar dari dampak negatif penggunaan gadget, tetapi juga memiliki bekal yang lebih kuat untuk masa depan.
Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.