Quiet Quitting VS Loud Quitting, Dua Fenomena yang Muncul dari Tekanan Kerja

28 May 2026
Quiet Quitting VS Loud Quitting, Dua Fenomena yang Muncul dari Tekanan Kerja
Tekanan kerja yang menumpuk bisa berdampak pada kesehatan mental.

#CareerSpotlight — Grameds, banyak orang menganggap bertahan diam-diam di pekerjaan yang melelahkan sebagai hal biasa. Namun sekarang, semakin banyak pekerja mulai berani menunjukkan rasa lelah, menjaga batas, bahkan terbuka menyuarakan ketidaknyamanan mereka terhadap lingkungan kerja.

Perubahan ini kemudian melahirkan istilah quiet quitting dan loud quitting yang ramai dibicarakan di media sosial. Keduanya sama-sama muncul dari tekanan kerja, tetapi memiliki cara yang berbeda dalam meresponsnya.


Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting bukan berarti resign atau benar-benar berhenti bekerja. Fenomena ini menggambarkan seseorang yang tetap menjalani pekerjaannya karena masih membutuhkan penghasilan, tetapi memilih untuk tidak bekerja melebihi tanggung jawab utama mereka.

Biasanya, orang yang menerapkan quiet quitting mulai menjaga batas agar pekerjaan tidak menguras terlalu banyak energi, waktu, maupun kehidupan pribadi. Mereka tetap bekerja secara profesional, tetapi tidak lagi merasa harus selalu lembur, terus tersedia di luar jam kerja, atau memberikan usaha berlebihan demi pekerjaan.


Apa Itu Loud Quitting?

Berbeda dengan quiet quitting, loud quitting merujuk pada seseorang yang secara terbuka menunjukkan ketidakpuasan terhadap pekerjaan atau lingkungan kerjanya.

Fenomena ini biasanya terlihat ketika seseorang secara terang-terangan mengungkapkan rasa kecewa terhadap sistem kerja, atasan, budaya perusahaan, hingga alasan mereka memilih resign atau meninggalkan pekerjaan tersebut.

Di media sosial, loud quitting sering muncul dalam bentuk video, unggahan, atau cerita tentang pengalaman negatif selama bekerja.

Bagi sebagian orang, hal ini dianggap sebagai bentuk keberanian untuk menyuarakan pengalaman kerja yang tidak sehat. Namun di sisi lain, loud quitting juga sering memunculkan perdebatan karena dianggap terlalu terbuka atau berisiko memengaruhi citra profesional seseorang.


Kenapa Kesehatan Mental Mulai Jadi Perhatian di Dunia Kerja?

Semakin banyak pekerja mulai menyadari bahwa kesehatan mental memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hidup dan pekerjaan seseorang. Tekanan kerja yang tinggi, tuntutan untuk terus produktif, hingga budaya kerja yang kurang sehat membuat banyak orang mulai merasa mudah lelah dan kehilangan motivasi.

Tidak sedikit pekerja yang mulai mengalami:

  • Stres akibat pekerjaan berlebihan
  • Sulit membagi waktu kerja dan kehidupan pribadi
  • Tekanan untuk selalu terlihat produktif
  • Rasa cemas terhadap pekerjaan
  • Kehilangan waktu istirahat dan relasi sosial

Karena itu, banyak orang mulai lebih memperhatikan work-life balance, waktu istirahat, dan lingkungan kerja yang sehat. Perusahaan juga mulai menyadari bahwa produktivitas tidak selalu berarti bekerja tanpa henti.


Pentingnya Menentukan Batas yang Sehat dalam Pekerjaan

Pada akhirnya, setiap orang memiliki kapasitas dan cara berbeda dalam menghadapi pekerjaan. Karena itu, menentukan batas yang sehat menjadi hal penting agar pekerjaan tidak mengambil seluruh energi dan kehidupan pribadi seseorang.

Menentukan batas bukan berarti tidak profesional atau tidak bertanggung jawab. Justru, menjaga waktu istirahat, memahami kapasitas diri, dan memiliki kehidupan di luar pekerjaan dapat membantu seseorang bekerja dengan lebih sehat dan seimbang.

Grameds, quiet quitting dan loud quitting menunjukkan bahwa cara pandang terhadap dunia kerja terus berubah. Namun di tengah perubahan tersebut, menjaga kesehatan mental dan memahami batas diri tetap menjadi hal yang penting untuk diperhatikan.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.