Mataram, 28 Maret 2024 — “Selama ramadan ini, Safari enam kota di enam provinsi, roadshow Seminar dan Diskusi Buku ‘Santri Indonesia di Tiongkok’ yang kick-off di Pesantren Darul Amanah Kendal, Jawa Tengah (8/3/2024), lanjut di UIN Ar-Raniry Banda Aceh (19/3), UNU Pontianak (22/3), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (25/3), Institut PADHAKU Indramayu (26/3) dan terakhir, ditutup di kampus UNU NTB Mataram”. Ujar Hasyim Habibi, dalam sambutannya mewakili PCINU Tiongkok di UNU Mataram NTB pada Kamis (28/3/2024) kemarin.
Dalam program Nihao Ramadan yang diinisiasi oleh PCINU Tiongkok ini melibatkan total sekitar 1500 peserta dan panitia. Program tahunan Nihao Ramadan ini dimulai sejak tahun 2020 yang awalnya daring, dan pada 2024 ini dilaksanakan secara luring dan daring dengan keliling nusantara dan berkolaborasi dengan pesantren dan kampus setempat sebagai co-host, tambahnya.
PCINU Tiongkok mengangkat topik buku ‘Santri Indonesia di Tiongkok’, buku yang ditulis oleh santri Indonesia yang berkuliah ataupun bekerja di Tiongkok. Buku yang menceritakan pengalaman kehidupan keislaman, pendidikan, ekonomi, teknologi, sosial budaya dan hubungan Indonesia-Tiongkok. Buku yang dicetak pertama kali 2019, dan pada 2023 dicetak ulang dengan revisi dan tambahan beberapa artikel terbaru yang bekerjasama dengan penerbit KPG Jakarta.
PCINU Tiongkok sendiri berdiri sejak 2017, dan saat ini mempunyai anggota ratusan yang berlatar belakang studi S1-S3 dan non gelar di Tiongkok dengan berbagai macam disiplin ilmu serta diaspora professional di Tiongkok.
“Di Changchun, ada masjid yang pintu masuknya tertulis Hubbul Wathon Minal Iman, Cinta Tanah Air sebagian dari iman, sangat NU banget. Ternyata itu ditemukan juga di cukup banyak masjid yang tersebar di China” ujar Gus Imron Rosyadi Hamid, pembicara yang juga Wakil Sekjen PBNU.
Masa depan dunia itu terletak di China. Ketika Gus Dur menjadi Presiden tahun 2000 pernah menggagas satu ide Poros Jakarta-Peking-New Delhi. Mendahului pemikiran Farid Zakaria, jurnalis CNN yang tahun 2001 menulis satu buku berjudul The Post-American World, yang mengatakan bahwa China menjadi kekuatan baru. Ada banyak pertumbuhan yang lebih cepat di luar sana khususnya di Asia. Pergeseran pertumbuhan dari Barat menuju ke Timur.
“Melihat data konsumsi semen saja, satu abad konsumsi semen AS dari 1901-2000 sebanyak 4.4 giga ton. Sementara di China, tahun 2013-2016 konsumsi semennya 6.6 ton. Tiga tahun China dalam pembangunannya mengalahkan satu abad AS”. Tambah Gus Imron, panggilan akrabnya.
Pria yang juga pernah menjadi Rois Syuriyah PCINU Tiongkok 2017-2022 ini juga menambahkan bahwa lompatan kemajuan pembangunan dan perkembangan teknologi di Tiongkok bisa menjadi ibroh bagi Indonesia, untuk terus meningkatkan kerjasama dan menyerap pengalaman dan pengetahuan dari mereka demi kemajuan Indonesia.
Dr. Baiq Mulianah,M.Pd.I, Rektor UNU NTB, dalam sambutannya mengatakan sangat senang ketika ditawari menjadi salah satu tuan rumah dalam seminar roadshow buku ‘Santri Indonesia di Tiongkok’ oleh PCINU Tiongkok. Bahwa kegiatan ini juga menjadi silaturahim keilmuan. Ia ingat pada beberapa tahun lalu pernah ke Tiongkok menyaksikan sendiri seperti industry halal food disana. Halal food di China yang bersertifikat halal khususnya di sekitar masjid banyak ditemukan. Kenapa semangat bekerjasama dengan pihak RRT? Saya belajar dari budaya disiplin yang luar biasa. Teknologi yang sangat luar biasa, seperti dalam praktek pertanian sehari-hari yang penuh dengan sentuhan kecanggihan teknologi. Ujarnya.
Sementara itu, Yudil Chatim, Atase Pendidikan KBRI Beijing, yang hadir via Zoom mengatakan bahwa pihaknya saat ini sedang mencoba menawarkan program kerjasama dengan pihak Tiongkok. Kerjasama Pendidikan tinggi, University-to-University. Mempromosikan kampus Indonesia di Tiongkok. Dengan skema 2 plus 2. Dua tahun di Indonesia, dua tahun di kampus Tiongkok. Sehingga kita bisa mendapat banyak manfaat, termasuk mahasiswa Tiongkok juga bisa belajar di Indonesia. Yang tujuan kedepannya adalah untuk mencetak SDM Indonesia semakin unggul dan berdaya saing global.
Seminar yang dihadiri lebih dari 250 orang dan ditutup buka bersama dan pameran foto Jejak Islam di Tiongkok itu selain dihadiri oleh mahasiswa dan sivitas academica UNU NTB, juga dihadiri perwakilan tokoh-tokoh agama, pendidikan dan juga perwakilan dari komunitas Tionghoa seperti PSMTI NTB.