#LiterasiAsik Di zaman serba scrolling, pernah nggak mata kamu terasa "perih" setelah baca artikel panjang di HP? Atau malah merasa nggak ingat apa-apa setelah baca e-book? Ternyata, itu bukan cuma perasaanmu saja. Ada penjelasan sains yang menarik di balik kenapa buku fisik tetap punya "magis" yang nggak dimiliki gadget.
Yuk, kita bedah secara ilmiah!
Apa Manfaat dari Membaca Buku Fisik?
Membaca buku fisik memberikan manfaat bagi otak yang disebut dengan Deep Reading. Menurut ahli neurosains Maryanne Wolf, otak manusia sebenarnya tidak terlahir untuk membaca, melainkan beradaptasi.
Saat membaca di kertas, otak melakukan pemetaan spasial. Kamu tidak hanya membaca teks, tapi otak merekam secara taktil (sentuhan) di mana informasi itu berada (misalnya: di halaman kiri, bagian bawah). Hal ini menciptakan "jangkar memori" yang lebih kuat dibandingkan layar digital yang bersifat ephemeral atau tidak berwujud tetap.
Apakah Lebih Baik Membaca Buku Fisik atau Digital? (The Science of Focus)
Saat menatap layar, otak kita secara otomatis masuk ke mode scanning karena terbiasa dengan pola media sosial yang cepat. Sebaliknya, buku fisik memicu kondisi kognitif yang tenang. Selain itu, ada masalah Cahaya Biru (Blue Light). Layar gadget memancarkan spektrum cahaya yang menekan produksi melatonin (hormon tidur), sedangkan buku cetak tidak. Jadi, membaca buku fisik sebelum tidur secara ilmiah membantu kualitas tidurmu tetap terjaga.
Apa Saja Kelebihan Buku Fisik? (Chemistry & Sensorial)
Buku fisik menawarkan pengalaman sensorik yang memicu kerja otak lebih maksimal:
- Kertas mengandung senyawa kimia bernama Lignin. Saat lignin meluruh, ia melepaskan senyawa organik yang mudah menguap (volatile organic compounds) yang aromanya mirip vanila. Aroma ini langsung menuju Sistem Limbik di otak, yaitu area yang mengelola emosi dan memori jangka panjang.
- Saat tanganmu merasakan sisa halaman yang menipis di sebelah kanan, otak menerima sinyal progres yang nyata. Ini memberikan rasa puas secara psikologis (Sense of Accomplishment) yang melepaskan Dopamin.
Mana yang Harus Kamu Pilih?
Digital memang menang di sisi kepraktisan (bisa bawa ribuan buku dalam satu tab), tapi buku fisik menang di sisi kesehatan mental dan kedalaman berpikir. Untuk kamu yang ingin melakukan digital detox dan memberikan "istirahat" bagi otak yang kelelahan, buku fisik adalah investasi terbaik.
Sebagai bagian dari ekosistem literasi, Gramedia terus mendukung hadirnya ruang baca alternatif yang mendekatkan buku dengan keseharian. Yuk, tetap terhubung dengan dunia literasi dan kepenulisan bersama Gramedia Writers and Readers Forum melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.