#LiterasiAsik - Kamu pasti relate di era digital saat ini, akses bacaan memang terasa makin mudah bagi setiap kalangan. Tinggal satu klik, berbagai konten bisa langsung dinikmati. Namun, di balik kemudahan itu, peredaran karya bajakan baik buku fisik maupun digital juga ikut meningkat. Banyak orang mungkin menganggap membaca karya bajakan sebagai hal sepele. Padahal, dampaknya jauh lebih besar dari yang terlihat di permukaan.
Lewat salah satu unggahan edukatif di Instagram @gwrf.id, pembaca diajak untuk kembali melihat alasan mengapa membaca karya bajakan sebaiknya tidak dianggap sebagai pilihan yang biasa saja.
Kualitas Bacaan Tidak Selalu Bisa Diandalkan
Kamu pernah merasa kurang nyaman saat membaca karena cetakan buram atau halaman yang tidak lengkap? Hal seperti ini sering ditemui pada karya bajakan. Tata letaknya kerap berantakan, kualitas cetaknya rendah, bahkan isinya bisa saja tidak utuh.
Padahal, di balik sebuah buku yang tampak sederhana, ada proses panjang yang melibatkan banyak pihak mulai dari penulis, editor, ilustrator, hingga penerbit. Karya bajakan melewati seluruh proses tersebut, sehingga pengalaman membaca yang kamu dapatkan pun tidak sepenuhnya mencerminkan kualitas karya aslinya.
Di Balik Satu Buku, Ada Banyak Orang yang Bekerja
Setiap karya lahir dari kerja kolektif. Dengan memilih membaca karya asli, kamu ikut menghargai jerih payah para kreator yang terlibat di dalamnya. Sebaliknya, karya bajakan justru merugikan mereka karena hak yang seharusnya diterima menjadi terabaikan.
Dukungan terhadap karya legal juga berarti ikut menjaga keberlangsungan industri literasi dan kreatif di Indonesia agar tetap hidup dan berkembang.
Karya Bajakan Bukan Hanya Soal Etika, Tapi Juga Hukum
Selain berdampak pada kualitas dan keberlangsungan industri, karya bajakan juga memiliki konsekuensi hukum. Dalam unggahan @gwrf.id, disebutkan bahwa pembajakan melanggar Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, yang dapat dikenai sanksi pidana maupun denda.
Artinya, membaca atau menyebarkan karya bajakan bukan sekadar soal pilihan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan kepatuhan terhadap hukum yang berlaku.
Literasi yang Sehat Dimulai dari Pilihan Kecil
Literasi yang sehat tidak hanya tentang seberapa banyak kita membaca, tetapi juga tentang bagaimana kita membaca. Dengan memilih karya asli, kamu ikut berkontribusi dalam menciptakan ekosistem literasi yang lebih adil, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Edukasi yang dibagikan melalui Instagram @gwrf.id menjadi pengingat bahwa pilihan yang terlihat kecil seperti memilih bacaan yang legal bisa membawa dampak besar bagi masa depan dunia literasi.
Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.