Baca Buku Dulu vs Sekarang, Mana yang Kamu Suka?

14 July 2026
Baca Buku Dulu vs Sekarang, Mana yang Kamu Suka?
Perkembangan zaman telah mengembangkan banyak opsi untuk kegiatan membaca.

#LiterasiAsik — Grameds, kamu lebih suka baca buku fisik atau digital? Tanpa terasa, perubahan zaman dan perkembangan teknologi sudah mengubah banyak gaya hidup sehari-hari kita. Hal ini termasuk pengalaman membaca buku yang sudah banyak berubah juga. Jika dahulu membaca identik dengan data ke toko buku dan perpustakaan, kini ribuan judul bisa secara cepat diakses secara digital.  Apakah kamu merasakan perubahan-perubahan ini?


  1. Buku Fisik vs Buku Digital, Mana yang Lebih Praktis?

    Preferensi membaca buku fisik atau digital memang sudah menjadi obrolan lama. Seringkali, preferensi ini membahas kelebihan dan kekurangan masing-masing mode baca, seperti buku yang seringkali berat atau kekhawatiran terhadap blue light saat membaca buku digital. Namun, hal ini juga menunjukkan perkembangan zaman, loh, Grameds. 

    Dulu, pembaca tidak memiliki banyak opsi selain membaca buku fisik. Dalam membaca untuk belajar, bekerja, atau rekreasi, kita tidak bisa melakukannya tanpa membeli buku fisik. Karena itu, tas sekolah dan tas kerja bisa menjadi sangat berat karena adanya buku yang banyak dan tebal.

    Namun, hal ini sudah berubah karena perkembangan digital menciptakan adanya teknologi e-book dan audiobook. Pembaca juga memiliki opsi untuk membaca e-book melalui smartphone atau alat pembaca buku elektronik (e-reader). Karenanya, adanya teknologi buku digital seperti ini memudahkan menyimpan buku tanpa memberatkan ruang dalam tas maupun rumahmu.

    Saat ini, buku fisik dan buku digital tetap tersedia menjadi pilihan. Tapi, pembaca memiliki opsi tambahan untuk memilih cara membacanya, digital maupun fisik.


  2. Aplikasi Bacaan yang Memudahkan Pengalaman Membaca

    Dulu, pembaca harus menandai halaman terakhir yang dibaca dengan menggunakan pembatas buku, dog ear, atau mengingatnya sendiri. Metode-metode ini memiliki resikonya masing-masing, seperti hilangnya pembatas, rusaknya buku, atau lupa halaman terakhirnya. 

    Salah satu kelebihan dari membaca buku di zaman sekarang adalah adanya aplikasi bacaan. Dengan membaca buku digital dalam aplikasi atau website seperti Gramedia Digital, pembaca dapat menyimpan bacaannya tanpa mengingatnya secara manual atau menggunakan sebuah pembatas buku. 

    Aplikasi seperti ini menyimpan halaman terakhir yang dibaca secara otomatis, termasuk saat buku diunduh dan dibaca secara offline. Bacaan juga secara otomatis tersinkronisasi dengan gawai lain yang digunakan. Jadi, berpindah gawai pun, halaman terakhir bacaan akan tetap tersimpan.

    Kalau membaca buku fisik, halaman terakhir yang dibaca juga bisa tersimpan menggunakan aplikasi bacaan sosial, seperti Goodreads, Storygraph, maupun Fable. Aplikasi ini membantu pembaca mengingat buku apa saja yang pernah dibaca, halaman terakhir dari buku yang sedang baca, dan jumlah progress-mu menyelesaikan buku itu. Dengan perkembangan teknologi, fitur-fitur ini sangat membantu menyelesaikan masalah dari pembaca buku. 

    Anotasi buku juga dimudahkan dengan perkembangan zaman. Dulu, membuat anotasi di buku hanya bisa dilakukan dengan pulpen, highlighter, dan menempel post-it. Hal ini tidak bisa dilakukan semua orang atas kekhawatiran merusak buku. Beberapa pembaca merasa buku bacaan tidak seharusnya ditulis tangan, diwarnai, ataupun ditempel sesuatu. Lalu, tidak banyak opsi lain selain menulis langsung untuk membuat anotasi buku.

    Sekarang, aplikasi bacaan e-book juga bisa dipergunakan untuk membuat anotasi di buku, seperti mewarnai teks, menandai halaman, dan menulis komentar. Hal ini memudahkan pembaca untuk membuat anotasi tanpa merusak cetakan asli buku. 


  3. Akses yang Lebih Banyak

    Kalau kamu datang ke toko buku untuk mencari judul spesifik, ada kemungkinan kamu tidak menemukannya. Terutama, kalau buku yang kamu cari adalah buku lama atau buku kurang populer. Kalau kamu menemukannya, selalu ada kemungkinan stock yang dicari habis. Lalu, mungkin kamu pergi ke perpustakaan untuk mencarinya. Kalaupun kamu menemukan judulnya di katalog, bisa jadi buku itu sedang dipinjam. Dulu, opsi sangat terbatas untuk mencari kesediaan buku yang dicari pembaca. 

    Sekarang, pembaca memiliki lebih banyak opsi untuk mencarinya secara daring, seperti memesannya dari toko e-commerce, aplikasi bacaan digital, atau perpustakaan digital. Opsi-opsi ini memungkinkan adanya lebih banyak pilihan untuk mencari buku yang dimau. Walaupun ketersediaan buku di perpustakaan digital tetap terbatas, pembaca memiliki opsi untuk mencari judul di toko e-commerce atau aplikasi bacaan digital. Kalau ketersediaan buku telah habis di satu toko e-commerce, pembaca bisa dengan mudah mencari di toko lainnya. Pada aplikasi bacaan digital, stock buku digital pun tidak akan habis dan akan selalu tersedia untuk dibeli. Persebaran buku digital ini memudahkan pembaca untuk mencari judul yang diinginkan dengan banyaknya opsi yang bisa dipilih. 


  4. Rekomendasi Buku yang Lebih Personal

    Dulu, pembaca hanya bisa mencari tahu rekomendasi buku dari mulut ke mulut. Kebanyakan orang mendapatkan rekomendasi bacaan dari orang sekitarnya, seperti teman atau keluarga. Selain itu, rekomendasi buku juga bisa didapatkan dari pajangan rekomendasi atau best seller dalam sebuah toko buku.

    Adanya akses internet sekarang memudahkan pemberian rekomendasi buku yang lebih sesuai dengan seleramu. Pembaca dapat mendapatkan rekomendasi bacaan dari internet maupun aplikasi bacaan yang menyesuaikan rekomendasi dari riwayat bacaan atau pencarian pengguna.

    Kini, pembaca juga bisa mendapatkan rekomendasi buku dari komunitas baca berbasis sosial media, seperti Bookstagram atau BookTok. Rekomendasi ini akan disesuaikan selera pengguna dari konten sosial media yang dikonsumsi. Dari komunitas daring ini, pembaca akan mendapatkan rekomendasi dengan niche mereka. 


  5. Komunitas Membaca yang Semakin Beragam

    Klub buku memang bukan hal baru. Berkumpul bersama sesama pecinta buku merupakan hal yang sudah lama dipraktekkan. Namun, sekarang, klub buku bisa menjangkau peserta yang lebih luas dan banyak.

    Dulu, klub buku lebih banyak terbentuk dalam suatu komunitas lokal, seperti sekolah, kampus, atau perpustakaan lokal. Sekarang, dengan luasnya jangkauan internet, pembaca dari berbagai daerah dan latar belakang dapat berkumpul pada satu komunitas. Sekarang juga banyak sekali tersedia komunitas membaca bersama yang berkumpul setiap bulannya. Pembaca bisa mengikuti acara bacaan yang sesuai dengan komunitasnya. Hal ini memungkinkan adanya acara literasi yang memiliki konsep lebih niche, seperti klub buku senyap atau klub literatur dark academia



Grameds, ternyata perubahan zaman juga berpengaruh pada kegiatan membaca ya. Tentunya, sekarang kita memiliki lebih banyak opsi untuk membaca, baik modenya, rekomendasinya, ataupun komunitasnya. Kalau kamu lebih suka yang mana, nih, Grameds?


Kebetulan, Gramedia juga sudah bertumbuh seiring dengan waktu dengan tersedianya Gramedia Digital. Opsi berlangganan yang disediakan Gramedia Digital juga memudahkan kamu untuk membaca dengan biaya yang lebih murah, loh. Kamu dapat memilih paket fiksi atau non fiksi seharga Rp49.000 per bulan, atau kamu bisa mengecek info lengkapnya di ebooks.gramedia.com/id/paket-langganan. Dengan berlangganan setiap bulannya, kamu dapat membaca buku sebanyak apapun yang kamu mau dengan biaya tersebut. 


Gramedia juga memiliki ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.